
juragan Baron hanya tersenyum saja melihat tingkah dari ibu mertuanya, bagaimana tidak, Wanita itu sudah ketahuan sendiri.
"ada apa mas, ketahuan apa? Ibu," tanya Wulan yang bingung melihat kedua orang itu.
"itu sayang-"
"tidak ada apa-apa Wulan, sudah jangan dengarkan ucapan suami mu yang ingin bergosip, mulut pria itu tidak di ciptakan untuk melakukannya, jadi jangan jadi mulut ember," kata Bu pawoh.
"ibu kenapa sih, orang mas Baron hanya ingin bercerita, kenapa ibu seperti tak suka begitu," ujar Wulan yang merasa tak suka mendengar ibunya merendahkan suaminya.
"tenang sayang,kenapa kamu jadi marah juga," kata juragan Baron yang mencoba membuat istrinya itu tenang.
"tapi mas,"
juragan Baron memberikan anggukan kepala agar istrinya itu tenang.
__ADS_1
"iya maaf ya Bu, aku bukan ingin menggosipkan siapapun, tapi alangkah baiknya jika memang kalian saling mencintai jujur saja dan menikah, apa ibu tak takut jika akan membuat nama baik ibu dan keluarga putri ibu ini tercoreng,"
Wulan hanya bisa diam mendengar ucapan suaminya, dia pun kini paham kenapa ibunya marah.
"jika ibu kesepian karena aku menikah,ibu bisa menikah, toh ibu sudah menjanda cukup lama, dan tak salah jika punya pasangan lagi, aku akan menerimanya, asal dia tak menganggu dan mengusik ketenangan keluarga ku," kata Wulan yang mengatakan semuanya dengan memendam hancurnya hati.
Bagaimana tidak, dia tak menyangka akan mengatakan hal seperti itu di usianya.
Tapi itu bukan masalah besar karena sekarang dia memiliki sandaran kuat untuk menjadi dukungan terbesarnya.
"akan memalukan jika ibu merebut suami orang dan menjadi wanita jahat, dan beritahu aku siapa dia?" tanya Wulan yang penasaran.
juragan Baron memijat dahinya, kenapa istrinya kembali lemot saat seperti ini.
"dia Dikin, dan kami tak menyangka jika bisa saling melengkapi, dari semua hal," kata Bu pawoh.
__ADS_1
"kenapa harus orang juragan Sukoco, ibu tau bagaimana pria tua itu terus menginginkan diriku untuk jadi istrinya, meski aku sudah bersama dengan mas Baron," kata Wulan tiba-tiba meninggi.
"sayang tenanglah, kenapa kamu jadi emosional begini, jika dia jadi dengan ibu,dia bisa mengurus sawah milik kalian dan berhenti dari pekerjaannya, dan jika dia berulah, itu akan jadi urusan ku," kata juragan Baron.
"baiklah mas, aku akan meminta mu sebagai suamiku, agar bagaimana caranya agar pria itu harus mau menikahi ibuku," kata Wulan yang sebenar sedikit malu.
Semua pun akhirnya kondusif, dan dari tadi mereka lupa jika ada Ryan, dan bocah itu hanya diam tak mengerti apa yang di bicarakan oleh para orang tua.
Setelah makan siang, Wulan dan Ryan pulang, sedangkan juragan Baron harus kembali ke gudang dan beberapa tempat untuk kulakan.
Bagaimana pun dia di kenal sebagai tengkulak yang sangat baik itulah kenapa banyak yang memilih hasil panennya di beli oleh juragan Baron di bandingkan di jual di orang lain.
Wawan dan Sardi mengikuti kemana juragan Baron dapat telpon. Dan sekarang mereka berhenti dulu di sebuah rumah gubuk yang di tempati oleh seorang ibu dan juga anak serta cucunya.
Wanita itu adalah Mak Ijah yang terkenal sebagai pemandu jenazah di desa itu.
__ADS_1
Dan juragan Baron selalu mengirimi wanita itu sembako setiap bulan, ya meski sudah menikah tapi pria itu tetap perhatian pada orang yang mau memandikan jenazah istrinya yang kondisinya cukup buruk dulu.