
Setelah itu ketiganya makan dengan santai, dan benar saja Ilmi benar-benar tak menyukai Aina.
karena baginya Aina seperti lalat pengganggu, dan dia ingin memastikan sesuatu yang penting.
"Ryan, jika kamu dan gadis ini terus seperti ini, bukankah kamu akan kesulitan untuk menikah,karena semua wanita mengira jika kamu sudah punya pacar," kata Ilmi menyinggung perasaan Aina.
"menang kenaia, aku juga tak punya niatan untuk menikah dalam waktu dekat ini," jawab Ryan santai sambil menyalakan rokok miliknya.
"tapi bagaimana dengan orang tuamu, terlebih ayah ku sudah berumur bukankah beliau pasti ingin menimang cucu," kata Ilmi lagi.
"ya beliau sudah punya anak empat, jadi kemungkinan kalau cucu tidak dalam waktu dekat, lagi pula bima saja masih balita," jawab Ryan yang mulai tak nyaman.
"mas sepertinya aku harus segera pulang,karena Mbah uti sudah mengirim pesan padaku," kata Aina menunjukkan layar ponsel miliknya.
"aku lupa, ya sudah kami duluan ya Ilmi, dan semua sudah aku bayar, semoga bisa ketemu lagi ya," kata Ryan yang langsung mengajak Aina pergi.
Ilmi pun melihat kedua orang itu pergi meninggalkan dirinya, dia tak mengira akan kalah dengan gadis kecil itu.
Di tambah Ryan makin hari makin dingin dan seperti membangun tembok besar untuk menghalangi para wanita yang ingin mendekatinya.
"apa Mbah uti menitipkan pesan lagi," tanya Ryan yang membukakan pintu mobil untuk Aina
__ADS_1
Saat pria itu sudah masuk, "tidak ada mas, katanya kita tinggal mengambil semua pesanan yang di beli untuk di bagikan pada tamu yang berkunjung saat mama dan ayah Baron pulang,"
"baiklah dek, untungnya aku bawa mobil besar tadi," kata Ryan yang langsung melajukan mobilnya.
mereka sampai di toko oleh-oleh orang yang biasa berangkat haji, dan selagi menunggu barang di masukkan.
Aina memilih beberapa parfum yang ingin dia beli sendiri, Ryan yang tau langsung menarik lembut tangan Aina dan mencium aroma parfum yang di oleskan.
"terlalu berani untuk mu, tolong berikan aroma yang manis dan lembut, dan yang menunjukkan sosok gadis imut ini," kata Ryan yang mengacak rambut Aina.
"mas... Berantakan,"kata Aina kesal.
"apa wangi ini cocok," tanya penjual itu mencontohkan dengan mengunakan tangan Aina yang lain.
Ryan pun menciumnya, dan dia pun mengangguk, "berikan dua botol berukuran sedang ya,"
"apa, itu terlalu banyak," panik Aina.
"tidak, nanti aku belikan satu jirigen jika perlu,"
"memang mau di buat mandi," kesal Aina yang membuat Ryan tertawa.
__ADS_1
Bahkan pemilik toko itu heran, karena saat bersama orang tuanya saat pesan barang untuk oleh-oleh haji.
Ryan itu sangat cemberut dan memasang wajah datar, begitupun saat membeli parfum sendirian.
Tapi sekarang,senyum ramah itu hanya pada gadis yang datang bersamanya.
Keduanya sampai di rumah, Aina dan Ryan membereskan semua yang perlu di bantu.
Karena lusa orang tua dari Ryan pulang dari Embarkasi Surabaya,dan mereka ingin menyambutnya dengan penuh gembira.
Setelah mengeluarkan semua sofa, Aina membawa minum dan camilan untuk semua orang yang sudah membantu.
Dan kini Aina mengenakan baju yang sangat sopan,karena semua orang yang bekerja di depan adalah laki-laki.
sedang di tempat transit sementara, mama Wulan tak sabar ingin pulang,bahkan dia sudah menata semuanya sesuai kado yang akan di berikan pada orang-orang kepercayaannya.
"ya Allah ma, kita baru sampai besok loh, sekarang tidurlah,"
"aku tak bisa yah, aku tak sabar untuk memeluk semua anak-anak, dan ibu, dan tentunya aku ingin memeluk Aina karena dia harus mengalami hal buruk dalam hidupnya,"
"ya dia sudah seperti putri kura sendiri," jawab juragan Baron.
__ADS_1