
selama di sekolah, terlihat Aina begitu fokus terlebih sebentar lagi dia harus ujian Akhir sekolah.
Dan untuk Ryan, dia sedang fokus untuk mengurus acara empat puluh hari dari pak Andika, bahkan pria itu sedang ada di pemakaman umum saat ini.
"assalamualaikum om, aku menepati janji ku," kata Ryan yang tampak menaburkan bunga di makam pria itu.
"om tau, sekarang Aina sudah tak terlalu sedih seperti dulu, tapi ya beberapa kali aku masih melihatnya sering menangis diam-diam, om tau jika dulu aku pernah mengatakan hal aneh, ya aku meminta untuk di izinkan menikahi putri om yang masih kecil itu, tapi aku sadar perbedaan umur kamu terlalu jauh, tapi jika memang om tak keberatan, tolong berikan petunjuk untuk ku agar bisa menjaganya sebagai istriku, tentu menunggu dia lulus SMA dulu," kata Ryan yang tersenyum saja.
Ya dia tak keberatan untuk menunggu Aina hingga lulus dari pendidikannya.
setelah mengutarakan perasaannya, dia pun tak lupa untuk memanjatkan doa untuk om Andika.
pukul tiga sore, Ryan sedang berdiri menunggu Aina pulang dari sekolah, gadis itu ternyata datang dengan sedikit pincang.
melihat itu Ryan bergegas menghampirinya dengan panik, "kamu kenapa?" tanya Ryan yang langsung berdiri di depan gadis itu.
"ah ini ya, aku tadi tak sengaja jatuh saat main futsal, ya kan mas tau jika aku suka sekali futsal," kata Aina tersenyum
"kamu itu ceroboh, cepat naik ke punggung ku," kata Ryan yang langsung berjongkok membelakangi Aina.
Dan dengan senang hati Aina naik, "oh ya mas, bukankah sekarang empat puluh hari ayah," tanya Aina yang tiba-tiba sedih.
"mau ke makam om Andika dek,"
"tentu mas, tapi untuk acara tahlilan malam nanti," tanya Aina yang hampir melupakan segalanya.
__ADS_1
"itu urusan ku, karena sekarang semua urusan mu, menjadi urusan ku juga," kata Ryan yang langsung membawa gadis itu ke makam.
Aina pun tak menyangka jika makdn ayahnya sudah di buat begitu bagus, dan sudah ada taburan bunga juga.
"terima kasih mas,"
"apapun untuk ku dek," kata Ryan.
"assalamualaikum ayah... Aina datang ke sini bersama mas Ryan,ayah bisa lihat dari sana kan, Aina sekarang juga punya keluarga lagi, dan yang terpenting, Aina punya mas Ryan yang selalu ada untuk Aina, bahkan dia yang merawat Aina yang kehilangan ayah, apa boleh Aina bersandar seperti ini pada mas Ryan, setelah ayah bertemu ibu di surga," kata Aina yang membuat Ryan mrneluk gadis itu
"mas akan menjaga mu, sampai nafas mas berhenti," kata Ryan yang membuat Aina kembali terisak.
Keduanya pun bahkan berdoa bersama, dan setelah itu ke rumah Aina untuk mempersiapkan acara malam nanti.
Dan tanpa di ketahui Aiba, semua sudah beres karena Ryan memanggil catering dan dengan bantuan pak Karno semuanya lancar.
"sudah mas," jawab pak Karno.
"bagus kalau begitu, Aina kamu mandi dan siap-siap juga ya,"
"inggeh mas," jawab Aina yang selalu menurut pada Ryan.
sedang pria itu masih sibuk mengatur segalanya, karena dia yang menjadi sandaran untuk gadis itu sekarang.
Di rumah juragan Baron, semua sedang sibuk, karena tamu masih berdatangan, tapi bima rewel karena tak bisa bertemu dengan Aina.
__ADS_1
"nana...." tangis bocah itu.
"aduh mbak Aina sedang mengurus empat puluh harian ayahnya, sekarang sama mbak Raisa dulu ya," bujuk gadis itu pada adiknya.
"Iya dek bima,sama kami dulu ya,"saut Raina juga.
ya sekarang sedang ada tamu dari teman-teman Ryan, dan ternyata Ilmi juga ikut datang.
"silahkan di nikmati sajiannya,maaf seadanya," kata mama Wulan.
"ini banyak loh Tante, tapi ya kok tidak melihat Ryan ya," kata Ilmi yang penasaran karena tak melihat batang hidung pemuda itu.
"ciye Ilmi, yang malah fokus mencari juragan muda, tapi aku juga ingin lebih mengenal dekat juragan ryan deng, siapa tau bisa jadi istrinya kan seperti ketiban durian runtuh," kata Bu Citra yang tau jika temannya itu sangat menyukai putra juragan Baron itu.
"ah Ryan ya, dia tadi pamit bilang jika sibuk di rumah Aina," jawab mama Wulan.
mendengar itu, Ilmi langsung kesal dan sangat marah, dia ingat kejadian di pasar tadi pagi.
"sebenarnya saya itu penasaran, bukankah gadis itu tak ada ikatan darah, tapi kenapa terus menempel pada Ryan, dan sepertinya gadis manja itu juga tak tau untuk menempatkan diri ya," kata Ilmi yang memang sangat marah.
"apa yang kamu bicarakan, meski dia tidak memiliki ikatan darah dengan jami, tapi aku sudah menganggapnya sebagai putri angkat ku, jadi jaga ucapan mu itu," marah Bu pawoh yang mendengar perkataan Ilmi.
"tapi itu benar bukan Tante, saya tau jika keluarga ini baik, tapi bukankah itu tak baik untuk Ryan, wanita mana yang akan suka melihat pria yang di sukai memanjakan gadis lain, dan itu bisa menjadi masalah untuknya suatu saat nanti,"
"jaga bicara mu, jangan membuat ku mengatakan hal kasar, dan tolong jangan membuat ku harus mengingatkan di mana batasan mu, hanya karena aku menolong keluarga mu, hingga kamu tak sadar tempat mu," kata juragan Baron yang sudah mengeluarkan ultimatum.
__ADS_1
tentu saja Ilmi pun kicep di buatnya, "dan asal kamu tau Ilmi, Ryan tak pernah tertarik dengan perempuan yang punya hati busuk dan mulut yang tak punya filter seperti mu,"kata Ivan yang makin membuat gadis itu malu.