
setelah beberapa waktu, akhirnya kini Wulan ddn juragan Baron sudah sehat kembali, ya bekas luka masih ada tapi sekarang mereka sudah mulai bekerja lagi.
pagi ini Ryan di antar oleh mamanya, tak sengaja saat mengantarkan putranya itu, dia berpapasan dengan Lia.
Wanita itu tampak malu dan memilih pergi menghindar dari Wulan, "mama Ryan masuk dulu ke sekolah ya," pamit bocah itu.
"iya nak, oh ya nanti di makan ya bekalnya, dan ingat jangan minum es," kata Wulan mengingatkan putranya itu.
"iya mama, bolehnya minum air saja," kata Ryan yang menyalami mamanya kemudian masuk kedalam sekolah.
Kini Wulan sudah bebas, jadi dia langsung menuju ke toko miliknya hanya untuk mengecek saja.
Dan setelah memastikan toko berjalan baik, dia akan pulang dan duduk manis di rumah menunggu anak dan suaminya pulang.
Sedang di gudang milik juragan Baron, dia kedatangan seseorang yang mengejutkan.
ya siang itu dia kedatangan Ajeng, "wah ada apa ini mbak Ajeng sudah datang kesini pagi-pagi?" tanya pak Sardi yang melihat wanita itu.
"saya cuma mau antar gorengan, tadi juragan Baron yang pesan ke warung," kata wanita itu yang celingukan mencari juragan Baron.
tiba-tiba pria yang di carinya keluar dari kantor, dan Ajeng kaget melihat perubahan juragan Baron.
Bagaimana tidak, pria itu tampak semakin berisi dan wajahnya semakin tampan.
Dia tak mengira ternyata selama ini benar yang di omongkan oleh ibunya, jika juragan Baron itu pria tampan.
"mbak Ajeng,jadi berapa? Hei..." kata pak Sardi menjentikkan jarinya di depan wajah gadis itu.
"ah iya pak,jadi semuanya dua puluh ribu dan tadi yang di sawah tiga puluh jadi Lima puluh," jawab Ajeng.
"pak bos pesen gorengan lima puluh ribu?" tanya pria itu memastikan.
"iya!" jawab juragan Baron.
Akhirnya pak Sardi membayar uang gorengan, dan setelah itu Ajeng pamit pergi.
Dari tempat kerja kakak ipar sepupunya itu, dia tak menyangka jika pria itu kini tampak tampan di matanya.
"kenapa semua pria tampan harus menjadi milik Wulan, aku juga ingin punya pria tampan juga," gumamnya.
dia menuju ke warung untuk membantu ibunya, tapi sebelum sampai tempat itu.
__ADS_1
dia melihat sosok pria yang beberapa waktu lalu menjadi kekasihnya, Tapi kemudian menghilang bak tertelan bumi.
"mas Farid kamu dari mana saja!!" teriak Ajeng yang menarik lengan pria itu.
Lina dan ibunya kaget saat mendengar suara itu, dan melihat Ajeng yang tampak seksi dengan pakaian yang dia kenakan.
"siapa dek?" tanya Lina pada adiknya itu.
"tak tau mbak,orang gila mungkin, aku tak mengenalnya,"kata Farid yang berbohong.
"apa mas, setelah kamu menikmati semuanya, kamu bilang tak mengenal ku, bajingan kamu mas," marah Ajeng tak bisa di tahan lagi.
"apa maksudnya le?" tanya ibu pria itu mulai khawatir.
"jangan pedulikan omongannya ibu,dia itu cuma wanita yang pernah menjual diri,bahkan dia adalah wanita yang sering di panggil juragan Sukoco," kata Farid.
Mendengar hinaan itu, Ajeng marah,dan tangannya melayang dan menampar pipi pria itu dengan cukup keras
Plak...
Lina dan ibunya kaget melihat adik satu-satunya di perlakukan seperti itu oleh seorang wanita
"apa yang kamu lakukan, kenapa menampar adikku!!" marah Lina yang mendorong Ajeng.
