Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
dalam sujud kita


__ADS_3

Ryan masih di peternakan miliknya, dia sedang santai saja mengawasi para pegawai termasuk Gofur yang sekarang menjadi orang kepercayaannya.


"pak bos, kenapa itu muka serius amat," tanya Gofur yang merasa aneh.


"tidak ada, hanya kesal saja karena ada undangan untuk acara reuni, dan tentu itu bukan reuni yang seharusnya, melainkan acara perang dan pamer,mulai dari pamer pasangan, harta ataupun pekerjaan, sedang aku apa yang mau di pamerin," kata Ryan sok-sokan sedih.


Gofur melihat pria di sampingnya itu dengan heran, apa yang mau di pamerin katanya.


"sepertinya bis lupa ya, wajah tampan pasti, uang tebal pasti, usaha milik juga punya tiga, masih bilang apa yang mau di pamerin, sungguh terlalu," kata Gofur terheran-heran.


"apa yang kamu katakan, aku bahkan belum menikah, apa itu semua bisa di banggakan," kata Ryan yang merebahkan dirinya di bayang bambu itu.


"ya setidaknya anda akan menikah saat bertemu dengan jodoh yang tepat, bukan seperti Adi yang sunat saja baru kering kemarin tapi sudah harus menikahi pacarnya, apa gak gila," kata Gofur.


"ya dari pada kamu, sudah kepala tiga tapi belum berani sama perempuan," ejek Ryan yang tertawa.


mendengar itu Gofur juga hanya tertawa, toh ucapan dari bos-nya itu memang benar.


saat sedang santai seperti itu, tiba-tiba Tyo dan Ivan datang, Ryan pun bangun dan melihat dua sahabatnya itu.


"ada angin apa ini, hingga kalian datang ke sini," tanya Ryan yang heran melihat keduanya.


"gila kamu, kenapa sangat sulit menghubungi mu,ponsel mu itu jika tak berguna buang saja," kesal Ivan.


"alah bacot banget, mau apa kesini," tanya Ryan yang tak ingin mendengar ocehan dari Ivan.


"aku harap kamu ikut reuni, karena kdli ini kami mengundang para guru yang mengajar kita dulu," kata Tyo.


"baiklah, tapi aku herang kenapa sekarang kamu seperti menjadi anak buah dari istrimu itu sih," kata Ryan.


"kamu belum menikah, nanti jika sudah menikah, kamu akan tau sendiri, di tambah aku juga tak menyangka akan menikah muda dan itupun dengan Luna," kata Tyo yang membuat Ryan tersenyum


"iya deh terserah, tapi yang pasti aku akan sangat bahagia jika itu istri yang aku pilih sendiri,"


"ya mending harus begitu, tapi jangan banyak tipe, kamu tak ingin seperti Ivan yang ngenes begini dong,"


"mulut kalian itu pedesnya ngalahin rujak petis lombok sepuluh," kesal pria itu.


Bagaimana tidak, bukan rahasia umum lagi jika dia memang baru putus cinta.


Tapi itu terjadi karena orang tua kekasihnya itu ingin melihat putrinya menikah, tapi Ivan belum siap dan memutuskan untuk mundur.

__ADS_1


"sudah gak usah di bahas, kalau kita hadir nanti dress batik kan?"


"bebas rapi kok Van, dan aku jamin kamu akan mendapatkan gadis lain di sana, jadi kamu harus berpakaian yang sopan dan tampan ya," kata Tyo tersenyum.


Ya pria itu masuk daftar panitia, dan tentu saja untuk sumbangan terbesar masih di pegang oleh Ryan meski tak ingin semua orang tau.


Ryan memilih pulang dan akan hadir gesok karena dia sudah tiga tahun selalu absen dari acara itu


Dan dia tak boleh lagi membuat semua orang lupa siapa dirinya, dan sebelum istirahat ada tasbih yang selalu di genggaman tangannya.


"selamat malam dek, semoga mimpi indah ya," lirih Ryan sambil berdzikir hingga tertidur lelap


sedang di pondok, Aiba benar-benar sangat fokus belajar agama, bahkan dia termasuk salah satu santri yang cepat dalam beradaptasi.


Dan Aina yang terbiasa terbangun saat malam hari, memilih untuk mandi dan berwudhu.


