
Shasha hanya bisa duduk diam,dia sendiri bingung harus melawan, bagaimana pun dia tak ingin pria yang sekarang sedang bersamanya itu.
bertindak untuk melukai keluarganya, ya karena Shasha adalah anak tertua, jadi dia harus kuat demi bisa membantu perekonomian keluarga, meski jalan yang dia pilih salah.
"jadi apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Broto pada gadis di pangkuannya itu.
"tidak ada, aku hanya ingin segera sampai di apartemen milik mu tuan," jawab Shasha.
"tentu saja, kita akan segera sampai di sana, tapi aku sedikit heran padamu, kenapa kamu begitu penurut padaku, padahal jika di lihat lagi, aku hampir seusia dengan mertua teman mu itu," tanya Broto penasaran
"kenapa anda bertanya seperti itu, anda sudah tau maksudnya, aku tak ingin berbohong, toh kondisi ekonomi keluarga ku yang jadi hal terbesar yang membuat ku seperti ini,"
"ya, aku suka itu," kata Broto yang memdng sudah cocok dengan Shasha, itulah kenapa dia tak segan mengelontorkan banyak uang untuk wanita itu.
Ya saat hari makin siang, Aina sedang duduk di bawah sebuah pohon di area kampusnya.
Dia menunggu jemputan, karena mertuanya bilang kalau dia akan segera datang, cukup lama Aina menunggu, hingga akhirnya sebuah mobil berhenti di depan gerbang.
"Maaf ya Nduk, Ayah lama." kata seorang pria yang keluar, dan pria itu terlihat masih sangat kekar dan tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Iya, Ayah, tidak apa-apa, Sekarang kita mau pulang?" tanyain Aina yang memastikan, karena takutnya ada titipan, atau apapun itu.
"Iya, kita pulang saja, karena mamamu juga tidak menitipkan apapun, Oh ya, Dan apa suamimu tidak mengirimkan pesan." tanya juragan Baron.
"Tidak ada Yah, sepertinya dia terlalu sibuk apa Ayah butuh sesuatu," tanya Aina
"Ya, sepertinya kita harus ke peternakan sapi, karena sepertinya Gofar melakukan sesuatu yang membuat sedikit berantakan di sana." kata juragan Baron yang berkata dengan bingung.
"Tentu saja Ayah, kita akan ke sana,"
__ADS_1
Keduanya pun masuk ke dalam mobil, dan bergegas menuju ke tempat yang dimaksud oleh pria itu, saat sampai ternyata di sana sudah cukup parah.
Aina, bahkan tidak bisa mengatakan apapun saat melihat kondisi tempat itu.
"Apa yang terjadi Kenapa semuanya berantakan," tanya Aina dengan bingung dan ikut panik melihat semua orang yang berlarian.
"Kami juga tidak tahu, sepertinya Gofar melakukan sedikit kesalahan," jawab salah satu orang yang berlarian membawa air di dalam ember
Aina pun terkejut, saat melihat mesin yang baru dibawa oleh Ryan untuk mengolah pakan meledak dan terbakar.
Untungnya tidak ada korban jiwa dan tidak ada yang terluka meski mesin itu cukup besar.
"Sudah tidak apa-apa, itu bisa dibereskan, yang terpenting selamatkan yang lain dulu," kata Aina
"Semuanya sudah aman, Tenang saja itu hanya mesinnya yang masih terbakar, makanya semua orang panik," saut Gofar yang mendatangi adik iparnya itu
"Tapi bagaimana bisa mesin itu meledak Mas, Bukankah itu mesin baru,"
"tak masalah, Untunglah tidak ada yang terluka, sudah tidak apa-apa, Nanti bisa dibetulkan Lagi, apa semuanya aman?"
"Ya semuanya aman, dan sudah kondusif,"
"Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, tumben sekali kamu bisa melakukan kesalahan fatal ini, apa kamu ingin menjelaskan sesuatu pada Ayah." katanya, juragan Baron yang melihat Gofar sedikit aneh belakangan ini.
