Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
bermasalah


__ADS_3

Di warung tempat Mak tun berjualan, cukup sepi karena siang itu hujan, Ajeng hanya duduk santai saja di kursi panjang di depan warung.


"apa yang terjadi nduk, kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Mak tun.


"apa sih Bu,aku tak memikirkan apapun," kata wanita itu.


"benarkah, tapi kerutan di wajah mu yang menjawab Semuanya," kata Mak tun tersenyum.


"jangan mengatakan apapun yang aneh, aku masih berusia tiga puluh tahun, kenapa ibu bilang seperti itu," kesal Ajeng.


"habis di usia mu yang sudah tak muda lagi, kamu belum mau menikah, memdng tak ingin punya anak san suami seperti orang-orang?" tanya Mak tun.


"tentu saja mau, tapi aku harus bagaimana ibu, jika semua orang bilang dku kesayangan juragan Sukoco, bahkan kekasih ku saja sudah meninggalkan diriku," kata Ajeng lirih.


"apa... kenapa bisa ada gosip seperti itu, hanya karena kamu sering mengantarkan gorengan kesana," tanya Mak tun.


"iya Mak, tapi sudahlah aku tak mau bahas lagi, tapi aku baru sadar jika sekarang juragan Baron ini sangat tampan ternyata," kata Ajeng.


mendengar perkataan putrinya membuat Mak tun kaget, kenapa tiba-tiba Ajeng jadi mengakui ketampanan juragan Baron.


"jangan mengatakan yang tidak-tidak, kamu tau kan jika pria itu suami kakak sepupu ku, dan di tambah pria itu sangat mencintai istrinya," kata Mak tun.


"memang apa Bu, ada yang salah?" tanya Ajeng yang merasa mengagumi saja.


"ya tidak, takutnya kamu mencoba untuk merayunya,"


"tentu saya tidak, tapi kalau dia duda sih boleh di pertimbangkan," kata Ajeng yang langsung di pukul oleh Mak tun.


karena dia tak mau jika anaknya itu membuat kesalahan yang pernah dia lakukan.


Yang malah membuatnya menyesal sampai saat ini, tapi dia berusaha untuk melupakan segalanya yang sudah terjadi.


"aku juga tidak gila Bu, sudahlah aku mau ambil kopi buat santai," kata Ajeng.


Setelah dua jam hujan turun terus menerus dengan cukup deras, hujan pun berhenti dan suasana menjadi sangat segar.


Ryan sudah siap untuk berangkat mengaji, tadi juragan Baron yang menyiapkan putranya itu.

__ADS_1


Sedang istrimu itu masih tidur karena kelelahan sepertinya, dia sendiri bukan suami yang tak pengertian.


jadi selama dia bisa membantu pasti dia akan melakukan pekerjaan rumah


"assalamualaikum juragan, ini laporan muat hari ini, dan besok kita sudah mulai panen untuk tiga sawah milik anda yang di tanami tebu, apa ingat," tanya pak Sardi yang datang dengan Wawan.


"seperti biasa pak, anda atur karena anda adalah orang kepercayaan ku, dan Wawan besok je pare karena kita panen kentang dan wortel, dan besoknya lagi ada beberapa ladang ubi juga," kata juragan Baron.


"siap juragan, tapi kok tumben gak ada yang buatin kopi?" tanya Wawan yang tak melihat istri bosnya.


"dia sedang istirahat, minum yang ada," kata juragan Baron santai sambil melihat semua tulisan itu.


Setelah semuanya beres, akhirnya mereka berdua pun pamit, dan juragan Baron kembali ke kamarnya.


Ternyata saat dia masuk, Wulan sudah bangun tapi masih tiduran di ranjang, "sayang..." panggil pria itu.


dia langsung tidur di pelukan istrinya itu, dan Wulan mengecup kening suaminya.