Dia tau jika ini masih jam istirahat, dan hanya ada satu atau dua santriwati yang bangun untuk melaksanakan sholat malam.


Karena di pondok memang di biasakan, tapi untuk para santri baru yang belum terbiasa kadang sering bablas sampai subuh saat tidur.


Aina mencium mukena yang dia gunakan, bahkan itu adalah mukena kesayangannya.


"mas Ryan..." lirih Aina.


Di rumah, tiba-tiba Ryan seperti mendengar seseorang memanggilnya dan membuatnya bangun.


"siapa ..." kagetnya yang langsung duduk dan melihat jam dinding.


"Ya Allah..." lirihnya yang langsung lari untuk mengambil air wudhu.


Dia pun mulai menunaikan sholat malam, dan setelah itu dia mendoakan semua orang.


setelah itu, dia mengambil ponsel dan laptopnya, dan tak lupa dia membuat susu tanpa gula.


Dan mulai bekerja, karena hanya di saat seperti ini dia bisa fokus mengawasi semua usahanya.


terlebih bengkel mobil dan motor yang di awasi oleh Tyo ini sedang dalam proses pembangunan dan perluasan.


ada juga usaha yang tak di ketahui oleh ayah dan ibunya, dan saat sedang sibuk seperti itu, tiba-tiba Raina memeluk Ryan dari belakang.


"mas sedang apa?" tanya gadis kecil itu.

__ADS_1


"hai dek,bikin kaget saja, sedang kerja, kamu sudah bangun?"


"iya mas, aku baru saja selesai melakukan sholat malam, dan lapar jadi mau membuat roti isi, mas mau," tawar gadis itu.


"boleh tapi tuna dengan sayur yang banyak, dan ingat jangan mengunakan mayonaise,"


"seperti buatan mbak Aina, siap bos," jawab Raina yang memang lebih pintar di urusan rumah di banding Raisa.


tapi untuk kekuatan dan keberanian, Raisa persis seperti Ryan, bahkan bocah itu adalah atlet taekwondo di sekolah.


tentu pilihan dia gadis itu bukan paksaan dari orang tua mereka, melainkan pilihan sendiri.


Dan tak butuh waktu lama untuk Raina membuat sandwich pesanan sang kakak.


"gadis pintar," puji Ryan yang melihat roti yang di gunakan adalah roti gandum.


Ryan fokus bekerja, hingga selesai dan mulai terdengar suara adzan subuh.


Dan ternyata Raina sudah tidur di karpet di ruang tamu, dan terdengar pintu dari kamar mama Wulan terbuka.


"sedang apa nak?" tanya juragan Baron.


"baru menyelesaikan pekerjaan, dek bangun sudah subuh, dan tunggu ayah aku ambil kopyah dulu," kata Ryan yang bersiap ikut ke masjid di dekat rumah.


Raina pun mengosok matanya pelan, "aku ikut ke masjid ayah," kata gadis itu yang langsung lari ke kamar untuk mengambil mukena dan sajadah.


toh hari ini tak sekolah karena hari Minggu, jadi dia nanti bebas tidur jika pekerjaan rumah sedang beres.


ketiganya berangkat, dan juragan Baron langsung di sambut baik oleh semua warga.


Ryan tak terlalu suka dengan warga yang bermuka dua, jadi dia memilih duduk di pojok sambil membaca sholawat sambil menunggu iqomah.


setelah kewajiban terlaksananya, ketiganya pun pulang, dan Ryan memilih berolahraga dengan juragan Baron serta adiknya Raisa.


Sedang mama Wulan sedang sibuk bersama Raina yang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan.


"ayah Jum'at depan ke pondok, kalau iya aku boleh titip sesuatu untuk Aina, karena aku Jum'at itu ada seminar di Yogjakarta," kata Ryan yang sedang lari pagi.


"Baiklah, tapi Ryan sesekali kunjungi dia, dia terus bertahta tentang mu, dan jika kamu merasa marah karena dia mondok, kamu bisa marah pada ayah sebagai pelampiasannya,"


"tidak mungkin itu terjadi yah, aku bukannya marah tapi aku masih berusaha menahan diri agar tak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan," terang Ryan.

__ADS_1


__ADS_2