
"tapi anda yang sering menolong warga di desa ini," mohon Ilmi.
"aku tak sebaik itu, sudahlah urusan ku sudah selesai," kata juragan Baron pergi.
para warga merasa jika Ilmi itu aneh, pasalnya wanita itu terlihat begitu memohon pada keluarga juragan Baron.
Padahal pria itu sudah menolaknya, "lebih baik anda ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan," kata polisi yang mengajak Ilmi
Beberapa ibu-ibu sedang duduk sambil ngerumpi, "kalian tak melihatnya ya, uh... itu di Ilmi sepertinya tidak sebaik apa yang di tunjukkan deh, lihat saja tadi, bisa-bisanya dia memohon seperti itu kepada juragan Baron, padahal semua orang di sini tau, jika setelah berangkat haji, pria itu membatasi diri dari wanita yang bukan istrinya," kata Bu is.
"iya loh kamu benar yuk is, aduh dia itu menang tak sepolos yang terlihat, kalian lihat videonya tidak, ya tuhan bikin malu tau gak," kata Bu Ela.
"iya tuh,dia bahkan terlihat menikmati, sepertinya itu cuma akal-akalan dia saja," kata Bu Ina juga.
ya para wanita itu sangat tak menyukai Ilmi, terlebih banyak para pria yang peduli pada dirinya.
"ya semoga polisi mengetahui dan juga bakal ketahuan siapa yang bohong," kata Bu Ela juga.
Di warung yang tak jauh dari sana, Yudi tersenyum, dia tak menyangka jika ibu-ibu ini menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
ya dia harus repot untuk membujuk para warga untuk membenci Ilmi atau membuat nama gadis itu buruk.
Ibu-ibu di kampung itu sudah melakukannya, dan seperti badai, berita itu terus menyebar ke seluruh desa.
Kevin dan Ivan yang memang sedang bersama merasa kasihan pada Ilmi karena bagaimanapun gadis itu hidup sendiri.
"aku tak menyangka akan ada orang yang bisa melakukan ini pada wanita lemah, benar-benar pengecut," kata Ivan yang tampak marah.
"kenapa kamu marah, jangan bilang karena kamu menyukai Ilmi, padahal kamu tau benar siapa yang di sukai oleh gadis itu, bahkan kamu saja tak akan bisa membuatnya melihat mu, sadarlah..." kata Kevin yang langsung dapat lemparan sebuah roti dari Ivan.
"mulut mu itu bisa di jaga gak, kalau ngomong asal saja, asal kamu tau aku tak tertarik untuk menjadi suaminya, karena aku mencari gadis yang sempurna untuk jadi istriku," jawab Ivan yang membuat kevin tertawa.
"iya deh iya..."
Di sisi lain, Aina tak menyangka akan ada kejadian buruk yang membuat satu kampung heboh.
"jangan bengong saja dek, tanda tangan yuk, biar aku segera memberikan ini pada pak mudin," kata Ryan yang datang setelah mengurus segalanya di kelurahan.
__ADS_1
"tapi kenapa kita harus buru-buru menikah mas?" tanya Aina.
"karena aku tak ingin kamu di rebut oleh orang lain," jawab Ryan jujur.
Aina pun menandatangani surat-surat yang di perlukan, bahkan surat untuk wali juga di setujui, toh dia juga tak tau keluarga ayahnya tinggal di mana.
"terima kasih ya, aku ke kelurahan sebentar ya dek,"
"kok malah pergi lagi Ryan," panggil mama Wulan.
"aku harus ketemu dengan seseorang, dan sekalian mengajukan ini agar pak mudin bisa mengurus segalanya," jawab Ryan yang langsung meninggalkan rumah orang tuanya itu
Ryan sampai di kelurahan dengan motor yang sudah lama tak pernah dia gunakan.
Dia langsung ke kantor tempat pak mudin bertugas, "pak tolong segera di urus ya, karena aku tak ingin menunggu lagi,"
"kebelet amat sih le, padahal Aiba juga baru lulus sekolah, kamu ini kalau sudah punya keinginan persis sekali dengan juragan baron,"
"namanya juga sudah hidup sebagai ayah dan anak selama ini," kata Ryan tersenyum.
"ya aku tdk mengira jika gadis yang seumuran dengan putriku, akan segera menikah tapi jika kamu punya teman yang baik dan punya tanggung jawab besar, bisa kenalkan dengan putriku," kata pak mudin tersenyum dan akan mengurusnya sekarang juga.
