
Tanpa terduga hujan yang mulai dari pukul satu pagi itu, bertahan hingga pagi hari.
Bahkan Aina yang ingin berbelanja pun mengurungkan niatnya,sebab tak bisa keluar karena hujan, karena hujan itu tak ada tanda-tanda untuk reda juga.
Dia pun memilih kembali ke lantai dua, dan memilih untuk kembali ke dalam selimut bersama suaminya.
Ryan kaget melihat tingkah istrinya itu, bahkan sekarang Aina sudah ndusel-ndusel memeluknya. "loh sayang, tidak jadi belanja?" tanyanya dengan lirih, dengan memeluk tubuh istrinya agar kembali hangat.
"Tidak jadi ah Mas, di luar hujan, dan tidak bisa keluar, terlebih kita tidak punya payung," jawab Aina tersenyum geli karena membayangkannya.
"Hah? tidak punya payung? kamu jangan bercanda Dek, Masa iya kita nggak punya payung satupun?" tanya Ryan Yang tiba-tiba bangun.
"Ih dikasih tahu nggak percaya," kata Aina mencubit tombol kecil di da** suaminya itu karena kesal.
"Ya sudah nanti beli ya, aku tak menyangka jika aku lupa untuk membeli benda itu," kata Ryan, yang kembali merebahkan dirinya di ranjang.
Sedang di rumah Kevin, dia dan istrinya juga masih berkutat di balik selimut, mereka berdua sedang malas karena hujan turun cukup deras.
"Sudah Mas lepaskan, aku harus kuliah, ini hari pertama jika aku telat, bisa diomeli oleh para Kakak mahasiswa,"panik Laila yang berhasil lepas setelah bersusah payah dan berhasil ke kamar mandi.
"Janganlah kejam begitu sayang, aku masih ingin bersamamu" mohon Kevin dengan nada suara seperti anak.
"kamu sangat menyebalkan Mas!!" kata Laila dari balik pintu kamar mandi.
Pukul sembilan pagi Aina dan Laila sudah sampai di kampus baru mereka, keduanya terpaksa menggunakan mobil karena keadaan yang benar-benar mendesak.
untungnya Tadi mereka sempat mampir untuk membeli payung terlebih dahulu.
Mereka Langsung berjalan menuju ke Aula yang telah ditentukan oleh para senior, sesuai dengan isi email yang di kirimkan kemarin.
beruntungnya mereka belum terlalu terlambat, karena acara juga belum di mulai.
"Maafkan kami yang terlambat, boleh kami ikut bergabung," tanya Aina dengan sopan
"Untuk sekarang silakan menuju ke tempat Kalian, dan cari tempat kosong," kata seorang gadis yang merupakan kakak senior disana.
Akhirnya Aina Dan Laila pun duduk di salah satu baris tempat para wanita, menunggu instruksi dari kakak senior selanjutnya.
"Jadi ya adek-adek semua, kita akan memulai memperkenalkan tempat kuliah yang akan kita tempati beberapa tahun ke depan, Ingat jangan ada yang melakukan hal-hal aneh,
Terlebih ini musim hujan, jadi jangan ada yang memancing keributan mengerti,"
"Baik Kakak senior," jawab semua mahasiswa baru itu.
Ya kegiatan ospek diganti dengan kegiatan memperkenalkan kampus pada mahasiswa baru.
Mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan ospek, di luar hujan sangat deras, takut malah melukai semua para peserta ospek.
Mereka semua dibawa berkeliling ke area-area kampus, dan saat melewati area kampus seni, mereka mendengar sayup-sayup ada yang sedang nembang Jawa dengan kental, dan ternyata ada beberapa orang yang sedang menari di tengah guyuran hujan di depan fakultas itu.
Tanpa sadar Aina pun menirukan alunan tembang Jawa itu dengan fasih.
"Kidung kedresaning kapti,
Yayah nglamong tanpa mangsa,
Hingan silarja jatine,
Satata samaptaptinya,
Raket rakiting ruksa,
Tahan tumaneming siku,
__ADS_1
Karasuk sakeh kasrakat.
Sang dyah sukune mung siji
Atenggak datanpa sirah
Ciri bengkah pranajane
Tinalenan jangganira
Sinendhal ngasta kiwa
Ngaru ara denya muwus
Sarwi kekejek kekitrang," lirih Aina mengejutkan semua orang.
"Ah Maaf ... apa aku menakuti kalian, aku sudah menyukai tembang-tembang Jawa dari kecil, dan ayahku juga punya keturunan sebagai dalang sebenarnya, Tapi ya karena dia tidak punya bakat jadi tidak bisa meneruskan semua yang diinginkan oleh kakek nenekku," jawab Aina yang membuat semua orang pun mengangguk mengerti.
Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan mereka berkeliling ke semua fakultas, dan berakhir pas di jam dua belas siang untuk istirahat isoma.
Dan akan di lanjutkan lagi pukul satu siang nanti, Saat sedang istirahat, tiba-tiba seseorang menepuk punggung Aina dan laila.
"hei, kalian melupakan teman kalian yang satu ini," kata gadis itu dengan kesal bahkan menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
Aina yang melihat itu, hanya bisa tertawa melihat tingkah sahabatnya yang satu lagi.
"Maafkan aku Diana, Aku tak sangka jika kamu juga akan kuliah di sini. kan waktu itu, kamu mengatakan akan kuliah di Kota Surabaya, kenapa sekarang berakhir di sini?" tanya Aina dengan tatapan bingung. ya sebenarnya itu cuma pura-pura.
"Semuanya berantakan, gara-gara kalian menikah muda Berdua, dan meninggalkan aku begitu saja, betapa teganya kalian berdua, hu-hu-hu-hu-" tangis gadis itu di buat-buat.
