
Setelah pulang dari mengaji, Ryan langsung makan karena sudah di tunggu, terlebih tadi dia memutuskan untuk sholat di masjid juga.
"mama, besok teman-teman ku datang, mana tak perlu repot kan di rumah banyak makanan, jadi tak usah mama capek-capek takut nanti adikku itu dalam masalah lagi," kata Ryan dengan tegas.
"tidak usah khawatir kak, mama tak repot karena besok mama ada undangan ke balai desa untuk mengisi acara, jadi besok kamu akan di jaga mbak Azizah," kata Wulan yang sebenarnya tak mau meninggalkan putranya itu.
"baiklah mama, dan tolong jangan lelah ya," kata Ryan khawatir.
"tenang saja kak,nanti ayah yang jaga, sudah sekarang kamu makan, kan ini lauk kesukaan mu, dan kemana dua gadis kecilku itu, kenapa begitu diam?" kata juragan Baron yang merasa aneh.
Dia pun melihat ke arah bawah meja makan, ternyata dia putrinya itu sedang duduk menikmati puding coklat.
"kalian begitu suka bersembunyi, apa tak mau duduk bersama kami?" tanya juragan Baron mengulurkan tangannya.
"Ya yah...." panggil Raina
"baiklah semua harus duduk di kursinya," jawab pria itu mengambil satu persatu putrinya dari bawah meja dan mendudukkannya di kursi khusus.
setelah selesai makan, kedua gadis itu duduk tenang menemani Ryan belajar,bahkan mereka juga fokus melihat buku abjad yang di miliki.
sedang juragan Baron dan Wulan sedang bekerja mengawasi semua pengeluaran dan juga pemasukan dari semua usaha mereka.
Bahkan tak boleh ada kesalahan sedikit saja, dan setelah itu mereka pun duduk bersama anak-anaknya.
__ADS_1
di sisi lain pak Dikin dan Bu pawoh sedang keluar setelah mengikuti pengajian di rumah Mak tun.
Ya tadi mereka juga meminta maaf karena Wulan tak bisa datang setelah kejadian terakhir kali.
Ajeng memaklumi, karena warga di desa itu memang beberapa memiliki pemikiran yang sangat buruk dan suka memutar balikkan fakta.
"kita pulang mas?" tanya Bu pawoh.
"tentu saja tidak sayang, aku ingin menikmati waktu dengan mu, dan lagi aku ingin mengajak mu main ke pasar malam, ya setidaknya kita harus menikmati waktu berdua saja bukan," jawab pak Dikin.
"iya mas,"
keduanya sampai di pasar malam,mereka tak kalah romantis dengan pasangan muda-mudi.
Dan juga mendapatkan sebuah jam tangan untuk Ryan, ya meski awalnya itu di tunjukkan untuk istrinya.
setelah itu, mereka duduk untuk makan mie ayam berdua, dan setelah puas dan lelah berkeliling.
Mereka pun memutuskan untuk pulang, dan saat menyalakan sepeda motor, mereka kaget karena sudah jam sebelas malam.
"ah pantas sudah sedikit lega ternyata sudah malam," kata pak Dikin
"jam berapa memangnya mas?" tanya Bu pawoh penasaran.
__ADS_1
"sudah jam sebelas malam,sudah kita pulang dulu,kamu yakin bisa memegangnya,"
"sudah serahkan semuanya padaku," jawab wanita itu dengan senyum merekah karena punya banyak hadiah untuk semua orang.
Mereka pun sampai di rumah juragan Baron dan motor langsung masuk kedalam garasi,ya selama kehamilan Wulan.
Juragan Baron meminta kedua orang tua istrinya untuk tinggal di rumah karena dia tak ingin istrinya itu lelah karena menjaga dua anak sekaligus.
mereka masuk kedalam rumah dan melihat pria itu sedang menonton bola sendirian.
"belum tidur Baron?" tanya pak Dikin yang membawa hadiah.
"belum pak, bagaimana kencannya sukses dong, tanpa gangguan dua putri kecil ku dan remaja menyebalkan yang suka sekali ganggu itu," kata juragan Baron yang membuat pak Dikin tertawa.
"sepertinya kamu dendam sekali pada Ryan,"
"bagaimana tidak dendam,aku terus gagal saat ingin pergi berdua dengan istriku, tapi sudahlah mungkin dia memang sedang butuh perhatian lebih," kata juragan Baron duduk menikmati kopi miliknya.
"ini gorengan untuk kalian nonton tv, mas aku masuk dulu dan ganti baju sana," usir Bu pawoh pada suaminya itu.
"iya iya, .asih ada Baron itu jangan sekarang kalau mau,"
"dasar pria tua,kamu ngomong apa sih," kesal Bu pawoh.
__ADS_1