Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
tolong menurut lah


__ADS_3

Ajeng langsung membantu Mak tun untuk menyiapkan beberapa gorengan yang belum selesai.


Tentu dia tau jika ibunya ini sangat kesulitan jika sendirian, tapi dia juga tak bisa datang jika suaminya belum berangkat bekerja.


Juragan Sukoco benar-benar tak menyangka jika sosok Ajeng berubah semakin cantik seperti ini


"juragan kenapa bengong begitu, Apa anda ingin memesan sesuatu?" tanya pak bekan yang heran melihat bosnya itu.


"tidak usah, aku hanya teringat sesuatu, oh ya sebelum pergi tolong siapkan beberapa hal, oh ya tun aku dengar kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang ya, apa ya tak sadar diri sudah tua begitu kok masih mau menggoda seorang pria muda," kata juragan yang memang tau hal itu.


"memang tak boleh ya juragan, pada hal dia Saja tak masalah, dan lagi bukankah anda juga sama, jangan lah menghina ku begitu juragan," kata Mak tun.


Pak bekan tersenyum, bagaimana bisa wanita itu menjawab juragan Sukoco yang ingin mempermalukan dirinya.


"sudahlah, kdloan ini para orang tua tak tau malu, pada gak ingat umur, dan untuk mu juragan Sukoco,berhenti untuk bertingkah," kesalnya.


"hus ... Kamu itu tak boleh mengatakan itu," kata Mak tun.


Akhirnya setelah kopi miliknya habis, pria itu pun bergegas pergi karena tak mau mendengar hal aneh dari wanita itu.


Sedang di rumah Wulan, wanita itu sedang di kamarnya tertidur dengan cukup pulas karena obat yang baru dia minum.


sedang juragan Baron memilih untuk bekerja di gudang miliknya karena ada beberapa hal yang harus di urus.


Azizah yang menunggui Wulan pun merasa sedih, karena wanita itu hanya bisa berbaring di ranjang seharian,karena suaminya tak mengizinkan wanita itu bergerak


"Azizah boleh aku ke teras sebentar, aku sangat bosan di kamar terus dari tadi, aku juga sudah tidur siang, apa Ryan sudah pulang?" tanya Wulan dengan lirih.


"ah bos kecil, sepertinya sedang belajar di kamarnya," jawab Azizah.


Wulan pun turun dari ranjang, dia tak bisa lagi terus di dalam kamar seperti penjara itu.


Meski kamar itu luas, tapi dia merasa sesak, dia sadar jika terlalu ceroboh tapi dia tak harus menjalani kehamilan total di atas ranjang.


"tolong jangan jauh-jauh, duduk di ruang tengah sambil nonton tv, ah iya aku juga sudah membuatkan sesuatu untuk mu mbak," kata Azizah yang langsung pergi ke kamar Ryan.


"kak Ryan, tolong bantu jaga mamanya sebentar ya, mbak Azizah mau buat camilan sebentar," kata wanita itu

__ADS_1


"iya mbak," jawab bocah itu yang keluar sambil membawa buku miliknya.


Dia segera lari ke depan mamanya itu, melihat Ryan di depannya, Wulan pun langsung memeluk putranya itu yang dari semalam tak bisa dia temui.


"mama sehat kan?"


"iya nak nama sehat kok, Ryan sedang belajar apa, boleh mama bantu," tanya Wulan yang ingin sedikit membantu putranya itu.


"aku sedang belajar tentang matematika, dan semua soal ini harus di kerjakan dengan rumus juga, jadi aku sedang mencoba mengerjakan semuanya," kata Ryan


"mama bantu," kata Wulan.


keduanya sibuk belajar bersama, bahkan Ryan telihat sangat mudah mengerti saat ibunya itu yang menerangkan.


Setelah semua soal habis di kerjakan, kini mereka duduk sambil menonton tv berdua.


"camilan datang," kata Azizah yang datang bersama mbok Yem.


"wah apa itu?" tanya Wulan yang mencium aroma bawang putih.


"singkong goreng bawang, sama air kacang hijau biar anaknya sehat," kata Mak Yem.


