
Ryan masih menunggu jemputan sambil memegangi undangan untuk acara di sekolahnya seminggu lagi.
Dia ingin memberitahu ayah Baron yang sedang di luar kota agar pulang dan mengikuti acara itu bersamanya.
Wulan sampai di sekolah putranya, dan melihat bocah itu sedang duduk di ayunan bersama beberapa temannya yang juga masih menunggu jemputan.
Dia langsung memarkir sepeda motornya dan menghampiri putranya itu.
"assalamualaikum putra ganteng bunda, bagaimana sekolahnya sayang?" tanya Wulan yang mengendong putranya itu.
"semuanya baik bunda, tapi teman-teman ku jahat, katanya Ryan gak punya ayah, karena mati di begal, padahal Ryan punya ayah kan?"
"iya insyaallah ya, memang ada apa kok tiba-tiba tanya tentang ayah?" tanya Wulan yang bingung karena putranya itu belum menunjukkan undangan itu.
"ini maka Ryan, ada acara di sekolah untuk memperingati hari kemerdekaan, sekolah mengadakan lomba untuk semua murid, dan untuk anak taman kanak-kanak harus di dampingi mama dan ayah untuk mengikuti lomba," kata wali kelas Ryan.
"baiklah Bu guru, nanti biar saya yang jelaskan pada Ryan, sekarang Ryan pamit dulu pada bunda Ela, baru setelah itu kita pulang karena bunda sudah membuatkan empal kesukaan kamu," kata Wulan dengan gemas.
Akhirnya Ryan dan Wulan pamit, sesampainya di rumah, Ryan mandi dulu baru kemudian makan.
Setelah memastikan longa itu, Wulan pamit untuk kembali mengawasi pekerjaan milik juragan Baron.
"Bu titip Ryan ya,Ryan bunda pamit kerja dulu ya,"
"iya bunda, nanti malam tolong telpon ayah Baron ya,"
__ADS_1
"iya tapi selesaikan semua pekerjaan rumah yang di berikan bunda Ela oke,"
"oke bunda," jawab bocah itu.
Wulan mampir ke warung milik buleknya untuk membeli makan gorengan untuk para pegawai di gudang.
Karena para pegawai itu biasanya membawa bekal nasi dari rumah, jadi dia tak mau nanti jadi mubazir.
"permisi bulek, mau beli gorengan dua puluh ribu campur ya," kata Wulan dengan sopan.
bagaimana pun wanita itu adalah adik ipar dari mendiang ayahnya, meskipun memiliki kebencian pada keluarga Wulan karena merasa jika keluarganya tak sekaya keluarga Wulan.
"ambil sendiri deh ya, dapat empat puluh," jawab Mak tun yang begitu ketus.
"sini bapak bantu, kamu ambil dua puluh,bapak ambil dua puluh ya," kata pria sepuh yang sedang santai di warung.
"terima kasih Mbah Jo," kata Wulan sopan.
saat sedang mengambil gorengan, tiba-tiba ada rombongan dari juragan lain yang datang.
ternyata itu rombongan juragan Sukoco dari desa tetangga, Ajeng langsung keluar untuk menyapa rombongan itu
Sedang Wulan mempercepat hitungan gorengannya karena tau jika pria itu adalah orang mesum penggila wanita cantik.
"bulek ini uang nya,aku boleh numpang lewat belakang gak,aku gak mau ketemu juragan itu," panik Wulan yang takut.
__ADS_1
"sudah sana, dasar kamu itu," kata Mak tun karena takut jika kesempatan dari Ajeng di rebut Wulan.
"selamat datang juragan Sukoco, Monggo masuk kedalam, gorengannya masih panas loh," sapa Ajeng dengan lembut.
"aduh kayak yang jual ya masih panas, minta kopi pahitnya ya neng ayu," kata juragan Sukoco.
"inggeh juragan,Monggo.." kata Ajeng yang kemarin dapat tip dua ratus ribu dari pria itu, ya lumayan buat jajan.
Itulah kenapa dia begitu baik saat ada pria itu, sedang Wulan buru-buru pergi.
Tapi salah satu anak buah juragan Sukoco sempat melihat wanita itu pergi dengan motornya.
"Mak tun, tadi yang baru saja pergi itu, bukannya mbak Wulan ya, jandanya Fathan yang mati kena begal?" tanya Dikin.
"salah lihat kali masnya, kenapa Wulan datang kesini," kata Mak tun.
"mungkin ya,"
"aduh sayang sekali, padahal aku ingin melihat janda aduhai di desa ini yang jadi rebutan para pria, katanya tubuhnya bagus dan kulitnya putih bersih, dengan wajah cantik,"
"benar juragan, yang gadis mah kalah sama janda satu itu, pasti juga goyangannya enak itu saat di ranjang," kata Dikin memanasi pria itu.
Mendengar hal itu dan membayangkannya saja, bisa membuat adik kecil juragan Sukoco itu cenat-cenut.
Apa lagi jika sampai itu benar-benar bisa terjadi, mungkin dia bisa insaf untuk kawin lagi.
__ADS_1