
Wulan sampai di gudang tempat usaha milik juragan Baron, saat masih di motor, dia mencoba menenangkan dirinya yang masih ketakutan.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku, dan itu membuat Wulan kaget sampai berteriak.
"Ya Tuhan, Ku kira siapa mang, bikin jantungan saja," kata Wulan yang masih belum bisa tenang.
"menang Bu juragan habis lihat dpa, kenapa kok mukanya takut begitu?" tanya Sardi yang juga baru selesai makan di rumah.
"ini lebih serem dari hantu dan debkolektor, aku hampir ketemu dengan juragan Sukoco dan itu membuatku depresi karena pria itu terus meminta ku untuk menikah dengannya,"kesal Wulan.
"apa!! wah ini kalau juragan Baron sampai tau, bisa adu jotos tuh dua juragan, tapi Bu juragan ini memang hebat ya, bisa di perebutkan oleh para pria," kata Sardi yang menggoda Wulan.
"aku sih gak Sudi ya, maaf aku masih suka yang muda, hiii...." kata Wulan yang menyerahkan gorengan kepada Sardi dan langsung menuju ke ruangan milik juragan Baron
Sedang pria itu langsung menghubungi juragan Baron dan mengatakan semua yang dia dengar.
Juragan Baron yang berada di luar kota pun marah besar, berani-beraninya juragan tua Bangka itu ingin memiliki Wulan.
Dia saja butuh waktu yang cukup lama untuk wanita itu mau dengannya.
"sialan, aku ternyata harus segera menyelesaikan urusan di sini sebelum pria brengsek itu makin tak bisa menjaga sikapnya," gumam juragan Baron
Di sisi lain, pukul empat sore semuanya sudah selesai dan berpamitan pulang, begitupun dengan Wulan.
__ADS_1
dia menyerahkan kunci gudang pada Sardi yang memang selalu mengunci tempat itu.
baru juga sampai di rumah, dia sudah di todong oleh putranya Ryan yang ingin menelpon juragan Baron.
"bunda mau telpon ayah," suara tuan yang terdengar sangat keras.
"besok saja ya, ayah mungkin sangat sibuk nak," kata Wulan membujuk putranya itu.
"bunda jahat, Ryan mau telpon ayah saja tak boleh," tangis bocah itu yang langsung marah tak karuan.
Tanpa terduga, juragan Baron malah menelpon Wulan, dan itu membuat wanita itu terkejut.
"iya ini ayah Baron, jangan menangis dulu," kata Wulan menjawab panggilan video call itu.
"ayah..."
"loh kenapa kamu menangis anak ganteng," tanya juragan Baron.
sedang Wulan yang merasa begitu gerah tak tahan lagi ingin mandi, "Bu titip ponselnya ya, dku mau mandi lengket banget nih kena keringat,"
"iya sana deh kamu bau," kata Bu pawoh.
Wulan segera ke kamar mandi,dan melihat cermin kamar mandi kotor, dia pun bergegas membersihkan kaca itu.
__ADS_1
Dan saat sudah bersih dia terkejut melihat wajahnya yang ada di depan cermin itu.
Dia segera mandi, dan dia ingat jika tubuhnya tak sempurna, terlebih ada bekas operasi sesar yang masih tampak meski sudah Lima setengah tahun berlalu.
Setelah segar, ternyata telpon belum selesai,jadi Ryan mengikuti ibunya ke kamar.
"jadi bagaimana ayah Baron, dia bisa datang ke acara sekolah Ryan?" tanya Wulan yang duduk di depan meja rias.
"tentu saja bisa, kemungkinan beberapa hari lagi aku pulang,dan lebih baik kamu tak usah datang ke gudang ya,karena aku tak ingin kamu bertemu dengan juragan tua Bangka itu," kata juragan Baron.
"aduh ayah, omongannya, pinjam ya Ryan, sekarang Ryan belajar dulu gih," kata Wulan yang mengambil ponselnya.
"iya bunda," jawab bocah itu
Wulan langsung mengganti dalam telpon biasa agar lebih enak bicaranya.
"jadi juragan Baron ini cemburu atau bagaimana?" tanya Wulan penasaran.
"menurut mu, itulah kenapa aku ingin secepatnya meresmikan hubungan kita agar pria seperti itu tak bisa menggoda mu, atau merebut mu dari tangan ku," kesal juragan Baron.
"sudah tenang saja, jika mas Baron cepat pulang, aku akan memberikan hadiah spesial untuk mu,"
"benarkah, baiklah kalau begitu aku akan segera pulang,tunggu aku ya," kata juragan Baron yang penasaran dengan hadiah itu
__ADS_1