Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
bibit pelakor


__ADS_3

"mas masih mau tanya kenapa, mas pikir aku tak tau jika tadi dia memohon di gudang di depan semua karyawan mu, menunjukkan jika dia bisa dengan mudah membujuk juragan Baron yang kejam, dan dengan penuh perhatian mas mengusap bahunya bukan, jika kamu memang mau menikahinya, nikahi saja, dan aku seharusnya sadar jika pria itu semuanya sama," kata Wulan.


"apa yang kamu maksud dek?"


"iya itu benar, aku memang di perlakukan spesial karena aku bukan wanita penyakitan seperti ku ibu juragan, setidaknya aku masih perawan bukan seperti mu yang janda tak tau diri," kata Winda yang merasa dibatas angin melihat kemarahan Wulan pada suaminya.


Plak..


juragan Baron tak segan memukul wanita, bahkan dia tak suka seseorang menghina istrinya seperti itu.


"apa tak punya otak, itu tadi aku membuang serangga dari bahu mu, dan aku tak pernah melihat wanita lain selain istriku, dan pikiran dari mana yang membuat mu begitu yakin jika aku menyukai mu, hanya karena aku berdebat dengan Dewi, ya aku berdebat karena aku tau kondisi orang tua mu," kata juragan Baron.


mendengar itu membuat Winda tak percaya dengan semuanya, bagaimana bisa pria itu tak tergoda dengan dirinya


"pasti juragan bohong, tak mungkin itu terjadi, karena aku percaya jika aku adalah orang yang anda cintai bukan istrimu yang tak tau diri itu," kata Winda.


"kamu jangan gila, sudah cukup omong kosong ku, gun seret dia keluar dan pastikan dia tak bisa naduk lagi, dan mulai besok tak perlu lagi kamu datang ke toko untuk bekerja, dan bantuan dari keluarga ku hanya ini yang terakhir, setelah ini jangan harap lagi," kata pria itu yang membuat kaget


Tapi itu harus di lakukan karena dia tak mau jika istrinya salah paham, terlebih Wulan sedang hamil anaknya.


Winda pun tak menyangka ini, jadi selama ini dia sendiri yang merasa kegeeran dengan cara dan sikap juragan Baron.


Dewi mengirimkan pesan jika ayah dari Winda tak bisa tertolong karena kondisinya yang parah.


"mas... " panggil wulan


Juragan Baron kini berlutut di depan istrinya itu, kini dia sadar maksud dari pak Dikin tadi, saat dia pulang ke rumah.


"aku tak ada hubungan apapun sayang,bagiku hanya kamu orang yang aku sukai, dan tolong jangan membuat diriku kehilangan cinta mu itu, karena aku tak sanggup lagi," kata juragan Baron memohon.


"iya mas dku percaya padamu,tapi ini ada berita duka, ayah Winda meninggal dunia saat di rumah sakit karena tak terlambat di bawa,"


"apa... Ya sudah biar orang ku saja yang kesana, karena aku tak mau membuat omongan makin aneh jika datang kesana, terlebih gadis gila itu tak tau diri," kata juragan Baron


Dewi pun mengurus semuanya dengan uang dari Wulan, bahkan mobil jenazah juga dibayarkan oleh wanita itu.


Sesampainya di rumah Winda semua orang sibuk membantu untuk pemakaman, juga terlihat ada pak Sardi dan Wawan juga.

__ADS_1


Dewi menyapa Wawan untuk memastikan jika pria itu membantu karena dia pasti akan bersitegang dengan Winda lagi.


Ibu dari Winda sangat terpukul bahkan dia tampak tak percaya suaminya meninggal.


Saat semua orang sedang berdua, Winda datang dengan wajah marah, "kenapa kalian ada di sini, kebepa ada beberapa kuning, apa pria tua Bangka itu sudah mati?"


"jaga bicara mu Winda," tegur Dewi.


"apa, kenapa kamu sok peduli, gara-gara kamu aku gagal menggoda juragan Baron dan menikmati hidup enak!!" teriak Winda yang tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya.


Semua orang kaget, mereka tak menyangka Winda berani ingin menggoda pria yang sudah sangat baik pada keluarganya.


