Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
liburan 3


__ADS_3

Ryan pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya saja, karena Edo melarangnya untuk masuk ke dalam kamar.


Dia pun duduk dan melanjutkan permainannya bersama dengan tiga temannya itu.


Sedang Aina yang melihat tingkah suaminya itu, hanya bisa tersenyum malu.


Bagaimana tidak, karena Ryan yang ingin segera masuk ke kamar dan berduaan.


padahal teman-temannya masih ingin bermain bersama, karena hari juga belum terlalu malam.


Setelah Ryan mengalahkan semuanya akhirnya mereka pun memutuskan untuk istirahat.


Saat Aina baru juga membuka jilbabnya, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul terlihat di jendela.


melihat ada orang yang mengawasi dan mengintip kamar mereka.


Bukannya takut Ryan malah langsung keluar dari kamar, dan berlari mencari sosok itu.


Ternyata benar saja seorang pria sedang berlari kencang meninggalkan kawasan rumah itu.


Tanpa banyak bicara, Ryan langsung menendangnya, dan memukul pria itu hingga tersungkur.


"Brengsek!! Kenapa kamu berani mengintip ke kamar kami," marah Rian tanpa Ampun sedikitpun.


pria itu pun kesakitan karena Ryan menginjak tangan pria itu dan mendorong wajahnya ke tanah hingga tak bisa berkutik.


"Maafkan aku Tuan, aku hanya ingin melihat Siapa orang yang menyewa rumah....." kata pria itu memohon.


"kau tau jika aku tak suka dengan tingkah mu, seharusnya kamu bertanya saja pasti di jawab!" bentak Ryan.


Aina datang bersama yang lain, Edo dan Kevin menarik Ryan agar melepaskan pria itu.


Sedang Ivan mengikat tangan pria itu ke belakang, "sebenarnya kenapa pria seperti ini bisa disini!" marah Ivan.


beberapa warga berdatangan, dan kaget melihat sosok yang di tangkap oleh para penyewa rumah itu.


"maafkan dia mas... Dia itu memang kurang penuh, perkenalkan saya ketua RW di dusun ini," kata pria yang mengenakan baju sederhana itu.


"pak saya di sini itu menyewa, bisa-bisanya ada orang yang menganggu, apa anda tak tau siapa saya!" bentak Ryan.


tiba-tiba penjaga rumah pun datang dengan tergesa-gesa, "maafkan saya mas juragan, ini saya yang salah, tadi saya kebelet dan dua membantu saya menjaga rumah ini memang, tapi saya tak menyangka hingga membuat anda tidak nyaman," kata pria itu merasa takut.


semua orang panik mendengar panggilan itu, karena hanya satu orang yang pernah di panggil juragan oleh penjaga rumah inap itu.


Dan pria itu terkenal kejam karena tanpa ampun, "bereskan, dan sekali lagi jika dia berani mengintip kedalam kamar kami, aku akan membuatnya buta, ingat itu!" kata Ryan menghempaskan tangan dari kedua temannya.

__ADS_1


Dia pun segera mengajak Aina masuk kedalam rumah, begitu pula pun Kevin dan Laila.


Sedang Edo dan Ivan masih di luar dan dia melepaskan pria itu.


"lain kali ya pak, sudah tau jika yang menyewa itu bukan pria penyabar, jangan sampai terjadi lagi, untung saat ini dia bersama istrinya jika tidak wasallam pria ini," kata Edo yang melihat tatapan membunuh Dati mata Ryan tadi


"iya mas saya minta maaf, saya tak mengira bocah ini berulah,"


"sudahlah bawa dia dan jangan biarkan mendekat, karena kalian tau jika Ryan ini sangat mengerikan saat marah, melebihi ayahnya juragan baron,"


"inggeh mas, maafkan pria ini..."


Setelah beberapa saat mereka pun kembali ke dalam rumah, sedang di dalam rumah, Ryan sedang mencari sarung yang di bawa.


Dia pun langsung menutup area jendela malam itu, Aina tak menyangka akan melihat kemarahan dari suaminya itu.


"Mas, kumohon, Tenanglah, jangan seperti ini, Ini sudah malam, bisa mengganggu yang lain."


"cukup kali ini saja Dek, aku tak suka orang lain melihatmu tanpa menggunakan jilbab, dan jika bukan karena kamu dan yang lain, mungkin aku sudah mematahkan lehernya, jadi tolong Diamlah di sana!" suara Ryan dengan tegas.