"tapi jujur saja, aku di bandingkan dengan Kevin dan Ivan, lebih menyukai Edo karena sifat dan perilakunya sangat baik," kata pak mudin yang berjalan dengan Ryan ke luar kantor desa.
"baiklah nanti saya bantu ngelobi, siapa tau bisa jadi kan lumayan ya pak mudin," kata Ryan yang memang juga membantu Edo.
Ya Ryan membantu temannya itu dengan memberikan modal usaha, dan sekarang Edo sudah berkembang pesat.
dan itulah menjadi pertimbangan pak mudin, terlebih Edo memang menantu yang di idamkan, bagaimana tidak jika seorang pria yang begitu baik pada ibunya, tak akan mungkin melukai istrinya.
saat dia akan pergi, tiba-tiba dia melihat Ilmi yang baru selesai melakukan pemeriksaan di kantor polisi dan di bawa ke kantor desa
melihat Ryan yang akan pergi, Ilmi ingin mendekati pria itu, tapi Ryan memilih melakukan motornya dengan cepat karena dia tak ingin bermasalah lagi dengan gadis itu.
"kamu itu tak tau malu ya, setelah mencoba menggoda ayahnya, sekarang kamu ingin menggoda anaknya," kata pak sekertaris desa dengan jijik.
Pasalnya polisi merasa ada kejanggalan dalam cerita Ilmi, pasalnya di alat suntikan itu, hanya ada sidik jarinya.
__ADS_1
dan untuk visum tak di temukan bekas cairan dari orang lain, terlebih Ilmi di temukan basah di kamar bak mandi yang penuh dengan air.
dan barang yang hilang itu bisa saja cuma akal-akalan dari Ilmi, dia pun di minta untuk membuat surat pernyataan agar tidak berulah lagi
setelah itu beberapa petugas desa yang wanita mengantarkan wanita itu pulang.
Mereka juga memandang remah pada Ilmi, "kamu itu ternyata tak sebaik yang terlihat, dan jangan bilang selama kamu kerja di rumah keluarga Guntoro, kamu itu bukan guru les, melainkan pelayan para pria di sana ya," kata wanita berseragam coklat itu dengan santai.
"gila puas banget dong," saut wanita yang lain.
Ilmi hanya bisa menunduk, dia tak mengira jika imej yang dia bangun selama ini hancur karena para orang yang tak berperasaan seperti ini.
"dasar tak tau malu,"
setelah sampai di rumahnya, Ilmi pun melihat sebuah nanas muda dan juga berbagai bahan makanan.
"terima kasih atas waktunya semalam,anda begitu memuaskan, dan jika tak keberatan aku akan datang lagi, dan jangan berani bilang pada polisi karena itu sama saja anda membuat diri anda sendiri malu," isi surat itu.
Ilmi pun membuang semua barang itu di lantai, dia berteriak keras karena frustasi.
Sedang di tempat lain, Yudi, Gani, Loki dan Pras santai duduk bersama bos besar mereka yang sedang menikmati kopi pahit itu.
"gila setelah dua tahun, aku jadi terbiasa menikmati kopi pahit," kata Ryan yang membuat keempat pria itu aneh.
"ya itu memang sempurna bos, apa lagi kalau di sambi toko, sempurna, tapi anda mau memberikan pekerjaan apa pada kami?" tanya Loki.
"Yudi dan Loki kalian akan memegang usaha ku di bengkel las yang semakin besar, ya sebenarnya itu warisan milik calon istriku, dan untuk mu Gani dan Pras, kalian akan ku tugaskan di toko sembako milik ku, karena kalian bisa keuangan dengan baik, tapi ingatlah jangan melakukan hal merugikan Ku, jika tidak ingin kepala kalian misah dari tubuh kalian," ancam Ryan.
"kamu mengerti bos," jawab Yudi dan Loki.
Ryan tak menyangka beberapa hari lagi dia akan menikah dengan Aina.
Ya dia memang ingin memiliki gadis itu, tapi tak menyangka jika akan semudah ini.
Sedang di rumah Aina sedang bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya terdiam setelah bertemu.
"apa ini ..." lirihnya.
__ADS_1
"kamu tau sendiri,aku mohon jangan terima lamarannya, karena dia merusak ku dan sekarang ingin menikahi mu," kata gadis itu.
tangan Aina gemetar membaca hasil laporan dari dokter itu, karena di dalam perut wanita itu sedang tumbuh sebuah nyawa.