Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
mendatangi


__ADS_3

Juragan Baron sedang duduk santai di dalam mobilnya, ya pagi ini dia sedang keluar ke luar kota untuk mengambil beberapa gabah dari langganan di kota tetangga.


Ya siapa yang tak kenal juragan Baron, pria yang menjadi tengkulak cukup terkenal di beberapa kota.


Sedang di rumah, Wulan sedang menjaga putrinya bersama Azizah dan juga Mak yem.


mereka sedang main di teras sambil bercanda, saat ada penjual bubur kacang hijau yang lewat.


"ma mbas tu," suara Raina yang menunjuk ke arah pedagang bubur itu.


"baiklah, pak lek tumbas,"


Mereka pun berjalan bersama keluar gerbang, pak Joko yang sedang berjaga pun ikut beli.


Setelah itu, mereka duduk bersama untuk makan bubur kacang hijau itu,setelah kenyang mereka pun kembali masuk.


baru juga berjalan beberapa langkah, sebuah mobil datang ke rumah juragan Baron.


Saat turun ternyata itu adalah Andika dan wati yang datang berkunjung.


"aduh apa kabar pasangan baru ini, kok baru main kesini, terus dimana Aina kok gak di ajak?" tanya Wulan yang memang sengaja memanggil pasangan itu.


"Aina sedang sekolah mbak, kami membawakan apa yang mbak pesan, semuanya asli dari ternakan sendiri," kata Wati.


"terima kasih, maaf ya aku merepotkan karena tiba-tiba ingin makan belut besar," jawab Wulan.


"tak masdlah, sebenarnya saya kesini juga ingin menunjukkan beberapa mesin terbaru yang bisa meringankan pekerjaan di sawah, dan yang pasti untung selamanya," jawab Andika.


"itu memang benar, baiklah ceritakan semuanya, aku ingin melihatnya," jawab Wulan yang mengajak kedua tamu itu masuk kedalam rumah.


Ajeng sedang sarapan meski sedikit kesiangan karena ulah suaminya.


bahkan sarapan itu saja yang buat adalah mas andi,ya mau bagaimana lagi,pria itu tadi membuat Ajeng tak bangun dari ranjang karena terus melayaninya.


"ah... Aku merasa beruntung punya suami mas Andi, setidaknya dia tak menuntut ku untuk punya anak," gumamnya.

__ADS_1


Sedang di tempat mas Andi memborong, seorang wanita cantik sedang duduk santai bersama ibu-ibu muda lainnya.


tapi yang membuatnya tertawa adalah para ibu muda ini dandanannya ini sangat modern, bahkan sampai mengenakan softlens.


tapi yang ironis adakah, anak-anak mereka ini seperti anak yang tidak di urus, bahkan salah satu dari bocah-bocah itu tampaknya begitu lusuh dengan baju yang berlubang.


"ada apa pak mandor," tegur salah satu pegawai yang melihat mas Andi tersenyum sendiri.


"tidak pak, saya hanya melihat para ibu muda yang sedang selfi-selfi di sana itu, tapi lihatlah saat ibunya sangat cantik dan bergaya modis, tapi anaknya seperti abak yang tidak terawat," kata mas Andi.


"itu biasa pak mandor, disini itu memang begitu, ibunya bergaya seperti ABG yang masih belum menikah, padahal kondisi suaminya cuma butuh bangunan, tuh contohnya yang pakai kaos hitam, itu istri Rois," kata pria itu tersenyum .


mendengar itu mas Andi kaget, pasalnya Rois ini sering bon, tapi kenapa gaya istrinya itu sangat mewah.


Di tambah lagi gaya wanita itu seperti tak ada yang cantik lagi selain dirinya.


Tiba-tiba sepeda motor milik Ajeng berhenti di sana, dan membuat mas Andi kaget.


"lah ini baru cantik yang sesungguhnya, bodi gitar spanyol dan berukuran D, em... Bener gak pak mandor," kata pak Joko.


