Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
tiga pemuda tampan


__ADS_3

Ryan dan Ivan sedang mengambil bola dan perlengkapan olahraga sedang Tyo di hukum karena terus mengoceh dari tadi bersama beberapa murid lain.


Saat sampai di lapangan, Ryan membagikan bola pada semua murid, sedang Ivan membagikan pada anak perempuan.


"Ryan, boleh kami bergabung dengan kalian main voli,karena kami juga ingin mencoba olahraga itu?" tanya salah satu teman sekelas Ryan.


"ah ketua kelas, tentu saja boleh,"


"panggil aku Wulan, kenapa terus memanggil ku dengan sebutan ketua kelas sih," kata gadis cantik itu kesal.


"maaf aku tak bisa memanggil nama mu, karena nama mu sama dengan nama ibu ku," jawab Ryan yang langsung membuat semua siswi itu terkejut.


"ciye...."


"hentikan kalian semua, kalau begitu panggil aku Mayang saja," kata gadis itu.


"baiklah Mayang, ayo kita mulai berlatih pasing dulu,karena itu dasar dalam bermain voli,dan kalian bertiga juga harus buat barisan juga," kata Ryan


Akhirnya mereka pun main bersama, dan Ivan serta Ryo bergabung dengan Ryan.


Setelah itu, jam istirahat pertama datang, semua sedang berbaris di kantin untuk membeli jajanan.


Karena Ryan tak di izinkan makan gorengan, jadi dia membeli rujak buah yang harganya lima ribu tapi buahnya cukup banyak.


dia membawanya ke kelas, dan itu membuat Ivan dan Tyo heran,"kamu diet, kenapa seperti perempuan saja sih," tanya Ivan


"kamu itu pendiam ya Ivan, tapi sekali buka mulut ucapan mu menyebalkan," kesal Ryan


"kan aku tanya?" jawab Ivan dengan santai


"aku tidak diet,hanya saja sedang mengurangi gorengan dan juga ciki, ini perintah ayah," jawab Ryan.


"sama saja bung, sudahlah memang kamu kenapa di larang makan gorengan sama om?" tanya Tyo.


"karena aku terlalu berat untuk tinggi badan dan usia ku,karena ayah bilang jika berat badan yang gak ideal itu buruk," jawab ryan santai.


"lah ... tuh dua adik mu juga gemuk dengan pipi bulat begitu," kata Ivan heran.


"ya beda,kan mereka masih balita, sudah jangan menganggu ku," kesal Ryan.


"iya deh iya..." kata keduanya yang sedang asik minum es kocok dan gorengan yang beli di kantin.


setelah itu semua melanjutkan untuk belajar, tapi Ryan merasa jika pelajaran kali ini tak sebosan biasanya karena dia tak terlalu banyak beli jajanan.

__ADS_1


Sedangkan untuk Tyo, remaja itu sudah terkapar dengan mengunakan bukunya sebagai tutup agar tak ketahuan.


Setelah dua mata pelajaran,mereka pun ada jam istirahat kedua, dan ini baru mereka membuka bekal masing-masing.


ternyata Ryan baru tau jika kotak nasinya ganti, "loh ... Ini bukannya punya ayah kotak nasinya?" bingung bocah itu.


"memang kenapa?" tanya Ivan.


"enggak karena porsinya cukup besar, tapi sudahlah mungkin mama yang salah taruh," kata Ryan yang langsung membuka kotak nasi itu.


saat membukanya, dia terkejut karena nasinya cuma sedikit tapi lebih banyak sayur, buah dan lauk juga.


Bahkan lauknya saja ada tiga potong ikan balado. Dan juga ada telur puyuh masak hitam juga.


"selamat makan semuanya,"kata Ryan semangat.


mereka semua makan bersama, dia juga membagikan lauk yang ada di bekal miliknya pada teman-temannya yang mau.


begitu pun dengan Ivan dan Tyo yang ternyata siang itu kompang membawa dadar telur dan sayur lodeh.


