Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
lagi kesukaan


__ADS_3

Aina memilih melanjutkan kegiatannya, tak lama Raisa dan Raina terdengar sudah pulang dari sekolah.


dia pun melihat jam dan ternyata sudah cukup siang, "ternyata sudah jam dua, kok aku mengantuk lagi ya, padahal baru bangun beberapa saat yang lalu." gumam gadis itu.


Tak lama Raisa pun menghampirinya, Gadis muda itu langsung ikut Duduk di samping Aina, sambil memberikan es kopi pada Aina.


"Lho Mbak sedang apa disini,"


"Biasa Dek, sedang membuat novel seperti biasa, kamu baru pulang, dan tak ada kegiatan ekstrakurikuler hari ini, tumben," kata Aina yang ramah pada adiknya itu.


"Sebenarnya ada mbak, tapi gurunya tiba-tiba sibuk, katanya ada keperluan Keluarga jadi dibatalkan, diganti dengan lusa deh,"


"loh... Bukannya guru ekstrakurikuler mu itu Sina kan, ada acara apa ya, ya sudah deh tak usah di pikirkan, Oh ya kalau begitu, kamu ada tugas tidak? apa kamu butuh bantuan? mungkin Mbak bisa bantu," tawar Aina dengan sopan.


"Tidak usah Mbak, aku bisa mengerjakannya sendiri nanti, aku cuma ingin mengajak Mbak membuat rujak manis mau, kebetulan Mangga di atas pohon banyak Mbak,"


"iya juga sih, tapi Meskipun banyak tapi masih mentah Dek, masih sangat asem tuh, bagaimana kalau buat rujak petis saja tapi matengan enak tuh kayaknya," kata Aina.


tanpa diduga Bu pawoh datang dengan membawa cobek lumayan besar.


wanita itu tersenyum, sambil menaruh cobek itu di atas Bayang galar yang tengah ditempati oleh Aina dan Raisa.


"Kebetulan hari ini Mbah uti sudah buat rujak matengan kesukaan semuanya, kalian mau," kata Bu pawoh


"Mau dong Mbah Uti, tapi kurang kerupuk nih, aku belikan kerupuk dulu ya," kata Raisa yang akan bangkit dari tempatnya.


Tiba-tiba mana Wulan datang dengan membawa satu toples besar berisi keripik udang berwarna putih.


"Tidak usah beli, Mama sudah goreng dan bawa kok ini, yuk kita makan bareng-bareng, kan rujaknya pasti enak ini," ajak mama Wulan.


Akhirnya keempat wanita itu menikmati makan siangnya, sambil berbincang saja di halaman belakang.


sedang Raina sudah berangkat ke tempat latihan, untuk mengasah kemampuannya dalam berolahraga.


Di sisi lain, Ryan juga sudah menyelesaikan pekerjaannya bersama juragan Baron.


"Ayah, kita pulang yuk, aku sudah rindu orang-orang yang ada di rumah nih," kata Ryan yang membuat juragan baton geli.


"Halah halah halah halah kamu rindu yang di rumah, atau rindu istrimu cah bagus,"


"Ya begitulah yah, Maklum saja lah, Ayah juga pernah muda kan, aku ini kan juga masih dalam hitungan Manten anyar tau gak," kata Ryan tanpa malu.


"Peh.. peh.. Peh.. Terserah saja lah le, ya sudah kita pulang sekarang, Tapi sebelum itu kita berhenti di toko ujung desa ya," kata juragan Baron naik ke atas motor.


"Memang Ayah mau beli apa di sana, mau belanja sesuatu titipan mama atau Mbah uti?" tanya Ryan heran yang mulai melajukan motornya.

__ADS_1


"Yah, mau beli rokok saja sih, Tapi ingat, jangan bilang mama mu, bisa di rujak bebeg ayah nanti, Karena dia sudah mengancam untuk ayah berhenti merokoK!"


"tapi Aya tetak bandel kan, iya! Itu Kan demi kesehatan Ayah sendiri, kalau aku sih gak peduli ya, aku jadi mama aku biarin kan, mau mati atau sakit juga bukan urusanku," kata Ryan yang langsung terkena pukul di kepala oleh juragan Baron.


"dasar sialan, mulut anak setan lu ye," kesal juragan Baron.


Ryan hanya tertawa mendengar umpatan dari ayahnya itu,"berarti ayah ngatain mama setan dong," kata Ryan membuat juragan Baron panik.


dia tak menyangka juragan Baron akan mengumpat seperti itu. Tapi langsung mati kutu saat di bahas tentang mama Wulan.


Akhirnya juragan Baron pun pulang bersama putranya itu, dan mereka benar-benar berhenti di warung ujung desa, dan tak lupa Ryan membeli rokok kesukaannya untuk di buat stok juga.


Tapi anehnya, saat mereka sampai di rumah, mereka tak menemukan siapapun di rumah.


Tapi saat mereka masuk kedalam, mereka melihat para wanita sedang ada di belakang di halaman belakang.


"Aduh aduh para wanita-wanita cantik ini sedang apa di belakang," kata juragan baron melihat mereka semua.


"Ayah sudah pulang?" kata Raisa melihat dua pria itu.


"ini mas, cuma sedang main santai, lagi nemenin Aina dan Raisa mengerjakan tugas mereka, dan lagi, mereka juga Sedang membahas tentang beberapa kegiatan yang akan diadakan di desa juga."


"lho Memang mereka jadi panitia, kok Ayah tidak tahu, kamu jadi panitia, Nduk?" tanya juragan Baron heran.


"Oalah, kukira kamu, tapi apa tak masalah, masak anak juragan Baron di suruh minta sumbangan, tapi gak masalah juga, apa kamu yakin kedua bocah ini mengurus dan mengatur acara sebesar itu, ingat ini tingkatannya beda," kata juragan Baron.


