
Ajeng duduk setelah mandi, dia membuat kopi, sedang juragan Sukoco merokok di kursi yang ada di kamarnya di dekat jendela.
dia duduk sambil melihat beberapa anak buahnya yang sedang berjaga di pos depan rumah.
"juragan Monggo kopinya," kata Ajeng yang menaruh kopi itu di meja.
"terima kasih, aku mau tanya, apa kamu tak merawat tubuh mu?" tanya juragan Sukoco.
"apa maksudnya juragan?" tanya wanita itu tak mengerti.
"ya aku hanya tanya, kenapa rasanya begitu longgar dan tak menggigit, padahal setahuku dari anak buah ku, bahkan Dikin sampai tergila-gila pada bude mu yang ternyata lebih hot sepertinya, di tambah Dikin ini pria yang tak sembarang bisa jatuh hati pada wanita," kata juragan Sukoco.
"memang kami tak sama, apa itu mengecewakan anda juragan, tapi ya aku akan meminta resep agar bisa seperti wanita yang anda inginkan," kata Ajeng yang merasa di hina.
Pria itu mengeluarkan uang, tapi saat Ajeng mengambilnya membuat dia kaget, karena uang itu tak sebanyak seperti pertama kali dia melayani pria itu.
"tak usah protes, itu bayaran mu, karena kali ini aku tak puas,jadi lain kali saat aku panggil ku harap kamu sudah mempunyai tubuh yang terawat, toh minta resep juga tak masalah bukan," kata pria itu santai
Ajeng langsung pergi meninggalkan rumah itu dengan mengunakan jaket hitam miliknya.
dia merasa sangat terhina, dia tak mengira jika pria tua menyebalkan itu akan mengatainya.
pagi ini, Wulan sudah menyiapkan kue untuk suaminya, bahkan juragan Baron yang baru bangun pun langsung memeluk istrinya itu.
"kenapa sudah sangat sibuk, padahal masih pagi," kata juragan Baron.
"memang tak boleh ya, aku sedang membuat kue agar bisa kamu bawa ke tempat kerja, nanti di bagikan ya,"
__ADS_1
"ibu juragan ini sangat cantik dan baik ya," kata pria itu gemas.
juragan Baron langsung mencium dan menikmati bibir lembut istrinya, hingga dia kaget karena mendengar suara Ryan.
"ayah bisa antar kakak ke sekolah?"
"iya kak," jawab juragan Baron kaget dan membuat Wulan tersenyum dan mengusap lipstik yang menempel di bibir suaminya itu.
"kakak mau sarapan pakai apa?" tanya Wulan yang menyiapkan piring untuk putranya dan juga suaminya.
"mau makan lele saja, tapi mau dua dan sayur asem," jawab bocah itu yang memang sangat suka semua jenis ikan.
setelah sarapan, juragan Baron siap mengantarkan putranya itu ke sekolah, tapi saat mobil baru pergi dari rumah.
tiba-tiba Wulan kaget saat melihat ada Ajeng yang masuk kedalam pekarangan rumah keluarganya.
"sudah tak usah bicara aneh-aneh, aku datang ingin meminta tolong padamu, apa bisa?" tanya Ajeng yang memang terkenal ketus.
"silahkan saja," jawab Wulan yang mengajak sepupunya itu masuk kedalam rumah.
Ajeng terdiam saat melihat rumah mewah itu, pasalnya dulu sebelum dia berangkat ke luar negri, rumah juragan Baron tidak seperti ini.
Tapi sekarang semuanya sudah sangat berbeda, bahkan lantai rumah saja terbuat dari marmer yang begitu mewah.
Dan di ruang tamu terpajang sebuah foto yang sangat besar, yaitu foto mereka bertiga.
"mau minum yang dingin atau yang panas?" tawar Wulan yang kedapur untuk mengambil minuman dan camilan
__ADS_1
"dingin saja," jawab Ajeng masih tak percaya.
bagaimana bisa, seorang pria menerima putra dari pria lain dengan sangat baik.
Tapi juragan Baron yang dingin itu punya sisi yang begitu baik, itu terbukti dengan kebersamaan antara pria itu dan Ryan.
bahkan dalam foto itu saja, kedua pria itu berdiri seolah sedang melindungi Wulan.
"apa foto itu berlebihan?" tanya Wulan yang mengejutkan Ajeng yang dari tadi fokus dengan foto keluarganya.
"tentu saja tidak, aku hanya kagum, bagaimana bisa ada pria sebaik itu,mau menerima putra mu?"
"aku juga tak percaya, tapi mas menang pria yang pantang menyerah, dia tak mendekati ku dulu tapi Ryan, dia bahkan membuat putra ku itu tak merasakan kekurangan cinta seorang ayah," jawab Wulan.
"baguslah sekarang kamu sudah bahagia, aku datang kesini untuk meminta resep jamu yang membuat suamimu itu lengket pada mu, ada?" tanya Ajeng.
"untuk apa mbak, jamu warisan keluargaku itu memang terkenal ampuh, tdpi efek sampingnya bisa membuat kita sulit hamil," kata Wulan.
"aku tau itu," jawab Ajeng
"baiklah kalau begitu, sekarang kita beli bahan untuk membuatnya, karena aku sudah tak membuatnya lagi setelah menikah," jawab Wulan.
Mereka ke pasar dan Wulan mulai membeli semua bahan, setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, mereka berdua pulang, dan memilih mampir ke tempat Bu pawoh.
Wanita itu yang sedang santai dengan iara tetangga kaget melihat dua sosok yang tak pernah bertegur sapa.
kini malah bersama datang ke tempatnya. "ada apa ini?" tanya Bu pawoh dengan senang.
__ADS_1