Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
bocah ini.


__ADS_3

Hai semuanya, kali ini aku akan fokus sama Ryan ya, jadi ini kita ambil beberapa tahun setelah bocah itu menyelesaikan sekolah dasarnya.


Mati kita mulai....


🌺🌺🌺🌺


dia gadis cantik sedang berbaris untuk bergantian rambutnya di kuncir oleh ibunya.


"Raina sudah sekarang giliran Raisa,"kata Wulan yang selesai menguncir rambut putrinya itu.


"yah..." suara bocah itu saat melihat juragan Baron yang terlihat begitu tegang dan begitu pendiam.


"ayah tolong kondisikan wajah mu," kata Wulan yang geli sendiri melihat suaminya itu


"apa maksudnya dek, aku baik-baik saja," kata pria itu dengan wajah yang tak bisa di sembunyikan.


"Yayah.. Onyet," kata Raisa menunjukkan boneka monyet kesayangannya.


"kamu bilang ayah monyet?" kata juragan Baron gemas langsung menggelitiki putrinya itu


"ayah.... Ini rambut adek gak selesai-selesai kita bisa kesiangan," kata Wulan yang tau jika mereka akan pergi ke pondok putra mereka.


Bagaimana tidak ini adalah jadwal mereka bertemu, setelah setengah tahun mereka sengaja tidak mengunjungi Ryan yang sedang mondok di salah satu pondok yang terkenal begitu ketat di Jawa Timur itu.


bahkan biaya tak menjadi masalah, meski begitu beberapa kali bocah itu mengirimkan surat pada kedua orang tuanya mengatakan rindu rumah dan rindu masakan sang mama.


Tapi Wulan yang juga sudah merindukan putranya itu hanya bisa memendamnya sendiri karena dia tau itu semua demi kebaikan putranya sendiri.


karena Ryan adalah putra pertama keluarga mereka, dan dia adalah tiang yang harus di buat kokoh dan kuat untuk menjadi sandaran dia adik perempuannya.


Wulan tak lupa membuat dendeng kesukaan putranya itu,dan beberapa makanan yang lain juga.


bahkan dia sengaja membeli alat vakum untuk memastikan makanan yang dia kirimkan tak akan rusak nantinya.

__ADS_1


kini yang terlihat antusias adalah Wulan, bahkan saat turun dari mobil pun juragan Baron memilih untuk mengendong dua putrinya.


"mas biarkan aku satu yang bawa,kamu bisa keberatan," kata Wulan yang memohon.


"tidak masalah," jawab pria itu.


Setelah Wulan membawa semua barang untuk putranya, dia dan juragan Baron bergandengan tangan dan melapor pada para senior dan guru pengawas.


Setelah di beri nomor kunjungan,mereka tak bisa langsung bisa bertemu dengan semua santri.


karena setiap Minggu pagi di adakan pengajian pagi, dan akan selesai pukul sembilan pagi.


sedang di masjid semua santri sedang menerjemahkan kitab, setelah jam sembilan, ustadz yang membimbing pun mengakhiri kelas pagi itu.


semua murid pun berlarian keluar masjid, karena ini adalah hari bebas mereka dan akan bisa bertemu dengan keluarga mereka.


Ryan tampak tak bersemangat untuk pergi dari masjid, ustadz Yusuf pun menghampiri remaja pria itu.


"tidak mungkin ustadz," kata Ryan yang sudah memperkirakan sendiri.


"kamu tau Ryan,Minggu ini ustadz tidak di berikan titipan uang, itu berarti..." kata ustadz Yusuf yang membuat bocah itu langsung senang.


"terima kasih ustadz,"kata Ryan yang langsung lari keluar masjid.


Wulan pun mencari sosok putranya yang begitu dia rindukan di antara begitu banyak murid baru yang keluar dari masjid.


"kak..." tunjuk Raisa yang melihat sosok Ryan.


Ternyata benar, remaja itu lari sekuat tenaganya untuk menghampiri orang tuanya.


bahkan dia langsung memeluk wulan erat, "mama...." tangis Ryan.


"halo mas Ryan," jawab Wulan yang langsung mencium kening putranya itu.

__ADS_1


Kemudian mereka berpelukan lagi, juragan Baron membiarkan keduanya melepas rindu.


Bagaimana pun Wulan yang selama ini menjaga putranya itu sendiri, bahkan saat terburuk dalam hidup mereka juga.


Setelah puas, Ryan pun giliran ingin mencium kaki juragan Baron, tapi pria itu menghentikan putranya itu, "tidak le, cukup peluk ayah mu ini," keduanya kemudian berpelukan.


"ka.. Kak..." suara Raina.


"halo si kembar kenapa makin cantik dan gemuk, mau kakak gendong," tanya Ryan yang menghapus air matanya.


"mereka berat mas," kata Wulan yang ternyata bocah itu kuat mengendong kedua adiknya.


Mereka pun mencari tempat untuk mengobrol, Wulan mengambil Raina agar tuan tak kesulitan.


Bahkan ustadz Yusuf menyambut keluarga itu dengan sangat sopan, ya mereka ini sudah berteman baik setelah Ryan mondok.


"bagaimana kondisi mu mas, kenapa badan mu merah-merah begini?" tanya Wulan yang melihat tubuh putranya itu.


"karena nyamuknya banyak mama, dan terima kasih sudah mengirimkan obat gatal itu dan juga beberapa obat yang lain, karena itu bisa membantuku dan juga teman-teman ku,"


"apapun untuk mu mas, tapi maaf karena kami baru datang setelah sekian lama," kata juragan baron mengusap kepala putranya itu.


"tidak apa-apa ayah,aku malah bisa mandiri meski masih sangat kaget awalnya," kata bocah itu


"ah putra ku sudah besar, tak ikhlas rasanya," kata Wulan yang tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Pasalnya dia tak menyangka akan membawa putranya itu dalam semua fasilitas yang serba bagus, tapi itu semua bisa terjadi karena suaminya.


"terima kasih..." kata Wulan saat bertatapan dengan suaminya itu.


"aku mencintaimu," jawab juragan Baron.


Ryan sedang bermain dengan adiknya yang tampak tenang di pakaikan kerudung yang senada dengan baju keduanya.

__ADS_1


__ADS_2