
Sesampainya di rumah, Ajeng membuka pintu kos yang di tinggali suaminya itu.
Ya untuk sementara selama bekerja di desa untuk membangun beberapa proyek, mas Andi memilih kost.
ya sebenarnya lebih enak jika tinggal di rumah ibu mertuanya saja, tapi dia merasa tak enak.
entahlah karena dia takut dengan ibu mertuanya yang masih suka memakai baju yang sedikit terbuka.
Bagaimana tidak takut, dia ingat benar saat pertama kali berkunjung ke rumah istrinya itu.
Mak Tun yang memang punya tubuh terawat, bisa mengenakan daster kaos tanpa lengan dan panjang daster itu sendiri hanya setengah paha.
Dia pun harus pandai-pandai menjaga matanya, dan itulah yang membuatnya tak nyaman.
"mas mau di buatkan kopi dulu,aku mau mandi," kata Ajeng yang membawa air putih.
Dan wanita itu sudah mengenakan handuk untuk menutupi dirinya. Melihat itu mas Andi tentu saja tertarik.
"kalau begitu kita mandi bersama, kan aku butuh bantuan untuk menggosok punggung ku," kata pria itu tersenyum.
Ajeng pun senang, karena suaminya ini benar-benar pria yang sangat perkasa, dan dia suka itu.
kadang dia yang di buat kuwalahan oleh suaminya itu, hingga kini keduanya masuk kedalam kamar nanti bersama-sama.
setelah mandi bersama, keduanya bahkan makan sepiring berdua, dan menikmati waktu selalu berdua.
hingga akhirnya mas Andi tertidur sekitar pukul delapan malam karena kelelahan.
ya bagaimana pun pria itu sangat lelah karena kegiatannya di tempat proyek.
Sedang Ajeng sendiri masih rebahan sambil melihat dan men-scroll tikt*k dan juga f*ceb**k.
Dia butuh informasi dan hiburan, hingga dia lupa waktu, dan setelah lelah akhirnya dia pun tertidur dengan pelukan suaminya itu yang membuatnya sangat nyaman.
sedang di rumah Mak tun, wanita itu sedang melakukan ritual bersama dengan pris yang dia sukai.
karena pria itu yang memberitahu jika dia bisa mengeluarkan aura negatif dari tubuh wanita itu.
Dan meskipun butuh usaha besar tapi dia tak keberatan membantunya.
__ADS_1
Entahlah itu benar atau tidak dia juga tak tau, jadi dia pasrah saja menerina semua yang di lakukan oleh pak Tarjo.
esok paginya, Ajeng dapat telpon dari keluarga suaminya, lebih tepatnya adalah adik iparnya.
"assalamualaikum," salam Ajeng yang kelelahan dan madih mengantuk karena suaminya tadi subuh kembali menghajarnya tanpa ampun.
Bahkan mereka saja masih belum beranjak dari kasur karena sedang menikmati waktu istirahatnya.
"mbak karena hari ini libur, mau kan datang ke rumah, karena keluarga kita akan berkumpul semua di rumah," kata wanita itu dari sebrang telpon.
"iya... Tapi agak siangan ya, karena mas sepertinya masih sangat lelah....mmm,"
"iya deh aku tau pengantin baru, yang kuat ya dengan kakak ku itu," kata wanita itu sebelum mematikan ponselnya.
pasalnya sekarang mas Andi kembali menikmati olah-raga pagi hari.
"mas.. "
"olahraga tambahan dek, setelah itu kita bersiap untuk berangkat," kata pria itu yang akhirnya puas.
Ajeng benar-benar tak bisa lepas dan terus ketagihan juga, setelah siap mereka pun berangkat dengan motor milik mas Andi.
Mereka juga membawa bingkisan untuk semua keluarga pria itu, sedang di rumah Mak tun, wanita itu benar-benar terkapar tak berdaya
Entahlah dia tak sadar berapa ronde dia nikmati malam tadi, yang penting sekarang dia harus bersih-bersih.