"mas kok gak dengar suara Ryan,"


"dia sudah berangkat ngaji, kamu mau teh hangat?" tawar juragan Baron dengan manja.


"Hem mau lagi," tanya juragan Baron.


"tidak usah kenyang, sudah aku mau ke kamar mandi dan menyiapkan makan malam," kata Wulan mendorong suaminya agar melepaskan dirinya.


"enggak mau, aku mau bersamamu sayang," kata juragan Baron yang membuat kesal.


"terus nanti kita makan malam apa jika mas terus mengurungku di sini,"


"kita bisa beli jadi tak usah sedih, kita nikmati saja waktu bersama," bisik juragan Baron yang kembali mulai mencumbu mesra istrinya itu.


dan akhirnya mereka juga benar-benar mabuk cinta, dan setelah putranya pulang dari mengaji


Mereka bertiga pun bersiap untuk makan di luar dan tak lupa mengajak dua orang tua mereka juga.


sedang di rumah Ajeng, ya tadi mereka tutup lebih awal, karena sepi dan juga suasana yang tak mendukung.

__ADS_1


Saat ini dia sedang santai di rumah karena tak punya pekerjaan lain, terlebih dia juga tak punya kekasih.


Sedang di rumah juragan Sukoco, pria itu sedang marah besar karena pak Dikin benar-benar tak mau menggubrisnya lagi.


Bagaimana tidak, pria itu sekarang tak mau menerima perintah atau bahkan menerima sekedar telpon dari juragan Sukoco.


"Dikin sialan, berani-beraninya dia bersikap seperti ini padaku," gumamnya.


Dia kesal bukan karena apa, sebab hanya pria itu yang tau seleranya, dan sekarang dia tak punya lagi pria yang bisa memberikannya gadis cantik, terlebih sekarang pria itu hanya sibuk dengan istrinya.


"suhad, apa kamu tak menerima sedikit kabar dari Dikin, kenapa pria sialan itu malah memblokir nomor ponsel ku," marah juragan Sukoco.


"saya juga tak tau juragan, tapi yang pasti setelah mulai merencanakan rencana untuk mendekati Bu pawoh ini, dia memang berubah, seperti Bu pawoh ini mempunyai sesuatu yang membuat Dikin tergila-gila," kata suhad.


"memang apa yang wanita tua itu miliki, sudahlah tolong panggilkan Ajeng, kepala ku pusing saat ini," kata juragan Sukoco.


suhad langsung menelpon Ajeng,dan mendapatkan panggilan dari bos besar, Ajeng langsung bersiap pergi.


Dia melakukan ini demi dirinya sendiri, toh dia juga butuh uang untuk jajan, selagi bisa kenapa tak di pergunakan.


Sedang di warung sate langganan dari Wulan dan Bu pawoh, mereka sekeluarga sedang bercanda tawa.


Bahkan pak Dikin kini sudah benar-benar di anggap keluarga, setelah makan mereka lanjut ke alun-alun untuk menikmati suasana kota saat malam hari


Farid yang sedang mengantarkan kakaknya dan keponakannya bermain di tempat yang sama, tak menyangka akan berpapasan seperti itu


Dia kaget saat melihat ada keluarga wulan, dia masih merasa belum ikhlas melihat wanita itu menikah dengan juragan Baron yang dia tau adalah pria yang buruk.


tapi dia butuh bukti jika ingin menujukkan jika pria itu benar-benar buruk.


"kamu sedang memikirkan apa Farid?"


"tidak ada mbak, aku hanya ingin mencari rokok sebentar ya," pamit pemuda itu.


di sisi lain, Lina tau jika adiknya itu tdk nyaman, terlebih dia tadi melihat ada Wulan dan suaminya.


Di tempat lain, kini ajeng sudah bekerja sampingan lagu, dia hanya perlu melayani pria tua itu.

__ADS_1


Dan nanti dia akan mendapatkan banyak uang darinya.


__ADS_2