Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
kemarahan ayang


__ADS_3

Sedang di rumah juragan Baron, sekarang ada dua wanita yang sedang benar-benar marah pada para suami mereka, yaitu Bu pawoh dan Wulan.


Keduanya sedang mendiamkan suami masing-masing karena ulah kedua pria itu yang semalam bikin emosi.


Bagaimana tidak, keduanya pulang dengan mabuk dan minta jatah dengan paksa.


"kamu juga marah," tanya Bu pawoh.


"tentu saja Bu, mas kemarin malam sangat menyebalkan, bisa-bisanya pulang mabuk, main tusuk saja, emang di kira aku ini apaan," kata Wulan marah ydng sedang menyusui Raisa.


"sama tuh, bapak mu juga gila tak ingat umur, bisa-bisanya malah melakukan hal yang bisa membuatnya encok semalam, wes minuman keras ini berbahaya, sudah tak usah di ajak bicara dulu biar tau rasa," kata Bu pawoh yang di setujui oleh Wulan.


Sedang dia pria itu kini bingung, keduanya sedang ada di daidm dapur dengan pikiran campur aduk.


"pak kita harus minta maaf, tapi dengan apa?" tanya juragan batin yang bingung.


"bagaimana dengan lagu," usul pak Dikin.


"boleh lagi apa?" tanya juragan Baron bingung


"Aku berani bersumpah kepadamu


tak mungkin lagi ku sakiti hatimu


'Ku tahu dahulu aku yang bersalah


tapi kali ini aku menyadarinya


Aku mengharapkan rujuk kembali


aku tak kuasa jauh darimu


baru kali ini aku merasa membutuhkanmu.


Sedih 'ku rasa berpisah dengan mu


karena tiada tempat 'ku mengadu


Kasih dengarkanlah ratapan hatiku


yang setiap saat memanggil namamu.


Semoga kau buka pintu di hatimu


untuk memaafkan semua kesalahanku


Itulah yang 'kuharapkan darimu oh sayang," suara pak Dikin yang sedikit fals membawa bunga plastik dari hiasan rumah.


"pria tua gila, kamu mau membuat ku marah," kesal Bu pawoh yang kesal.


"kamu juragan, tak punya usaha sama sekali, menyedihkan sekali aku punya suami begini," kata Wulan yang membuat pria itu terdiam


"Sungguh ku sesali

__ADS_1


Nyata cintamu kasih


Tak sempat terbaca hatiku


Malah terabai olehku


Lelah ku sembunyi


Tutupi maksud hati


Yang justru hidup karena mu


Dan bisa mati tanpamu


Andai saja aku masih punya


Kesempatan kedua


Pasti akan ku hapuskan lukamu


Menjagamu memberimu


Segenap cinta


Kusadari tak selayaknya


Selalu penuh kecewa


Bahagia karena cintaku


Andai saja aku masih punya


Kesempatan kedua


Pasti akan ku hapuskan lukamu


Menjagamu memberimu


Segenap cinta..."


mendengar itu Wulan mencubit pipi suaminya, "itu yang semalam adalah yang pertama dan terakhir, jika mas melakukan hal seperti itu lagi, habis kamu mas," kata Wulan yang mengancam.


Siang itu mereka pun sepakat untuk makan di luar, toh sekarang si kembar juga sudah bisa di ajak jalan-jalan karena sudah selapan.


sekalian menjemput Ryan pulang sekolah, mereka mampir ke restoran yang punya area no smoking karena bawa balita.


Wulan tampaknya sangat senang melihat ketiga anaknya begitu rukun, terlebih Ryan yang merasa tak di kucilkan meski mempunyai dua adik Baru.


Karena bagi juragan Baron, semua harus Ryan dulu baru putrinya, karena Ryan karena dia tak mau putranya itu salah sangka dan salah mengira.


setelah makan, mereka pun pulang dan makan nanti kedua pria itu ada kundangan di rumah iak lurah karena baru melaksanakan tujuh bulanan istrinya.


sedang di rumah Andika, pria itu sedang kesulitan untuk mandi, tapi Wati pun mengetik pintu dan menawarkan diri untuk membantu pria itu.