"Insya Allah bisa Ayah, karena aku juga akan mengawasi cara kerja semua panitia kok, jadi tenang saja, Insya Allah semuanya berjalan dengan lancar hingga selesai," kata Aina meyakinkan.


"Ya sudah, kalau begitu kalian atur saja, nanti jika butuh dana buat apa apa, kamu harus bilang, dan buat Proposalnya seperti biasa, biar Ayah atau Rian yang akan membantu, untuk biaya, mengerti!" tambah pria itu lagi.


"Siap Ayah, kami pasti akan meminta donasi terbesar dari ayah, tapi asalkan Ayah jangan marah-marah ya nanti," kata Aina dengan tersenyum


"Tentu saja tidak akan marah, kalian minta dua puluh juta pun, pasti ayah kasih, jika proposal kalian bagus, dan uang itu terbukti untuk digunakan dalam kegiatan, ayah tak akan marah, kalian paham kan? seperti biasa,"


"Iya Ayah, kami mengerti, dan sekarang kami juga punya donat terbaru, yaitu putra Anda, Mas Ryan, yang sekarang juga pasti akan di mintai dana cukup besar dalam partisipasi acara itu."


"Halah halah halah halah halah ini belum jalan juga kok udah ngomongin uang, kamu tuh ya dek ya kayaknya yakin banget jika acara ini tak kacau,"


"yakin dong, masak anda tak percaya dengan kemampuan istri anda ini, Memang mas nggak mau jadi donatur? nggak kasihan sama kami? aku sih, kasihan lho sama kanak-kanak, kalau harus bekerja keras, tanpa adanya konsumsi atau apapun itu. bahkan satu dus air, kasihan sekali mereka," kata Aina di buat-buat.


"Ya Allah Dek, Mas itu cuma bercanda, Kamu mau minta dana berapapun, Pasti Mas kasih, nggak usah kamu ngomong begitu, tahu nggak!" ketus Ryan yang menjadi kesal.


Aina hanya tersenyum, saat tiba-tiba suaminya itu terlihat Ngambek. dia tak menyangkal yang jadi sensitif ini.


"Lah kok ngambek, ini kan aku cuma bercanda Mas, jangan begitu dong ..." kata Aina menahan tangan suaminya itu.

__ADS_1


"Yo wis terserah, sekarang aku mau masuk dulu, mau tidur ngantuk, karena belum sempat istirahat dari semalam," kata Ryan yang melepaskan tangan istrinya itu.


"Iya iya istirahat dulu ya, aku juga akan pergi dengan Raisa kok sebentar lagi, jadi mas bisa tidur," kata Aina.


Ryan langsung berhenti dan berbalik ke arah istrinya itu, karena Aiba pamit dadakan.


"Mau ke mana, Kok nggak bilang-bilang dulu dari tadi, kalian mau ke mana sih jawab," kata Ryan.


"Ini lho mas,cuma mau nganter Raisa beli buku buat pelajaran, Tak usah lah heboh dan panik begitu, mas mau nganter, apa nggak lelah?" tanya Aina.


"Kalian mau beli buku di mana? Jangan sampai jauh-jauh, ingat, kamu juga lelah lho, dari kemarin, belum istirahat,"


"memang siapa yang membuat ku lelah, aku juga sudah istirahat kok tadi, sudah tidur jadi sekarang sudah segar lagi, jadi nggak masalah lah kan Mas, kami juga ke toko buku biasa langganan kok," jawab Aina yang membuat semua orang menahan senyum.


"Ya sudah, kalau begitu, Aku masuk dulu, dan kamu ikut sebentar dek, ikut masuk ke kamar tidur, karena ada yang ingin aku katakan, mengerti!" kata Ryan yang menarik tangan Aina.


"Tunggu dulu, adik yang Nana nih, siapa dulu Mas panggil, aku apa Raisa," kata Aina memastikan.


"Menurutmu," ketus Ryan yang membuat Aina mengikutinya.


wanita itu hanya bisa Tertawa mendengar jawaban dari suaminya, dia pun mengangguk dan membereskan semua barang miliknya.


Kemudian dia masuk mengikuti kedalam kamar, tiba-tiba tanpa bicara ternyata Ryan langsung mengunci pintu kamar itu.


"loh mas.... kok dikunci sih, kenapa jangan macem-macem lo ya, orang-orang Ada di rumah semua," panik Aina.


"Kenapa kamu sepanik itu, tenang saja Mas gak ngapa-ngapain kok, oh ya uang cash di dompetmu, habis atau belum dek, apa masih banyak." tanya Ryan sambil mengambil dompet istrinya itu.


"Belum kok mas, masih ada cukup banyak, sekitar satu setengah jutaan. Kenapa mas?"tanya Aina heran.


"Tidak ada, mas cuma tanya," jawab Ryan.


tanpa diduga, pria itu memasukkan uang yang ada di dompetnya, ke dalam dompet istrinya.


Aina benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.


padahal Uang belanja dan uang jajannya juga sudah dipisahkan. tapi kenapa, Ryan juga masih sering melakukan hal itu.


"Mas, Uang belanjaku sudah banyak, nggak usah itu buat pegangan Mas aja."


"Nggak apa-apa ini buat jajan nanti sama Raisa, sudah nanti bawa motor Raisa saja, ya karena motormu sepertinya bermasalah sedikit di olinya,kamu lupa lagi kan buat ganti oli?"


"Iya Mas, kan sekarang motor itu di pakai untuk antar jemput Bima, aku mengerti ya sudah aku pamit dulu ya, Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam ... Hati-hati ya," kata Ryan yang melihat istrinya itu pergi

__ADS_1


__ADS_2