Ryan pun sangat kenyang makan siang kali ini, terlebih buah potong juga sangat banyak.


di rumah, Wulan sudah mengantar bekal milik suaminya ke gudang bersama Raina, karena Raisa di ajak Bu pawoh ke sawah untuk mengantarkan makan siang pak Dikin


"assalamualaikum ayah..." kata Wulan yang melihat suaminya itu berkumpul dengan semua pekerjanya.


"ikut ibu, kali ini hanya Raina ayah," kata Wulan yang malah memberikan putri mereka.


Dan mengajak suaminya itu masuk kedalam ruangan kerja juragan Baron.


Sesampainya di kantor sederhana itu,mereka duduk lesehan dan juragan Baron mulai makan di temani putrinya.


Sedang Wulan membantu membereskan semua pekerjaan suaminya, terutama tentang keuangan.


Ternyata Raina malah ketiduran setelah merobek beberapa kertas karena memang ini jam tidurnya.


juragan Baron sudah selesai mencuci bekas makan siang miliknya, dan melihat semua pekerja sedang istirahat barang setengah jam.


dia pun mendekati istrinya, dan mulai memeluk Wulan dari samping serta mulai mencuri ciuman beberapa kali.


"mas ini di gudang,jangan aneh-aneh deh," bisik Wulan yang tau jika suaminya itu sedang dalam mode mau minta jatah.


"semacem saja deh, itu si Otong bangun nih, entahlah kok tiba-tiba ingin banget aku," bisiknya.

__ADS_1


Mendengar itu,Wulan pun menyalakan kipas angin yang ada di ruangan itu, dan juragan Baron mulai mengambil posisi.


tentu saja mereka melakukannya dengan cara yang cukup seadanya, tanpa melepaskan pakaian.


tapi itu malah membuat semakin tertantang karena takut Raina bangun.


Setelah selesai, mereka berdua pun ikut merebahkan diri di samping putrinya itu.


"nanti Ryan pulang jam berapa?" tanya juragan Baron


"sepertinya jam tiga sore, karena ini gari Rabu, ada ekstrakurikuler silat, tenang saja tadi aku juga membawakan bekal kue di tas sekolahnya," kata Wulan.


"kaku memang istri dan ibu terbaik, beruntung sekali aku bisa menikah dengan mu sayang," kata juragan Baron.


"benarkah, tapi mas kan dapat janda anak satu," bisik Wulan mengecup bibir suaminya itu.


"memang kenapa, aku juga duda, bahkan usia ku lebih tua dari mu,"


"itulah kenapa jangan suka marah-marah,nanti kalau mas tua kan aku yang repot," bisik Wulan yang langsung mendapatkan pelukan erat dari suaminya itu.


"aku bahagia punya kamu di sini,"


pukul dua siang, semua sudah kembali bekerja, saat Wulan pamit pulang.


Meskipun Raina belum bangun, Wulan tetap menggendongnya karena takut Raisa ngambek.


Saat menuju perjalanan ke rumah,dia sempatkan untuk mampir untuk belanja beberapa bahan kue.


Dan tak hanya itu ada juga bahan yang lain juga, setelah itu dia melanjutkan perjalanan.


Tapi saat sampai di depan rumah, dia merasa aneh dengan mobil yang menghalangi pagar rumah.


"pak Tono, tolong minta pemilik mobil minggir atau buat dia sadar jika parkir di depan rumah orang sembarangan itu tak baik," marah Wulan melihat hal itu.


"iya Bu juragan," jawab pria itu yang langsung mengetik pintu mobil dan akhirnya mobil pun mundur.


ternyata itu adalah mobil dari beberapa rombongan yang sedang mengadakan pernikahan, padahal tadi sudah di tegur tapi pemiliknya tampak tak peduli.


Sedangkan Wulan masuk dengan santai mbok Yem yang membantu membawakan belanjaan.


Tak lama ada motor yang datang, ternyata itu Ajeng yang ingin mengunjungi saudaranya itu.


"selamat datang mbak," sapa Wulan

__ADS_1


"kamu salah sebutan, harusnya aku yang memanggil mu mbak loh," kata Ajeng yang tersenyum ramah.


Dia datang membawakannya satu kresek merah lele berukuran jumbo, dan juga beberapa sukun mentah yang enak di buat kripik.


__ADS_2