
Pak Dikin sedang duduk di teras masjid sambil merokok, ya karena sekolah cucunya itu nendng dekat dengan masjid.
Ryan dan teman-temannya keluar dari kelas, bocah itu tampak celingukan mencari mobil ibunya.
tapi saat melihat ada motor gl max, dia langsung lari ke masjid karena itu adalah sepeda motor kakek sambungnya.
"Mbah," panggil Ryan.
"halo ganteng, bagaimana sekolahnya?" tanya pak Dikin yang bangun dan menginjak rokoknya.
"seperti biasa, tapi kenapa Mbah yang jemput, mama dimana?" tanya Ryan yang selalu di jemput oleh Wulan selama ini.
"ada di rumah Mbah uti, ayo kita pulang," ajak pak Dikin.
"boleh beli dadar gulung dulu, aku mau beli," kata bocah itu memohon.
"baiklah, beli yang banyak karena di rumah ada sepupu ibu mu juga," jara pak Dikin yang memberikan uang lima puluh ribu.
dengan senang hati, Ryan membeli makanan itu, dan setelah menunggu, akhirnya keduanya pulang.
Ryan yang memdng dari kecil tak pernah di sayangi oleh keluarga dari ayahnya, kini mendapatkan semua cinta dari keluarga ibunya
bahkan Ryan lebih mengenal juragan Baron sebagai ayahnya, di banding ayah kandungnya,begitu pun dengan kakek neneknya.
"loh kita mau beli apa Mbah?" tanya Ryan saat melihat motor pak Dikin berhenti di toko kelontong.
"sebentar, ada titipan dari Mbah uti dan mama mu,beh bisa wasallam ini kalau gak di belikan," kata pak Dikin yang membuat Ryan tertawa.
Ryan masih duduk di jok motor milik kakek sambungnya itu, saat seorang wanita yang mengandeng seorang gadis kecil yang usianya baru tiga sampai empat tahun.
"wah ada siapa ini, ternyata ada Ryan,kamu ke sini saja siapa?" tanya wanita itu yang membuat Ryan kaget.
"Ryan datang bersama Mbah," jawab bocah itu menunduk karena takut.
Dia masih bisa mengingat bagaimana penolakan dan juga sikap kasar yang dia terima saat kecil.
"bagaimana ibu mu,apa dia masih dengan suaminya atau sudah menggoda pria lain," kata ibu Farhan yang memang sangat membenci Wulan.
Ryan hanya menunduk takut, dia tak mengerti dengan ucapan itu karena baginya, hubungan mama dan ayahnya baik-baik saja.
__ADS_1
"hei apa yang kamu tanyakan pada cucu ku, kenapa mulut kasar mu itu Raj pernah berubah, jangan sampai aku menampar mu karena mengatakan hal aneh pada cucu ku," marah pak Dikin yang membuat wanita tua itu terkejut.
"wah ku kira berita itu tak benar, sepertinya berita itu benar ya, mantan besan ku itu menikah dengan andk buah juragan Sukoco yang terkenal kasar, memang pantas wanita yang tak tau diri menikah dengan pria seperti mu," kata ibu dari Farhan.
"jaga bicaramu, sudahlah tak berguna bicara dengan orang yang tak punya otak," kata pak Dikin yang langsung menaiki motornya dan memilih pergi.
karena dia tak tahan lagi jika harus melihat cucunya itu di perlakukan tak baik oleh wanita jahat itu.
Sedang Ryan memeluk pak Dikin erat, dia tak menyangka akan bertemu lagi dengan nenek dari pihak ayah yang dulu sangat jahat.
Saat sampai di rumah, Ryan tampak begitu tenang dan biasa,bahkan pak Dikin merasa kasihan pada Ryan.
"mama... Lihat kami bawa apa,"
"wah kok beli kerupuknya banyak sekali," kata Wulan.
"biar puas, ya sudah Ryan masuk dan mau mandi dulu ya," pamit bocah itu
Sedang Bu pawoh melihat suaminya yang terlihat kesal, "ada apa dengan mu mas, kenapa memasang wajah masam itu," tanya Bu pawoh yang menaruh kopi di depan suaminya itu
"bagaimana tidak kesal, aku bertemu mantan besan mu, dan wanita sialan itu bisa-bisanya dia menghina cucunya sendiri, padahal Ryan adalah anak putranya," kata pak Dikin.