"mau mati kamu mengomentari istriku," kesal mas Andi yang memang tak memungkiri jika bodi istrinya itu tak berubah


sedang Wulan di rumah kesal dengan timbangan miliknya, pasalnya dia naik lagi dua kilo selama sebulan.


"Bu juragan,makan dulu yuk," panggil Mak Yem.


"tidak Mak, saya diet,saya kesal karena saya tak bisa menjaga berat tubuh saya dan terus naik dari hari ke hari," kesal wanita itu.


"ya gak papa toh Bu juragan, namanya juga sedang hamil, kalau gak baik itu yang bahaya," bujuk Mak Yem.


"tetap tidak Mak, saya mau tidur dulu, minta Azizah menjaga si kembar ya," kata Wulan yang merasa jika ini tak bagus.


tentu saja nak Yem langsung mengadu pada Bu pawoh melalui Azizah.


Bu pawoh yang mendapatkan aduan seperti itu pun marah besar, karena kondisi Wulan ini akdn memburuk jika tak makan siang.

__ADS_1


Pak Dikin yang ada di sawah bersama istrinya pun kaget melihat Bu pawoh pergi mengunakan motornya


Tapi dia tak khawatir karena tau istrinya itu paling-paling pulang ke rumah putrinya.


benar saja bu pawoh sampai di rumah juragan Baron, dan langsung membaut sate daging.


Otomatis aroma Bakaran sate itu jadi satu rumah dan membuat Wulan makin kelaparan.


Wulan pun tak tahan akhirnya keluar kamar dan melihat ibunya sedang menata nasi di meja.


"makan dulu ya nduk,kamu itu sudah bukan ibu baru lagi, kenapa begitu bodoh hingga tak mau makan segala," kesal Bu pawoh.


"habis bobot ku naik, ibu kan tau badan ku saja belum kembali normal setelah melahirkan si kembar sekarang naik lagi karena Hamil," kata Wulan sedih


"terus mau bagaimana lagi, namanya juga orang hamil, sudah makan atau aku akan bilang pada baron jika kamu mogok makan,"


"jangan dong Bu, idih ancamannya serem amat," kesal Wulan yang langsung makan dengan lahap.


Setelah kenyang dia pun memilih duduk menonton tv, sedang Bu pawoh ini kembali ke sawah dan sudah menitipkan sesuatu pada Mak Yem tadi.


Bu pawoh sampai di sawah dan kaget melihat suaminya itu sedang berbincang dengan janda tetangga.


"aduh kok serius amat, ngomongin apa nih," tanya Bu pawoh yang mendekat.


"ini loh Bu, saya tadi hampir jatuh ke sungai kecil ini, untung pak Dikin baik dan menolong saya," kata wanita itu.


"oh pantes kok pegangannya masih erat banget,memang kamu buta gak lihat jalan, orang jalan lebar gini, masih mau jatuh ke sungai,kecuali kamu sengaja," jawab Bu pawoh.


"ya tidak Bu,ngapain saya begitu,ini beneran Bu," kata wanita itu yang memang masih berusia tiga puluh lima tahunan.


"sayang jangan ngambek gitu dong," bujuk pak Dikin pada istrinya dengan melepaskan diri dari wanita itu.


melihat itu Bu pawoh langsung mendorong wanita itu hingga terjerembab kedalam sungai,"impas, tadi kamu di tolong suamiku kan,karena aku tak suka jadi nikmati tuh air sungai, dan kamu pulang sekarang, atau aku potong itu burung terus aku goreng," kesal Bu pawoh yang tak suka suaminya di tempel oleh wanita lain.


"iya sayang, kita pulang,"

__ADS_1


"terus pak tolongin dong," panggil wanita itu


Tapi pak Dikin dan Bu pawoh pergi segitu saja, mereka tak ingin lagi berurusan dengan wanita gatal seperti itu.


__ADS_2