
Malam hari, juragan Baron benar-benar tak merokok, karena Wulan terus mengawasi suaminya itu.
Tapi dia harus siap menjadi sasaran empuk dari suaminya itu, seperti saat ini, juragan Baron sedang menikmati mainan miliknya.
"hentikan mas, ibu telpon," kata Wulan yang mencoba menghentikan suaminya, tapi bukannya berhenti, juragan Baron malah mengigit benda kenyal itu
"ah sakit..." kata Wulan mencubit hidung Suaminya itu.
"mama, aku sudah selesai belajar," kata Ryan yang keluar dengan membawa buku miliknya yang berisi tugas.
"iya kak," jawab juragan Baron yang lengah dan membuat istrinya itu kabur untuk menjawab telpon.
sedang juragan Baron duduk bersama putranya, ya dia sedikit menahan ngilu karena adiknya tersenggol oleh putranya itu.
"ayah itu mama mau kemana?" tanya Ryan duduk menunjukkan hasil dia belajar
"oh itu, mama dapat telpon dari nenek, sepertinya kita akan kesana untuk melihat nenek, apa tuan mau ikut?" tanya juragan Baron.
"tentu saja ayah,"
benar saja mereka harus ke rumah ibu pawoh karena Dikin kembali datang dan tak mau pergi.
Bahkan pria itu tak mau pulang meski Bu pawoh sudah bilang jika putri dan menantunya mau datang
Dikin tampak tenang di ruang tamu karena dia memang benar-benar ingin menikahi Bu pawoh tak peduli apapun yang akan di katakan oleh juragan Baron dan Wulan nantinya.
Mobil juragan Baron datang dan turunlah Wulan dan Ryan,bahkan bocah itu masuk terlebih dahulu dan kaget saat melihat ada pria ading di rumah neneknya.
"mama ada tamu," kata Ryan memeluk Wulan.
"wah tamu agung rupanya, bagaimana bisa anak buah juragan Sukoco yang kemarin lalu masih membantu memusuhiku, datang ke rumah mertua ku dan malam-malam begini,anda tau kan jika ini rumah seorang janda," kata juragan Baron.
"memang kenapa jika ini rumah seorang janda, setidaknya bukan rumah istri orang,dan aku ke sini ingin menyampaikan keinginan ku untuk menikahi ibu pawoh," kata pak Dikin dengan tegas.
__ADS_1
"mau menikahi ibu ada syaratnya, terutama kamu harus berhenti dari juragan Sukoco dan membantu ibu mengurus semua usaha dan sawahnya, dan jika masih berurusan dengan juragan Sukoco, jangan harap aku mengizinkan kalian menikah," kata Wulan tegas.
"aku tau itu, makanya aku tadi sudah pamitan dan besok baru memutuskan untuk mundur segera, karena aku tak ingin membuat mu tak nyaman karena diriku," kata pak Dikin.
"baiklah,istriku sudah setuju, dan jika pak Dikin ternyata masih berulah,naja siap-siap aku yang akan membuat mu menyesal selamanya," kata juragan Baron tersenyum tapi perkataannya penuh dengan ancaman.
Akhirnya malam itu Bu pawoh dan pak Dikin pun mendapatkan restu, dan juragan Baron langsung menghubungi Mudin di desa untuk mengurus surat-surat yang di butuhkan.
Terlebih waktu baik untuk pernikahan juga sisa beberapa hari, tentu saja dengan kekuatan uang semuanya mudah.
Bu pawoh dan pak Dikin sepakat untuk menikah di KUA tanpa mengadakan pesta, jika ada yang datang tentu saja akan di terima.
Dan juragan Baron meminta beberapa orang mengawasi pak Dikin.
Setelah semua urusan tadi, mereka jadi menginap di rumah Bu pawoh karena terlalu malam, dan menghindari pria yang belum sah itu menginap juga dan membuat malu.
Juragan Baron sudah membekap mulut istrinya agar tak bersuara karena malam ini dia benar-benar tak bisa menahannya lagi.
Setelah selesai, Wulan merasa jika stamina suaminya menggila karena tak merokok.
Pukul tiga pagi, Wulan kembali terbangun karena ulah suaminya yang lagi-lagi tak bisa menunggu besok lagi.
setelah memastikan suaminya tertidur lelap, dia bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi, dia mendengar suara yang tak asing dari kamar ibunya.
Untungnya pintu itu tidak terkunci jadi dia bisa mengintip kedalam rumah dan betapa terkejutnya dia melihat ibunya dan pak Dikin sedang bergumul.
Dia sebisa mungkin tak bersuara dan memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bu pawoh dan pak Dikin kaget saat mendengar suara air di kamar mandi.
saat Wulan kembali ke kamarnya dia melihat ibunya keluar dengan sedikit berantakan dan berkeringat.
"ada apa ibu,kok tumben sudah bangun dan kok keringetan memang kipas ibu mati?" tanya Wulan heran.
__ADS_1
"tidak kok nak, cuma males menyalakan saja, kamu kok sudah mandi jam segini," tanya Bu pawoh
"ah iya bu, ya ibu mengerti lah, dan maaf ya kalau suaraku menganggu," kata Wulan yang membuat Bu pawoh terkejut.
"tidak kok," jawab wanita itu.
akhirnya Wulan masuk kembali ke kamarnya,dan terlihat juragan Baron masih lelap tidur.
Sedang untuk Ryan,bocah itu tidur di kamar miliknya sendiri, dan memang paling sulit membangunkan bocah itu.
Akhirnya Wulan memutuskan untuk belanja kebutuhan untuk kenduri dan juga membuat makanan Frozen food.
setelah wanita itu pergi membawa mobil suaminya, pak Dikin yang masih bersembunyi di kamar Bu pawoh melanjutkan aksinya ya.
Toh sebentar lagi mereka juga menikah,jadi tak perlu bingung mau ketahuan juga.
pukul setengah enam pagi,Ryan bangun dan pindah kamar ke kamar ibunya.
Juragan Baron terbangun karena putranya itu, "loh kak kok malah mapan tidur lagi, kenapa tidak mandi,kan waktunya sekolah," suara serak juragan Baron yang baru bangun tidur.
"mama masih belanja, dan bebek belum bangun," kata Ryan.
Akhirnya juragan Baron yang memandikan dan menyiapkan putranya itu.
Dia ingat perkataan dari Mak Jum kemarin,jadi dia membuat air tajin dan di campur madu.
Kebetulan di rumah ibu mertuanya ada semua bahannya, dan setelah memastikan nasi matang.
dia menyuapi putranya, dan Bu pawoh tampak malu terburu-buru ke kamar mandi dan bertepatan dengan istrinya itu juga pulang.
"ah maaf ya mas, aku tadi harus antri giling adonan dan mengambil barang, jadi kesiangan pulangnya," kata Wulan.
"tak masalah, Ryan sedang sarapan pakai nugget juga, tapi dek ibu memang bangunnya siang ya?" tanya juragan Baron penasaran.
__ADS_1
Wulan hanya tersenyum dan mengangguk, tak mungkin dia bilang jika ibunya kesiangan karena main gila dengan calon suaminya.
Bisa marah besar suaminya mengetahui itu, di tambah di sana juga ada putranya.