Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
luka kecil


__ADS_3

Tolong jangan di sangkur pautkan dengan instansi tertentu...


Karena cerita ini hanya ide di pikiran otor, dan di larang baperan,karena ini tak menyangkut nama instansi tertentu.


Jadi tolong bijaksana dalam membaca ya...


Ryan sudah sampai di pondok tempat Aina menuntut ilmu, terlihat mobil orang tuanya juga sudah ada di sana.


dia bergegas masuk ke area pondok putri itu, tapi dia di hentikan oleh para pengawas.


"tunggu saudaraku, anda tidak di izinkan masuk ini pondok putri," tegas para petugas itu.


"tapi adikku terluka!" bentaknya dengan keras


"silahkan ke ruang pimpinan dulu untuk izin," kata kedua pria itu.


Ryan pun pergi ke depan kantor pimpinan pondok, dan ternyata juragan Baron ada di sana.


"kamu datang akhirnya," kata pria itu.


"aku mau bertemu Aina," kata Ryan tanpa basa-basi.


"kenapa ingin bertemu gadis itu, apa kamu saudaranya," tanya ustadz Safran.


"kenapa anda bertanya begitu, apa itu ada urusannya dengan anda," kata Ryan tak suka dengan pria muda yang mungkin seusianya itu.


"tentu saja, karena saya ingin meminta Aina untuk menjalani ta'aruf dengan saya, karena itu saya meminta izin pada pak Baron sebagai walinya," kata ustadz muda itu tanpa tau apa yang dia sebabkan.


"ayah apa itu benar!!" marah Ryan yang tak bisa lagi membendung kemarahannya.


"iya, dia minta izin tapi ayah belum mengatakan apapun padanya," kata juragan Baron yang sebenarnya juga kaget.


"sialan!!" maki Ryan yang langsung mencekik ustadz muda itu dengan tangannya.


"kamu merasa hebat hingga ingin menjadikan adik ku Aina sebagai istrimu, sebelum itu apa kamu tak penasaran bagaimana aku akan bertindak sialan!!" maki Ryan yang lepas kendali.


juragan Baron kaget melihat tingkah dari putranya nitu, "Ryan hentikan, kamu bisa membunuhnya,"


"jangan menghalangiku ayah! Aku juga kecewa padamu," marah Ryan.


para santri yang melihat kekacauan seta pengurus pun di buat kaget, karena Ryan bertindak searogan itu.

__ADS_1


Padahal pondok pesantren itu milik dari kiai terkenal di kota itu, tapi pria itu sepertinya tidak peduli sama sekali.


"pak Baron,tolong pisahkan putra mu dan Gus Safran, dia bisa membunuhnya,"


"aku juga tak bisa melakukan itu, karena kekuatan Ryan saat marah melebihi kekuatan ku,"


bahkan para santri yang berusaha melerai pun malah terkena tendangan dan sikutan.


mama Wulan yang baru saja menjemput Aina di unit kesehatan santri, kaget melihat ada keributan.


"ada apa ya na, kok kayaknya dari kantor pengurus,"


"tidak tau mama, kita lihat takutnya ayah sedang marah," kata Aina yang belum tau tentang kedatangan Aina


Mama Wulan tiba-tiba ingat telponnya dengan Ryan, "tidak, itu pasti Ryan," katanya yang langsung lari bersama Aina.


Saat sampai di kerumunan ternyata tebakannya benar, Aina terkejut melihat Ryan yang sudah hampir membunuh pria yang di hormati di sana.


Bahkan tubuh Ryan sudah di pukul dengan bambu tapi pria itu tak melepaskannya sama sekali.


Otomatis, semua orang panik juragan Baron menendang seorang santri yang berani membawa gunting rumput mendekati Ryan.


"jangan berani membunuh putra ku," marahnya.


Tanpa bicara, Aina dan mama Wulan menyentuh pundak Ryan, "hentikan mas, kamu sudah hampir membunuhnya,"


"jangan lakukan dosa mas Ryan, karena aku tak mau mas Ryan berurusan dengan hukum," mohon Aina yang sudah menangis di samping pria itu.


juragan Baron menarik istrinya agar membiarkan Aina yang menenangkan Ryan, "aku harus membunuhnya karena dia berpikir bisa memiliki mu, tanpa persetujuan ku karena aku wali mu yang sah, dan dia dengan sepihak ingin membuat mu jadi istri keduanya, hah... Yang gebar saja," bentak Ryan yang membuat Aina sedih.


