
Sedang di tempat bermain di salah satu teman,pak Dikin sedang bermain dengan dua cucunya yang tampak sangat senang berlarian kesana kemari
Dan beberapa orang sepertinya menatap ke arah mereka, tapi Bu pawoh tak peduli
Meski dia di kira wanita yang tak tau usia karena memiliki anak di usianya, yang terpenting bisa melihat dua cucunya itu bahagia.
"Mbah uti,"panggil Raina.
"iya sayang, mau apa?" tanya wanita itu dengan lembut.
"es," kata bocah itu mengulurkan tangannya.
"Raina,kita baru sampai kenapa langsung minta minum es, sekarang kita makan atau jalan-jalan saja ya," ajak pak Dikin yang tak ingin gadis kecil itu akan terus minum es.
"iya," jawab Raina yang lari ke arah mbah kung nya, pasalnya Raisa sudah di gendong di sebelah kanan.
Mereka berempat pun duduk sambil mengelar tikar, dan kedua gadis kecil itu tiduran sambil mendengarkan Bu pawoh bercerita.
Sedang di rumah, proyek dadi Ryan sudah tampak jadi dan terlihat kelompok mereka ingin membuat apa.
Dan sekarang mereka hanya perlu mewarnai saja bangunan dan juga semua atribut yang lain.
__ADS_1
"Ryan, bagaimana caranya kita bisa membawa ini kesekolah, lihatlah ukuranya saja sangat besar, terlebih setiap detail juga terlihat begitu nyata, takutnya akan rusak jika membawa motor," kata Della.
"kenapa kamu begitu bingung, nanti biar aku di antar oleh ayah ku dengan mobil bak terbuka, itu lebih aman," jawab Ryan yang sibuk mewarnai semua proyeknya.
Tak lama mobil juragan Baron datang, dan Wulan serta juragan Baron kaget melihat keenam bocah itu masih sibuk dengan semua peralatannya.
"assalamualaikum..." dalam Wulan
"wa'alaikumussalam..."jawab semuanya menoleh dan langsung menyalami kedua orang tua Ryan.
"kalian sudah makan siang, Ryan," tanya juragan Baron.
"belum ayah, tinggal sedikit lagi,karena takut di kembar akan segera pulang," kata Ryan yang fokus dengan kuas di tangannya.
"terima kasih Bu juragan," jawab ketiga gadis itu
"panggil Tante saja, kalian tak perlu seformal itu, ayo kak, itu temannya di ajak masuk dulu,"
"iya mama, dan pak lek Toni titip ini jangan sampai ada yang sentuh ya," kata Ryan.
"siap mas bos," jawab pria itu.
__ADS_1
Sedang juragan Baron mengacak rambut putranya itu dan langsung merangkulnya.
"aduh sejak kapan putraku ini tumbuh besar," kata pria itu dengan senang.
"kami juga tumbuh tinggi loh om," kata Ivan.
"iya kamu juga tumbuh tinggi, tapi kenapa dengan bobot tubuh mu,"
"ah itu aku terlalu suka mie instan," jawab Ivan.
"dasar Ivan tidak berubah, terus para gadis cantik ini dari mana asalnya apa satu desa?" tanya Wulan ramah.
"tidak Tante, kamu berasal dari desa tetangga," jawab Luna dengan sopan.
"putrinya pak Prayetno kan, dari desa bubukan," tanya juragan Baron yang mengenali gadis itu.
"iya juragan," jawab Luna yang malu karena selama ini di rumah dia tak pernah mengenakan jilbab.
"owalah, gadis yang pernah menangis karena memecahkan telur suruhan ibunya itu?" tanya Wulan yang langsung membuat Luna malu.
Tapi Wulan yang melihat reaksi dari Luna pun merangkulnya, "kamu masih setengah kilo itu pun karena kecelakaan, aku dulu malah satu krat karena sedang ngambek," kata Wulan yang membuat Luna tak percaya.
__ADS_1
Sedang juragan Baron mengeleng pelan, dan mulai mengajak semua untuk mulai makan siang karena pasti sudah sangat lapar.