"jika tidak benar kenapa anda marah, bukankah itu semua benar, saya juga ingat iara warga pernah mengatakan jika warung ibu anda itu, warung esek esek bukan?" kata Lina.
"jangan asal bicara!!" teriak Ajeng.
"menang kenapa, jika anda ini wanita baik-baik harusnya anda tak berpakaian seperti ini, jadi jika anda di bilang seorang perempuan yang tak benar, tak usah marah," kata Lina yang berhasil membungkam Ajeng.
Farid tak mengira jika Lina akan membelanya, padahal dia sudah takut setengah mati karena tau bagaimana sikap kakaknya itu.
"dan untuk mu dek,sekali saja dku sangat kamu berhubungan dengan wanita ini, aku akan mengusir mu ke rumah paman, biar saya kamu jadi orang pedalaman," kata Lina yang langsung menyeret adiknya itu pulang.
Sedang Ajeng sudah sangat di permalukan, bahkan dia tak bisa menjawab apapun semua yang di lontarkan oleh kakak mantan kekasihnya itu.
dia tak menyangka, Farid yang dia kenal dengan baik, kini malah membuangnya begitu saja.
Dia pun memutuskan ke warung untuk membantu ibunya itu menjaga tempat usaha mereka.
Tapi saat sampai di warung, Ajeng merasa aneh karena di tempat terasa sepi tak ada satupun orang di sana.
__ADS_1
padahal ada satu motor, Ajeng memilih duduk santai di warung sambil menjaga sayur lodeh agar tak meluap saat mendidih.
tiba-tiba ada beberapa pria datang, dan mereka mengenakan seragam coklat seperti punya Farid.
"mbak sayur lodeh dua, dan kopi dua ya," kata pria itu.
"inggeh mas, lauknya mau dadar telur atau beli telur?" tanya Ajeng dengan ramah.
"dadar telur saja," jawab keduanya.
Dengan segera Ajeng membuat pesanan kedua pria itu, dan beruntung sayur lodeh juga matang.
Akhirnya dia menyuguhkan nasi dan minuman pesanan dua orang itu. "Monggo sekecaaken,"
"terima kasih, aduh mbaknya makin seksi saja yang jaga, kemana mbak tun?" tanya salah satu pria
"terima kasih mas, itu saya juga tidak tau mungkin lagi pulang sebentar," kata Ajeng sopan.
"owalah, padahal biasanya jarang pulang loh, pasti ada tamu penting," kata salah satu pria.
Ajeng tak mendengarkan dan memilih bermain ponsel sambil mengawasi semuanya.
Tiba-tiba dari jauh terlihat seorang pria datang dan menepuk punggung salah satu pria yang sedang sarapan.
"baru datang," Katanya dengan senyum mengembang.
"dari mana mas, kok baru kelihatan ku pikir kamu lupa tempatnya, tapi motor mu ada di sini,"kata pria itu.
"alah ya biasa to bisnis," kata pria yang baru datang itu.
Mak tun juga datang dari belakang, "nduk biarkan es teh untuk pria yang baru datang itu," kata wanita itu yang tampak ngos-ngosan.
"memang ibu darimana,kok ngos-ngosan begitu?" tanya Ajeng heran sambil membuat es teh.
"ini loh ibu tadi lupa gak bawa sukun, padahal tadi ada ibu-ibu pesan dukun goreng, jadi ibu terpaksa pulang," jawab Mak tun yang tampak sangat berkeringat.
Ajeng santai saja, karena tak mau kepo dengan urusan ibunya itu.
Saat menyuguhkan es teh pada pria yang baru datang, tiba-tiba pria itu menepuk tubuh bagian belakang Ajeng cukup keras hingga berbunyi.
"jangan kurang ajar dong," kata Ajeng.
__ADS_1
"aduh kesayangan juragan Sukoco ini kok galak ahat sih," kata pria itu yang membuat Ajeng terdiam.
"bukan urusan anda," kesalnya.