__ADS_1


"saya bisa bantu osk, dari pada lukanya semakin parah terkena air,"


"tidak Wati, aku takut kamu melihatku dalam kondisi yang tdk seharusnya," kata Andika menolak.


"tak masalah pak, toh itu juga sudah pernah terjadi," kata wanita itu pasrah begitu saja.


Jika Andika begitu menghargai Wati, kenapa harus seperti itu, bukankah tubuhnya sudah di beli dengan harga tujuh ratus juta itu.


Wati membantu membersihkan seluruh tubuh pria itu,bahkan wanita itu tamiak biasa saja saat melihat yang tak seharusnya.


karena Wati dulu juga pernah merawat neneknya yang sakit stroke jadi terbiasa seperti ini.


Setelah itu Andika mrmdkai baju di bantu Wati, dan juga mengobati lukanya juga di bantu gadis itu.


Tapi anehnya hanya Andika yang merasa tak nyaman, tapi raut wajah Wati tampak datar saja tanpa reaksi.


Setelah semuanya, Wati juga membuat makan malam simpel, ketiganya mdkan bersama dengan Wati selalu mengutamakan Aina.


Setelah makan malam, aina tidur lebih cepat karena kekalahan tadi main di luar bersama anak-anak tetangga.


Sedang di sisi lain, ada Andika yang tersiksa karena tak bisa membuat dirinya rileks,


"baik saya pulang dulu ya," pamit Wati ydng mengetuk pintu dan membuka pintu kamar.


"iya silahkan pergi," kata Andika yang menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut.


Tapi tentu saja telihat orang tegak berdiri, Wati pun ingat jika pria itu belum minum obat, setelah itu dia memberikan obat merah.


melihat gadis itu begitu telaten mengurus dirinya, Andika memberanikan diri meminta bantuan.


"bisa kamu membuatnya tidur juga," kata pria itu tanpa malu.


Dengan santai Wati langsung melakukannya, Andika tak menyangka gadis itu kenapa begitu mahir, tiba-tiba dia teringat kejadian buruk itu lagi.


Dia yang memaksa wanita seperti ini, tapi itu membuatnya gila, bahkan dengan cepat dia pun sampai.


"kamu benar-benar begitu cepat belajar dan bisa membuat ku gila seperti ini Wati, mau menikah dengan ku?" tanya Andika yang membuat Wati kaget.


"kenapa mau menikah dengan ku yang bodoh ini pak, jika anda merasa bersalah tidak usah, karena aku sudah dapat kompensasi dari anda," kata Wati.


"tidak, karena aku menyukai mu dalam mengurus Aina itu nomor satu, dan dalam kamu memanjakan diriku dan juga mengurus rumah, di tambah lagi kamu adalah tipe wanita ku, jadi mau menikah dengan ku secepat," kata Andika yang tak bisa menundanya lagi.


Kaena dia tak mau menambah dosa, jadi lebih baik menikah dan dengan bebas melakukan apapun iada istrinya bukan.


Itu memang baik, "kalau begitu temui keluarga ku dan minta aku pada mereka dengan baik-baik," kata Wati


"tentu saja, besok kita kesana, Seno yang akan menunjukkan jalan dan semoga nenek mu mau menerima ku yang tak tak punya apa-apa ini ya," kata Andika yang tak sabar.


Dia pun mencium bibir Wati, tiba-tiba adiknya itu bangun lagi dan akhirnya Wati langsung memberikan servis terbaiknya.


Dan itu membuat Andika gila, karena gadis itu bisa melakukan hal itu dengan santai padahal Andika sudah mabuk kepayang.


Setelah itu keduanya tidur karena lelah, Andika pun tak keberatan dengan adanya Wati di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2