Di rumah ibu pawoh, pagi ini kedatangan anak dan menantunya, ya mereka hanya main karena Wulan terus merengek ingin ke rumah ibunya.
karena juragan baron tak mau istrinya kecewa, jadi dia menuruti kemauan wanitanya itu.
"sekarang sudah di sini, kamu mau apa, tadi katanya terus merengek ingin ketemu ibu," ledek pria itu.
"aku memang ingin bertemu ibu, dan mas jangan terus meledek ku seperti ini," kata Wulan yang malu.
"keneoa harus malu sih, ini rumah ku nduk, mending mau minta di masakin apa bilang saja," tanya psk dikin yang kini benar-benar seperti ayah Wulan sendiri.
Bahkan pria itu adakah orang yang paling khawatir jika ada telpon mendadak dari juragan Baron.
"sebenarnya aku ingin makan rica-rica angsa, tapi karena tak boleh makan pedes, boleh ya tanpa cabai juga gak papa kok," kata Wulan memohon.
__ADS_1
"boleh sih,tapi angsanya harus beli dulu, bapak dan Baron coba pergi ke pasar pon ya, beli angsa dua," kata Bu pawoh.
"kok banyak banget Bu?" tanya juragan Baron heran.
"sudah ikuti saja perkataan ibu, karena jika kamu beli satu, aku jamin kalian tak akan ikut makan sebab dua orang ini sangat menyukai unggas satu itu," kata Bu pawoh.
"baiklah, aku akan membelinya, ada titipan kagi sayang?" jawab pak Dikin yang memdng sangat mesra dengan bu pawoh.
"beli telur ayam kampung, dan jangan lupa susu kaleng beruang itu, karena susu milik mu sudah habis," kata Bu pawoh.
"siap nyonya," jawab pria itu yang tersenyum.
sedang Wulan tak percaya dengan apa yang di dengarnya, kedua orang itu selalu membuat ramuan hebat itu ternyata.
Padahal dia yang pernah mencoba sekali saja kapok karena suaminya seperti orang tanpa rem, dan tak tau tempat.l,hingga di manapun masuk pak Ekoš¤.
"Bu aku tak sangka," kata Wulan terkejut
"sudah hentikan tatapan mu itu, sekarang bantu ibu membuat bumbu, karena bumbu itu harus Tanak sebelum di gunakan," kata Bu pawoh.
Tadi dia juga sempat menyentuh perut putrinya itu dan merasa jika bayi itu baik-baik saja, bahkan tadi dia juga sempat mendoakan cucunya itu dengan aksara Jawa yang entah hanya dia yang tau artinya.
Kedua pria itu membawa motor matic, dan sesampainya di pasar pon,mereka langsung menuju ke area khusus penjual unggas.
Mulai dari ayam pedaging, ayam jago, ayam kampung muda, burung dara, angsa dan kalkun juga ada.
"pak berapa harga BANYAK (angsa) nya?" tanya juragan Baron.
"yang besar seratus sepuluh mas, kalau dua dua ratus saja," kata pria itu.
"boleh saya ambil, dan tolong sekalian potongkan dan bubut bulu juga ya," kata juragan Baron yang tau mau repot.
Terlihat pedagang itu sudah biasa, ternyata pak Dikin juga dapat pesan dari istrinya.
"pak potong sekalian jadi dua belas bagian, dan lehernya jadi tiga," kata pria itu.
"siap pak," jawab pedagang itu.
Ternyata pak Dikin tertarik dengan kalkun yang ada di sana, tapi karena terlalu besar jadi dia mengurungkan niatnya karena jika tak ada acara maka akan repot jika harus makan cuma berdua.
__ADS_1
"pak burung dara aku minta sepuluh ya, dan tolong bersihkan juga," kata juragan Baron yang ingat dia pernah makan burung dara goreng itu sangat enak.
Di tambah burung dara yang di jual di pasar itu cukup gemuk untuk ukuran unggas itu.