"tapi aku tak menginginkan pria manapun untuk menikahiku, karena aku sudah punya pria yang aku cintai," kata Aina yang memeluk Ryan dan membuat pria itu melepaskan tangannya dari ustadz muda itu.


"aku tak akan tinggal diam," kata pria yang masih kesakitan karena ulah Ryan.


"lakukan saja, aku juga bukan keluarga miskin yang bisa kalian injak," kata juragan Baron.


"kita pulang, ajak Aina juga, karena di aku tak ingin dia bisa mengalami masalah lagi, dan untuk kasus Aina, aku sudah meminta tolong pada kepala polisi resort kota untuk mengurusnya, tak peduli masih mereka di bawah umur, tapi perbuatan mereka sudah masuk dalam kasus penganiayaan," kata juragan Baron yang mengajak keluarganya pulang.


Aina melihat bajunya basah setelah memeluk Ryan, "mas Ryan kamu terluka," kagetnya karena itu darah.


"tidak, ini luka ringan, tidak sakit," kata pria itu santai.

__ADS_1


"tidak, kita harus ke klinik untuk mengobatinya," kata Aina panik.


Juragan Baron mengurus semuanya dengan benar, lima santriwati di mintai keterangan tentang apa yang terjadi pada Aina hingga bisa terluka.


ternyata selama ini, kelimanya merinding Aina yang memiliki kecerdasan di atas teman-temannya.


Dan terakhir kali mereka membakar kitab dan mengunduli Aina di gudang pondok dan bahkan melukai gadis itu.


Dan ternyata kelima orang ini memang memiliki masalah sebelum mondok, dan keluarganya berniat untuk merubah putri mereka dengan menitipkan di pondok.


nyatanya malah kelimanya membuat buruk nama pondok karena ternyata mereka juga sering meminta uang saku adik santrinya.


Sedang urusan Ryan dan Gus muda dari pondok itu, berakhir damai, terlebih keluarga Gus itu malu dengan ucapan putranya.


Dan yang terpenting juragan Baron bukan orang yang bisa di ganggu seenaknya, mengingat bagaimana pria itu melawan musuhnya.


aina duduk di depan Ryan yang sedang di obati oleh dokter yang di panggil ke rumah.


Bahkan Ryan tersenyum saat dokter itu menjahit beberapa luka yang terbuka.


"apa tak sakit," tanya dokter keluarga itu.


"tidak paman," jawab Ryan yang mengusap air mata Aina.


"jangan menangis lagi, seharusnya aku membuat orang-orang yang melukai mu itu membayarnya, kamu baru delapan bulan di pondok, tapi kamu mengalami semua luka-luka itu,"


"tidak masalah, tapi luka mas lebih buruk di bandingkan diriku,"


"ini luka kecil, dan aku masih tak bisa memaafkan dia yang berani mengunduli rambut mu, mereka sudah keterlaluan," marah Ryan.


Tiba-tiba juragan baton masuk kedalam kamar dengan membawa beberapa kertas.


"itu adalah semua data milik kelima orang yang melukai Aina, jika bisa balas saja toh kamu juga sudah belajar bisnis, dan tau apa itu dengan hukum membayar sesuai apa yang mereka lakukan,"


"tentu ayah, aku seorang pebisnis dan juga seorang yang pendendam, mata di balas mata, jadi aku akan membuat semuanya adik kan," kata Ryan yang tersenyum.


"mas jangan lakukan itu," mohon Aina.


"tidak, aku memang harus mulai merantau untuk beberapa tahun, dan selama aku pergi, tolong jaga dirimu, dan kamu bisa belajar dengan tenang di rumah ini,"


"tapi kenapa harus pergi?"

__ADS_1


"sudah dek, ini adalah yang selalu di lakukan oleh keluarga juragan Baron, jadi aku juga harus merantau untuk membuktikan jika aku sudah pantas untuk menikah dan bertanggung jawab pada keluargaku," kata Ryan yang menyakinkan Aina.


__ADS_2