"Aduh, maafkan kami ya, habis kami sudah menemukan jodoh kami." kata Laila yang membuat Diana Makin kesal mendengarnya.
"Apa? kamu tidak sadar diri, jika kamu tidak peka Laila." kesal diana yang hampir membocorkan jika gadis itu di sukai oleh beberapa pria.
"Pikir saja sendiri, dasar tak peka,"
"Sudah-sudah, jangan berantem, kita ini tetap teman dan juga sahabat. Jadi Ayo kita pergi ke kantin yuk aku lapar dan jangan buang waktu istirahat untuk bertengkar," kata Aina
"Tunggu dulu Aina, aku merasa aneh denganmu, Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu mudah merasa lapar?" tanya LaiLa.
"Namanya juga orang lapar, aku nggak tahu Non, jadi kita berangkat atau kamu mau tunggu di sini, silakan saja," Jawab Aina yang berlalu begitu saja.
saat mereka sampai di kantin, ternyata tempatnya sudah sangat ramai.
untungnya mereka pecah tim untuk memesan. Aina memesan makanan, Laila bertugas memesan minuman. dan Diana memesan camilan.
Setelah itu mereka mencari tempat kosong dan segera makan.
Untungnya Aina memesan nasi pecel porsi komplit untuk membantu menaikan energi mereka lagi.
benar saja, tak lama hujan reda dan kegiatan di luar ruangan pun di lakukan.
Aina dan yang lain sudah bergantian untuk berganti baju, karena mereka di minta untuk mengunakan setelan olahraga.
Setelah itu, mereka langsung di minta lari di lapangan bola sebanyak tiga kali.
Setelah itu mereka di minta untuk melakukan latihan merangkak.
Aina tak habis pikir, ini sebenarnya sedang di ospek, atau sedang melakukan pendaftaran akademi Abdi negara.
setelah itu, pukul tiga sore semuanya sedang bersih-bersih dan setelah beres mereka pun di izinkan pulang.
"kalian tadi bawa motor gak, aku nebeng dong," kata Diana yang berjalan bersama dua temannya.
__ADS_1
"aku tadi bawa mobil, silakan saja, kalau mau nebeng, kita ke parkiran dulu," kata Aina yang melihat beberapa mahasiswa sedang berdiri dan berfoto di depan mobil milik suaminya itu.
"maaf permisi, apa anda berdua bisa minggir, saya ingin pulang," kata Aina dengan sopan.
"maaf ya, kamu siapa, orang miskin saja mau ngaku ini mobil mu," kata para mahasiswa itu.
Diana juga tau jika mobil itu tak mungkin mobil yang di bawa Aina.
"Aina sudah ayo cari mobil ku saya," mohon Diana yang tak mau berurusan dengan para senior itu.
Karena kesal, Aina langsung menyalakan mobilnya dengan kunci, dan suara knalpotnya pun membuat semua orang kaget
"sudah ku bilang, aku harus pulang," kata aina yang langsung masuk kedalam mobil di ikuti laila.
"jadi nebeng gak," tanya Laila saat sudah duduk di kursi samping pengemudi.
"iya..."
Diana segera masuk, dia tak menyangka mobil sedan mewah itu milik Aina.
karena terakhir kali Aina hanya membawa mobil panther milik pak Dikin itupun sudah cukup lama.
"siapa gadis itu, dia masih sangat muda, tapi mobilnya sangat bagus, dia anak orang jaya dari mana?" tanya mahasiswa itu
Aina segera mengantarkan Diana dulu, "kalian mau mampir?"
"tidak usah, aku harus pulang karena suamiku tau jadwal ku, duluan ya," pamit Aina.
Laila pun melambaikan tangan pada sahabatnya itu, dan mobil mewah itu pun pergi dari rumah Diana.
"siapa itu Diana, kenapa tak di ajak mampir dulu," tanya ibu gadis itu.
"dia itu sahabat ku yang menikah muda dulu loh Bu, sudah aku mau ganti baju karena tak nyaman," jawab Diana yang langsung pergi ke kamarnya.
Setelah beberapa lama, akhirnya Aina sampai di rumah, dan terlihat Ryan sedang berada di balkon kantor miliknya.
Aina pun bergegas masuk dan memilih untuk mandi karena dua merasa tubuhnya belum bersih.
"kenapa kamu sampai mandi lama banget dek?"
"aku tadi habis main lumpur, rasanya tubuh ku sangat kotor," jawab Aina yang sedang mengeringkan rambutnya.
Ryan pun membantu istrinya itu, dan setelah beres, Ryan mengajak Aina ke kantor.
Mereka langsung memeriksa laporan bersama, itu selalu di lakukan Ryan untuk menunjukkan bagaimana cara dia bekerja.
pukul enam sore, pekerjaan itu selesai, dan Ryan pun berdiri di balkon sambil merokok.
Sedang Aina membuat kopi dan teh untuk mereka, dan kemudian mereka berdua pun menikmati waktu malam hari bersama.
"apa yang sedang mas pikirkan?"
"entahlah dek, aku merasa jika kita berdua seperti ini, sangat sepi ya,"
"maafkan aku jika kita belum memiliki anak," lirih Aina
"hei kamu ngomong apa, kita baru nikah dua Minggu, jadi jangan mengatakan hal aneh,"
Tiba-tiba sebuah motor datang, mbak Aiba, kami numpang nginap ya!!" teriak Raisa dan Raina yang datang.
"gak ada, pulang sana!!" usir Ryan.
"sudah masuk dulu," kata Aina yang membuat Ryan kesal
__ADS_1
Tapi Aina hanya tersenyum dan langsung menuju ke rumah untuk menyapa dua adiknya itu.