
Dewi sudah berganti baju dengan kaos milik Gofar, kaos itu sangat besar.
karena tadi Dewi meminta Gofar memberikan kaos yang besar dari pada yang kecil.
Mengingat bajunya pasti basah luar dalam, jadi dia memakai baju yang sangat besar agar tak menunjukkan lekuk tubuhnya.
"mas boleh numpang cuci tidak,"
"silahkan, masukkan ke mesin cuci saja,toh nanti juga bersih sendiri dan kering," kata Gofar yang sedang membuatkan teh.
Dewi duduk dan melihat di peternakan sangat sepi, padahal biasanya sudah sangat ramai dengan banyak pegawai.
"kemana semua orang," tanya Dewi penasaran.
"aku membagi jam kerja, karena saat malam hari, aku dan Kipli sering kesulitan karena kelelahan." jawab Gofar memberikan teh panas itu
"owalah begitu, terima kasih," kata Dewi yang menerima teh itu.
Gofar memalingkan wajahnya, dia tak menyangka akan melihat Dewi seperti ini.
Karena tubuh gadis itu yang cukup besar, hingga membuat bagian atas itu terlihat dan sebagai pria normal
Gofar tentu saja merasa sedikit merasa panas, terlebih rambut Dewi yang sedikit basah membuatnya semakin pusing.
"mas mau kemana? Sarapannya belum di makan," kata Dewi yang belum melihat pria itu sarapan.
__ADS_1
"sudah kok, tadi saat kamu mandi, aku mau lihat beberapa pedhet dulu," jawab pria itu.
Dia bisa gila jika terus melihat Dewi di kamarnya, saat di tempat sapi-sapi di besarkan.
Beberapa orang yang harusnya datang pun meminta izin untuk libur karena hujan.
Jadi pagi itu tak ada yang datang, untungnya semua pakan sudah siap jadi Gofar memberikan semua sapi-sapi itu makanannya.
Setelah selesai, hujan tak kunjung reda, dan dia merasa khawatir pada Dewi.
dan saat dia naik ke lantai dua ke tempatnya istirahat, dia terkejut melihat Dewi yang meringkuk di ruang tengah tempatnya biasa menonton tv.
dia hanya tersenyum dan melepaskan kaos yang dua pakai karena kotor.
"jika kamu mengantuk pindahlah ke kamar," kata Gofar yang membangunkan gadis itu.
Saat di sanalah, tiba-tiba saat ingin pergi, Dewi menahannya sambil menyembunyikan wajahnya di dada Gofar.
"kamu bangun?" tanya Gofar yang berusaha untuk tidak melihat Dewi.
"mas masih marah? Aku minta maaf ya, jangan menikah dengan wanita itu, aku bisa memberikan diriku jika mas ingin..." lirih Dewi yang ternyata mengigau.
"apa maksudnya?"
"apa mbak Nia melayani mu, aku pun bisa," lirih Dewi yang masih menutup mata.
__ADS_1
Gofar menoleh, kenapa gadis itu menyebut nama wanita lain, saat Gofar sedang bingung.
tiba-tiba dia mendapatkan ciuman dari Dewi, Gofar awalnya mendorong Dewi.
Tapi mendengar Dewi mulai terisak, Gofar pun mulai memeluknya.
Dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah saling berciuman, dan tangan Gofar sudah memainkan buah semangka jumbo itu.
Dewi perlahan membuka mata karena merasa tubuhnya sangat geli dan merasa hal yang tak pernah dia rasakan.
Saat melihat sosok Gofar yang sedang menikmati semangka jumbo miliknya itu.
Dia pun meremas rambut Gofar, "mas.... Geli,"
"kamu sudah bangun, maafkan aku,aku khilaf," kata Gofar yang menghentikan aksinya dan memeluk Dewi
"mas...."
"jangan Dewi, aku hampir lepas kendali, tolong segera pergi dari sini, aku tak ingin kita melakukan hal yang lebih jauh lagi, aku mohon," kata Gofar yang langsung pergi ke dalam kamar mandi.
Dewi pun mengerti, dia segera mengambil bajunya yang sudah kering dan langsung memutuskan untuk pulang.
Gofar pun menenangkan diri dengan main solo, sedang Dewi yang memilih hujan-hujanan menuju ke rumahnya.
Saat selesai mandi dan berdiri di depan kaca, membuatnya terkejut melihat tanda merah di dadanya.
__ADS_1
dan tiba-tiba dia merasa merinding dan rasanya jadi aneh, karena dia tak pernah merasakan hal seperti itu.