Ternyata hanya rebusan kacang ijo dan juga gula merah tanpa ada santan, tapi aroma pandan begitu kuat yang membuatnya enak.


saat sedang nonton tv bersama di ruang tamu, mereka hingga tak sadar jika motor milik juragan Baron datang ke rumah


Dia mencuci tangan dan kakinya sebelum masuk kedalam rumah, dia merasa pusing karena terus kepikiran istrinya.


"assalamualaikum..." kata pria itu yang masuk kedalam rumah.


"wa'alaikumussalam..." jawab semuanya menoleh ke arah pria itu.


"ayah sudah pulang," kaget Ryan yang tau jika ibunya itu tak boleh keluar kamar karena agar tak melakukan hal berat.


"juragan," kaget Azizah dan Mak Yem yang langsung pamit ke belakang.


Wulan pun merasa takut, karena dia tak mengikuti perintah istrinya untuk tetap di dalam kamar.

__ADS_1


Tapi yang membuatnya terkejut adalah, pria itu langsung ke arahnya dan merebahkan dirinya sambil memeluk pinggang Wulan.


Ryan yang ada di sudut lain hanya bingung melihat tingkah ayahnya itu


"ayah kenapa?"


"mas kamu baik-baik saja," tanya Wulan khawatir.


"aku capek deh, aku ingin tidur sebentar, aku tak bisa jauh dari mu," kata pria itu yang merasakan tangan istrinya itu memijat kepalanya perlahan.


"alah... Tak kira ayah kenapa, iya deh yang tak bisa jauh dari Mama, oh ya Ryan mau tanya tentang pondok pesantren yang ada di daerah Tambakberas itu loh ayah, bolehkah aku kalau SMP mondok di sana, atau saat aku kelas enam nanti," tanya bocah itu.


"jika kamu mau, bisa mondok saat SMP saja, agar lebih besaran, dan lagi jika sekarang kami yang tak tega jika harus melihat mu mandiri di pondok nantinya," kata juragan Baron.


"ya deh, aku nanti ayah dan maha saja,"


"mas mau di buatkan kopi, biar Mak Yem ambilkan," kata Wulan yang masih mengusap rambut suaminya itu.


"tidak usah, aku hanya perlu memeluk mu begini, karena aku ingin saja," kata pria itu yang membuat tuan tersenyum.


akhirnya juragan Baron malah lelap tertidur, padahal sudah jam tiga sore.


Ryan sudah pergi mandi untuk bersiap untuk berangkat mengaji di tempat gurunya yang memang tak jauh dari rumah.


beberapa warga pun sedang duduk di teras sambil ngerumpi, mereka melihat sosok Ryan yang sedang berangkat menuju ke tempat ngaji.


Mereka tak bisa menahan mulut untuk mulai berkomentar mengenai bocah itu.


"lihatlah bocah itu sekarang, dia sekarang hidup nyaman karena ibunya menikah dengan seorang juragan Baron. Seandainya masih bersama mantan suaminya yang mati karena begal itu, pasti tak bisa seperti itu," kata salah satu wanita itu.


"lah kamu gak tau ceritanya, mereka itu kan bercerai karena suaminya selingkuh dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga, bukankah itu pantas," jawab Bu Ika.


"ya saya juga dengar kok masalah itu, gak sangka ya wanita yang tampak begitu baik pernah mendapatkan perlakuan seburuk itu,"


"alah itu paling ya wanitanya saja yang gak neriman," kata Bu Lastri.


"hei tidak seperti itu, jika penasaran kebepa tidak tanya langsung saja, bukankah kalian penasaran," kata Sardi yang datang untuk mengirimkan laporan dan mampir ke toko kelontong itu untuk membeli rokok.

__ADS_1


Eh malah mendengar hal seperti itu dari para wanita yang selalu membuat gosip dan membicarakan semua kesulitan orang lain.


Ingin rasanya dia membungkam semua mulut wanita itu, karena yang mereka lakukan itu bisa membuat orang yang di bicarakan terluka hatinya.


__ADS_2