Wulan yang sedang mengipas buah langsung menaruh pisau dan lari ke kamar yang di gunakan saat di rumah ibunya.
Bocah itu langsung memrluk ibunya erat, dia terus menerus terisak, Ryan hanya seorang anak kecil yang tak berdosa.
"jangan sedih, Ryan sekarang punya mama, ayah, Mbah uti dan Mbah kung kan," kata Wulan.
"tapi Ryan sedih, nenek bilang jika ibu itu suka goda pria lain," kata Ryan.
"jangan dengarkan ya nak, Ryan yang tau mama dan ayah, dan mama harap Ryan bisa kuat sekarang ya nak," kata Wulan yang kembali memeluk putranya itu.
Bu pawoh mendengarkan percakapan itu pun merasa haru, ternyata putrinya itu benar-benar sudah menjadi seorang ibu yang kuat
pak Dikin dan Ajeng penasaran saat melihat Bu pawoh ke ruang tamu," jadi bagaimana dengan Ryan dan Wulan?" tanya pria itu.
"sudah tak apa-apa, Ryan hanya sedih dan mamanya sudah berhasil menenangkan Putranya itu, sudah lanjut lagi kupas buahnya," kata Bu pawoh.
Ryan keluar dengan membawa buku pelajarannya dan minta bantuan dari pak Dikin.
__ADS_1
Sedang para tiga wanita itu menikmati rujak yang mereka buat, mereka tampak sangat menikmatinya.
Tiba-tiba ponsel milik Wulan berdering, ternyata itu telpon dari suaminya, "assalamualaikum mas,"
"wa'alaikumussalam dek, sayang tolong ke gudang ya bawa uang lima belas juta," kata juragan Baron.
"loh kenapa mas, ya baiklah aku akan kesana untuk mengantarkan uangnya, sekarang," tanya Wulan lagi.
"iya, bisa tidak, jika sibuk biar nanti pak Pardi yang ambil di rumah, bagaimana," tawar juragan Baron.
"boleh saja, tapi aku sedang di rumah ibu,jadi minta pak Pardi untuk datang, dan mengambil uangnya,"
"baiklah sayang, nanti aku jemput saat pulang ya, atau mau sekalian ikut ke gudang juga?"
"boleh deh, tapi gak akan ganggu kan?" tanya Wulan yang tak enak.
"tidak masalah," jawab pria itu .
untungnya yang membuat rujak sudah selesai di makan, jadi saat ada mobil datang dari gudang milik juragan Baron, Wulan sudah siap ikut.
"Ryan mau ikut mama tidak ke gudang ayah,"panggil wanita itu.
"aku mau di sini saja," jawab Ryan yang asik dengan komputer yang ada di kamarnya.
"sudah kamu pergibsana, biar tuan sama ini dan bapak"
"baiklah titip Ryan ya Bu," pamit Wulan yang ternyata yang menjemputnya adalah suaminya sendiri.
Bahkan juragan Baron langsung mencium bibir istrinya itu, "katanya pak Sardi yang jemput?"
"ah aku tak percaya dengan siapapun, ya sudah kita ke gudang karena ada urusan penting, dan kamu tak bawa motor dek?"
"enggak sayang, tadi aku bareng mbak Ajeng, terus saat kamu telpon dia pamit pulang duluan," katanya dengan santai.
"widih kesambet setan di mana tuh orang, tumben-tumbenan tapi apa kamu tak pernah dengar jika saudara mu itu memiliki pekerjaan paruh waktu yang cukup membuat orang bisa membencinya," kata juragan Baron yang tak mau istrinya ikut terseret nantinya.
"mending apa mas? kenapa membuat ku penasaran ih,"
"anak-anak bilang dia sering di panggil oleh juragan Sukoco ke rumahnya, sepertinya dia menjadi wanita panggilan, tapi entah itu gebar atau tidak, tapi yang pasti aku berharap kamu bisa memilah saja,"
__ADS_1
Wulan terdiam, sekarang dia tau kenapa Ajeng meminta resep jamu rapet, ternyata untuk pekerjaannya.
Dia tak bis ikut campur jadi dia hanya perlu berhubungan seperlunya saja seperti keinginan suaminya.