
juragan Baron sedang ada di sebuah desa yang cukup pelosok, dan siang itu juragan Baron berada di rumah lurah desa itu
"sudah nih pak lurah,gak ada lagi yang mau jual gabah, setidaknya saya di sini, soalnya besok saya tak kesini lagi, karena harus pindah ke kota lain," jawab juragan Baron.
"santai dulu lah juragan, kita ngopi dulu, ya itung-itung kita ngobrol dulu karena jarang-jarang anda kesini," jawab lurah desa.
"ya mau bagaimana saya juga sibuk di rumah dan di semua usaha, di tambah istri saya sedang hamil dan sangat manja," jawab juragan Baron.
"ya namanya juga lagi hamil juragan, sebenarnya saya penasaran dengan sosok nyonya juragan, sepertinya juragan sangat mencintai istrinya," tanya lurah desa itu.
"ya lain kali main kesana, nanti biar mampir ke rumah biar tau dan kenalan dengan nyonya,"
Pria itu tersenyum, "baiklah nanti biar aku main kesana, ayo kita ngopi dulu,"
Mereka pun duduk di teras sambil ngopi dan gorengan bersama, dengan anak buahnya juga.
tak lama ada orang yang datang, "permisi juragan,saya ingin menjual gabah, apa anda mau melihatnya," tanya pria itu.
"tentu pak, tapi saya istirahat dulu, mungkin setengah jam lagi pula ya," kata juragan Baron.
"baiklah saya mengerti, kalau begitu saya tunggu," jawab pria itu yang langsung pamit pulang.
sedang pak lurah yang mengenal pria itu pun hanya bisa menghela nafas
"ada apa pak lurah?"
"itu juragan, nanti kalau di rumah pria itu tolong jangan sampai minum kopi yang di berikan ya, ya kalau kepepet mending pakai minum pakai tangan kiri dan baca bismillah dulu, dan tolong sebisa mungkin jangan melamun ya," kata pak lurah mengingatkan.
"tenang saja, anda kira aku tak punya pegangan,sebagai seorang juragan yang sering berurusan dengan berbagai orang, saya juga tak diam saja,"
"oh begitu rupanya, baiklah," jawab pria itu lagi.
Setelah berhenti istirahat dan sudah selesai lelahnya, mereka pun berangkat ke rumah pria yang tadi datang dengan pak lurah desa juga.
__ADS_1
Ternyata benar, aura rumah itu sangat tak nyaman, tapi mereka tak memikirkan itu,saat turun dari truk.
mereka pun berdoa bersama, dan juragan Baron memberikan minuman pada semuanya, dan dia juga memastikan berlari miliknya tak terlihat karena itu pelindung yang di berikan oleh ayahnya saat dia kecil.
setelah berdoa mereka pun berjalan bersama menuju ke rumah itu, "assalamualaikum..."
"wa'alaikumussalam, Monggo pak ini gabahnya di halaman sudah kering, anda bisa melihatnya dulu," kata pria itu dengan sopan.
"iya pak, permisi ya," kata juragan Baron yang langsung menuju ke arah tumpukan karung itu.
dia mengeluarkan sebuah alat untuk melihat isi karung itu, dan ternyata isi karung itu cukup baik.
juragan Baron tak hanya mengecek satu karung, melainkan semua karung, karena dia tak ingin kecolongan.
Saat sedang mengecek dua puluh karung itu, putri dari rumah itu keluar dengan membawa minuman.
"taruh di sana saja, jangan kesana karena juragan Baron sangat sensitif saat sedang bekerja," tegur lurah desa yang sedang duduk di samping pemilik rumah.
"tidak masalah, tak ada yang bisa menolak minuman dari Ayu," kata gadis bernama Ayu dengan percaya diri.
Ayu tersenyum sambil mulai berjalan, dan selama dalam melangkah itu, dia mulai membaca ajian Semar mesem turun temurun dari kakek moyangnya.