Ibu gadis itu keluar dan langsung menampar putrinya agar sadar karena itu perbuatan buruk.


"sadar nduk, kenapa kamu ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain, apa kamu tak takut akan azab Allah, mereka itu sudah sangat baik pada keluarga kita," kata ibunya.


"aku tak peduli sialan, kalau begitu kenapa melahirkan ku di keluarga miskin ini!!" marah Winda mendorong ibunya hingga terjatuh dan kepala ibunya itu terbentur lantai semen.


Melihat itu Dewi kaget, "ibu!!" teriaknya melihat kondisi dari wanita itu yang ternyata sudah lemas


"peduli setan,"


Wawan melihat kondisi ibu Winda yang ternyata sudah meninggal dunia juga.


semua warga kaget dengan itu, bagaimana mungkin dalam sekejap dia orang sudah meninggal dunia bersamaan.


Akhirnya Wawan mengurus semua pemakaman untuk pasangan itu. Sedang Winda tak mau mengurus lagi susah mati masih merepotkan untuknya


Pemakaman itu berlangsung hingga malam hari, dan semua warga tu kenapa tak terlihat keluarga juragan Baron ataupun istrinya.


itu semua karena Winda, dan karena pemilik rumah tak mau di adakan pengajian sampai tujuh hari, jadi tak ada yang melakukanya.


para warga pun menggunjingkan apa yang terjadi, tapi Winda seakan tak terpengaruh sedikitpun.


Akhirnya warga juga tak peduli dengan gadis itu, yang tega memperlakukan orang tuanya seperti itu.


hari berganti hari, tak terasa sudah satu bulan terlewati. sekarang kondisi Wulan sudah sangat baik dan bayinya juga kuat di dalam kandungan.

__ADS_1


Pagi ini dia sedang berjalan santai di temani suaminya, ya sekalian belanja untuk masak di rumah.


Mereka pun di sapa oleh para ibu yang sedang bersih-bersih atau ada yang sedang menjemur pakaian.


saat sampai di tukang sayur, mereka pun dapat sambutan hangat,"aduh Bu juragan makin cantik saja,kok selama ini gak kelihatan kemana Bu," tanya Bu RT.


"ada kok Bu, di rumah saja, karena harus istirahat total, ibunya lagi manja tak bisa keluar-keluar," jawab Wulan.


"oh begitu, ini juragan Baron juga semakin anteng saja ya sekarang,tapi badannya sudah sedikit berisi di bandingkan dulu,"


"iya Bu, efek istri pintar masak jadi suka makan," jawab pria itu santai.


Bahkan dia langsung mengambil sayur yang dia inginkan untuk masak hari ini.


Saat sedang asik memilih sayur, tak sengaja Winda lewat dan melihat juragan Baron dan Wulan.


Dia langsung lari dan ingin memeluk pria yang dia sukai itu, tapi dengan cepat wulan yang tau ada wanita gila itu pun mengambil waluh air dan memukulnya pada Winda.


bugh..


gadis itu sempoyongan hingga terjatuh, dan waluh air itu pun putus. "nanti tolong hitung dengan belanjaan mang," kata wulan tegas.


"sayang kamu tak papa?" tanya juragan Baron memeluk istrinya.


"juragan Baron, dia memukul ku, kenapa tidak menolong ku malah memeluknya," kata Winda tak tau malu.


"hei gadis gila, ya pantas kamu di pukul, seharusnya dengan balok biar otak mu itu sadar, kamu mu apa dengan suami orang,"marah Bu RT.


"tutup mulut mu wanita tua,"kata Winda tak suka di beri nasihat.


"apa katamu,dasar gadis sialan,mau mati kamu," kata wanita itu yang memukuli Winda dengan sandal di bantu oleh ibu-ibu yang lain.


Ya mereka tak suka ada pelakor yang ingin menganggu para suami di desanya.


melihat hal itu, Wulan memilih untuk pergi dari ada melihatnya, dan memilih untuk menjauh.


Dia membayar belanjaan dan pergi, Winda yang melihat itu pun marah dan dia akan membuktikan jika dia bisa merebut juragan Baron dari tangan Wulan.

__ADS_1


__ADS_2