Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
membatu


__ADS_3

Selama hari-hari sebelum Aina berangkat mondok sesuai yang di setujui oleh Ryan.


pemuda itu mengajari beberapa pelajaran yang mungkin harus di terima Aina saat di pondok nantinya.


Dan akhirnya tak terasa hari yang di tunggu tiba, Aina harus berangkat untuk mondok hari ini.


Raisa dan Raina tampak begitu sedih, Bima juga tak mau lepas dari gadis itu, tapi ini tak bisa di lakukan karena Aina harus jadi sosok yang sempurna.


"Aina pamit ya Mbah uti dan Mbah kung,"


"iya nduk, hati-hati ya, nanti kami akan sering mengunjungi mu saat punya waktu luang ya," kata pak Dikin


"iya Aina, yang sehat-sehat ya," tambah Bu pawoh.


Akhirnya gadis itu berangkat setelah berpamitan dengan semuanya, batu juga naik mobil, terdengar suara tangisan dari Bima.


bahkan Ryan selama perjalanan menuju ke tempat Aina mondok tak mengucapkan satu patah katapun.


sedang mama Wulan terus merangkul gadis cantik itu, dan saat sampai di pondok.


untungnya pondoknya itu terbilang lumayan bagus, dan sedikit membuat Ryan tenang.


karena dia tau jika pondok di kotanya itu belum bisa di bandingkan dengan pondok modern yang pernah dia tinggali.


Mama Wulan membantu Aina di kamarnya yang akan di huni oleh beberapa orang.

__ADS_1


Dan tak lupa, wanita itu juga memberikan kartu debit pada Aina untuk di pegangnya.


"tidak usah ma, aku sudah dapat dari mas Ryan, dia terus memaksa hingga akhirnya aku tak bisa menolaknya."


"ya sudah kalau begitu," jawab mama Wulan yang memilih mengirimkan semua uang saku untuk Aina ke kartu yang di miliki Aina.


Keduanya pun keluar, Ryan masih tampak tak bisa melepaskan gadis yang seharusnya dia jaga dengan baik.


"mas..."


"apa... Kamu yang memilih ini, sudah sekarang kamu harus belajar sungguh-sungguh, dan lulus dengan cepat,"


"iya mas, saat aku lulus nanti, aku akan menjadi orang yang bisa tersenyum dengan baik, dan bilang, lihatlah mas, adik mu ini sudah dewasa dan bisa membanggakan," kata Aina yang membuat Ryan sedih dan langsung memeluknya.


Akhirnya semua wali santri harus meninggalkan anak-anak mereka yang akan mencari ilmu.


"mau kemana Ryan!" panggil mama Wulan.


"mau bekerja," jawabnya sekilas dan langsung pergi.


Ryan tak bicara apapun dan memilih menyibukkan diri, juragan Baron pun berusahalah untuk menghibur istrinya itu.


"dia sedang marah, kesal dan jengkel, biarkan dulu perlahan-lahan dia akan mengerti situasinya," kata juragan Baron.


"iya mas," jawab mama Wulan.

__ADS_1


Ryan sampai di bengkel las yang sekarang dia kelola, dia pun mulai bekerja menyelesaikan semua pesanan.


Pak Karno yang mengetahui jika hari ini keberangkatan Aina pun tak berani menyinggung sama sekali.


Karena Ryan sangat sensitif jika itu berhubungan dengan Aina, dan pria itu terlihat marah.


"ya Allah... Jika memang mereka jodoh yang sudah tertulis, tolong segera satukanlah, karena tak akan bisa mereka hidup tanpa satu sama lain," kata pak Karno.


ya hari berganti,saat Aina sedang fokus pada pendidikannya, Ryan sedang fokus menghancurkan dirinya.


Bagaimana tidak, juragan Baron dan mama Wulan tak mengerti lagi sksn tingkah putranya itu.


Ryan selalu pulang telat,merokok, dan sering begadang, tapi saat semua menasehatinya, seperti angin lewat saja.


Masuk kuping kanan keluar kuping kiri, dan Ryan tak berubah, tapi sepucuk surat membuatnya perlahan tenang.


"mas apa dia tak papa terus termenung membaca surat itu,"


"insyaallah ya, karena itu surat yang di tulis Aina karena dku kesal melihat perangai Ryan, tapi kadang aku heran, dia yakin anak mantan suami mu, bukan anak kandung ku dek, karena semakin hari Ryan semakin mirip dengan ku, bahkan wajah kami pun perlahan-lahan sama," kata juragan Baron.


"ngomong apa sih," kesal mana Wulan yang langsung pergi.


Tapi juragan Baron memang akui jika pertama kali melihat Ryan, dia sangat mencintai bocah itu seperti putra kandungnya sendiri.


Ryan yang sedang di kamar masih tak percaya mendapatkan surat yang memiliki aroma seperti Aina.

__ADS_1


"assalamualaikum mas, maaf baru mengirimkan surat, dan aku juga memberikan tasbih dari kayu khusus, aku ingin mas tetap ingat Allah dan kita sama-sama berdoa ya, aku selalu menyebut mas dalam doa ku, dan berharap kita segera di pertemukan lagi, dan aku ingin meminta sesuatu, jika bisa mas datang ya Jum'at ini karena ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan, dari adik mu, Aina..." gumam Ryan membaca surat itu.


"insyaallah ya," jawab Ryan yang menaruh surat itu di dadanya dan mulai membaca dzikir mengunakan tasbih pemberian Aina.


__ADS_2