"niat ingsun amatek ajiku Ki Semar mesem, kecek-kecek utuh e Ki Semar Ireng, aji pengasihan kang ora Ono tombone, ora Ono wong ayu kejobo aku, ora biso turu yen durung ketemu aku, yen ketemu turu tangekno, yen ketemu Tangi adekno, yen ketemu ngadek lakokno, urung ngengkleng, urung edan lan gendeng, yen durung ketemu aku, Sido Atut matur, manut, turut, lutut, di jabang bayi e Baron, sak lawase..." kata ayu yang kemudian meniupkan udara ke arah minuman.
tapi saat di dekat juragan Baron, tiba-tiba pria itu mengayunkan besi yang dia gunakan untuk mengecek gabah
Karena kaget, ayu menjatuhkan semua minuman yang dia bawa, "kamu buta, kenapa mendekat, sudah tau ini ada orang sedang kuat, minggir, dasar sialan!" maki juragan Baron yang pergi begitu saja.
ayu terkejut mendengar itu, dia tak menyangka ada orang yang tak tertarik dengan wajah cantiknya.
bahkan pria itu bahkan berani membentaknya, bahkan seperti buta tak tau wanita cantik.
pria itu langsung menuju ke tempat lain, dia terus mengingat istri dan ketiga anaknya.
__ADS_1
Dia tak boleh tergoda atau terkena ajian apapun, dia sebenarnya tadi sudah mendengar lirih dia sedang di incar.
Tak butuh waktu lama, akhirnya semua barang sudah nduk, juragan Baron juga sudah membayar semua gabah itu.
"jadi kita pulang,karena sudah jam tiga sore," ajak juragan Baron yang tak boleh tetap di rumah itu dan di kota itu sampai malam.
"baik juragan," jawab para pekerja pria itu.
"kenapa tidak nunggu dan istirahat di sini dulu, kan masih sore juga,"
"maaf pak, aku harus pulang karena istri dan tiga anak ku sudah menunggu, permisi," kata juragan Baron yang minum air putih dan setelah itu dia menyiramkan sisanya ke ban truk miliknya.
Untungnya selama perjalanan tak ada yang terjadi,dan saat sampai di gudang pas setelah sholat Magrib.
tentu saja juragan Baron langsung menuju rumahnya dan besok baru bongkar dan itu urusan sbak buahnya.
Saat sampai di rumah, dia mencuci kaki dan setelah itu lewat pinggir rumah dan langsung mandi di kamar mandi samping rumah.
Tentu baju juga sudah di siapkan istrinya,dan Wulan sedang membiarkan teh dan menghangatkan makanan untuk suaminya.
"selamat malam mas," kata Wulan memberikan kecupan di bibir suaminya itu.
"halo sayang, apa ada masalah, dan apa kamu makan dengan benar?" tanya juragan Baron yang mencium pipi dan bibir istrinya itu.
"aku makan dengan baik kok, terlebih ibu seperti satpam karena jika aku telat makan atau melakukan sesuatu yang tak cocok dengannya langsung saja mengomel," kata Wulan tersenyum.
"bagaimana tidak mengomel, kamu tadi hampir tak nakan karena badan mu baik dua kilo, karena takut suamimu bisa melirik wanita lain," kata Bu pawoh yang kebetulan ke dapur
"ibu ..."
"sayang aku mohon jangan lakukan itu, dan di tambah ingat kondisi mu saat hamil si kembar, aku bisa gila jika terjadi sesuatu pada mu," kata juragan Baron yang merasa sedih.
Melihat ekspresi dari suaminya, Wulan pun mengangguk dan berjanji, "baiklah mas, maafkan aku, tapi bersumpah ya jangan menjadi istri lain saat aku jelek,"
__ADS_1
"aku bersumpah, dan aku rela kau bunuh jika melakukan itu, karena bagiku, hanya kamu yang aku cintai,"