"Tidak ada ayah, aku tidak ingin mengatakan apapun, dan juga tidak ada masalah apapun," jawab Gofar cepat
Aina sedikit melirik untuk melihat ekspresi dari Gofar, pria itu sedang berbohong. entah apa yang sedang dipikirkannya.
Karena ingin mencoba membuat Gofar jujur, dia pun memanggil Kipli dengan gerakan tangan, pria itu dengan segera bergegas menghampiri Aina.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bu Bos, ada apa memanggilku," tanya Kipli dengan suara Nada bercanda seperti biasanya.
"Waalaikumsalam, aku cuma ingin bertanya, apa dewi sudah punya kekasih? Aku ingin menjodohkan dia dengan teman kampus ku, sebenarnya mereka akan cocok, karena dia pria yang baik, dan aku juga mengenalnya dengan baik," kata Aina tiba-tiba.
"Wow wow wow wow Ada apa ini, kenapa tiba-tiba Dewi menjadi rebutan seperti ini, kemarin juga ada pria yang datang ke rumah untuk melamarnya, sedang Dewi katanya belum punya kekasih, tapi dia juga tak langsung menjawabnya, Kalau dianya baik nggak papa Bos saya juga akan mendukung semua keputusan Dewi, Jika dia memang mau," jawab Kipli yang melirik ke arah Gofar.
"Benarkah? Baiklah, kalau begitu, aku akan menghubungi dia itu, Terima kasih ya?" kata Aina dengan senang.
Gofar memalingkan wajahnya dari adik iparnya itu, dia sangat tak menyukai Aina yang ingin menjodohkan Dewi dengan temannya.
Tapi dia sendiri juga bingung apa yang harus dilakukan, tak mungkin dia tiba-tiba meminta pada juragan Baron dan mama Wulan, untuk melamar Dewi sekonyong-konyong begitu saja.
Sedang Kipli juga ingin melihat keseriusan dari Gofar, tapi pria itu tampak cuek, dan tidak memikirkan apapun sepertinya.
"Ya sudah, kalau kamu merasa semuanya sudah terkendali, ayah dan Aina akan pulang. kami pamit dulu," pamit juragan Baron
"Tunggu ayah, Bisakah nanti aku datang ke rumah untuk berbicara pada ayah dan Mama?" tanya Gofar
"Datang saja, seperti kamu bukan putra kami, datang dan Bicaralah pada kami dan jangan pernah menyembunyikan apapun, dan ingat satu hal, Jika kamu menyukai sesuatu atau menyukai seorang gadis minta dan lamar lah, sebelum Gadis itu diambil orang lain, Ayo Aina, satu lagi jangan kalah dengan Ryan, dia saja menjaga jodohnya dari kecil, masa kamu meminta seorang gadis saja tidak berani," kata juragan panen sedikit mengejek Putra angkatnya Itu.
"Aku bukan Ryan yang akan orang gila menjaga kekasihnya,"
"Tapi itu yang diinginkan oleh seorang wanita menjadi ratu di tangan dia yang tepat Saut Aina yang membuat Gofar terdiam.
Sedang di rumah Dewi, gadis itu sedang santai menikmati waktu bersama ibunya.
"ada apa Bu," tanya Dewi yang melihat ibunya itu sedang sibuk membuat lintingan pindang.
"tidak ada kok nduk, ibu cuma ingin bertanya tentang apa kamu mau menikah dengan pemuda yang melamar mu?" tanya Bu Karno.
__ADS_1
"tidak Bu, sejujurnya Dewi menyukai mas Gofar, tapi sepertinya pria itu tak menyukai Dewi," jawab Dewi dengan sedih.
"kalau begitu, ini makan siang mas Gofar antar ke peternakan, dan pastikan dia mengutarakan isi hatinya, agar kamu bisa membuat keputusan,"