Aina pun hanya bisa berdiri di depan pintu kamar, Laila pun mengusap punggung Aina.


Ya semua teman pria itu juga tau bagaimana Ryan menjaga Aina, jadi wajar jika pria itu sangat marah.


akhirnya setelah selesai melakukan sarung itu ke jendela, akhirnya Ryan pun mengajak istrinya untuk beristirahat.


Keesokan paginya, Aina sedang memasak sarapan di bantu Laila, dia membuat sarapan simpel untuk mereka semua.


Laila melihat temannya itu sedikit pendiam pagi ini, dan dia sedikit khawatir pada Aina.


"Apa semalam kalian bertengkar,dsn masalah itu belum selesai?" tanya Laila.


"Tidak kok, kami tidak bertengkar," jawab Aina tersenyum


"Sudah Jangan dipikirkan, mungkin semalam Mas Ryan hanya sedang kalut atau marah, ya Maklum saja, kamu kan menjaga auratmu dari siapapun, suami Mana yang tidak marah, jika ada orang yang mengintip istrinya. Yang sedang tak mengenakan jilbabnya,"


"Aku tahu hal itu, tapi aku sedikit terkejut dengan reaksi Mas Ryan yang cukup membahayakan orang lain, Bahkan dia membuat seolah nyawa orang itu seperti tak bernilai untuk di singkirkan begitu saja." kata Aina sedih.


"Itu hanya gertakan Aina, tak usah dipermasalahkan, lagi pula dia mungkin mengatakan itu hanya karena amarah," kata Laila mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Iya itu memang benar, karena suamiku sangat mengkhawatirkan ku, Ya sudah ini bawa ke depan, dan Panggil semuanya untuk sarapan, aku akan menyelesaikan membuat dadar ini dulu ya."


Laila memanggil semuanya untuk sarapan pagi itu, terlihat Ryan juga keluar dari kamar dengan kondisi yang cukup baik pagi.


Semuanya sarapan dengan tenang, karena mereka akan segera pergi ke daerah tempat wisata Candi Borobudur.

__ADS_1


Dan nanti setelah dari kawasan Borobudur, mereka akan pergi ke daerah Candi Prambanan juga, dan hari itu mereka akan benar-benar menikmati perjalanan mereka, Selama ada di kota Yogyakarta dan sekitarnya.


Aina mencoba untuk membuat suaminya itu tenang. dan Ryan pun juga beberapa kali memeluk istrinya.


tamiak keduanya juga sudah baikan, dan tak lupa mereka juga mengabadikan gambar di depan candi.


dan juga bersama sama mengambil foto, dengan meminta tolong bantuan para petugas yang berjaga di sana.


Siang hari sebelum ke daerah candi Prambanan mereka sempat makan sate klatak.


Dan Ryan memesan sate setengah matang agar tak alot, Aina pun mencobanya dan rasanya enak menurutnya.


"wah siap-siap malam ini pakai headset untuk tidur, bisa mendengar hal gila kalau gak," kata Edo yang di angguki oleh Ivan.


"makanya nikah," tegur Kevin.


"masa bodoh..." kata Ivan santai.


Pasalnya Kevin juga memesan sate itu setengah matang karena dia akan mencobanya nanti malam.


Semoga dia bisa bereaksi dengan istrinya, karena beberapa kali dia mencoba tapi adiknya tidak bisa bangun.


Itu membuatnya sedikit khawatir, kan tidak mungkin pria yang rajin olahraga bisa tak bergelora begitu.


Padahal beberapa kali dia melihat istrinya yang mandi tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Tapi saat jantungnya berdetak kencang, tapi adiknya tak bereaksi jadi dia mencobanya lagi malam ini.


Laila sebenarnya tau masalah suaminya, tapi dia tak berani curhat dengan Aina, biarlah itu menjadi rahasianya.


Tak lama, mereka sampai di daerah candi Prambanan, tiba-tiba seorang anak kecil memukul Kevin dengan daun kelor.


"ada yang jahat, jahat jahat..."teriak bocah itu sambil mengelilingi Kevin dan kemudian Lari pergi.


"lah Napa tuh bocah?"kata semuanya bingung.


"makanya kalau mau melakukan enak enak itu berdoa, masak sampai ada yang bisa membuat si Otong tak berguna," ledek Ryan yang merangkul temannya itu.


"apa?" bingung Kevin.


Karena dia tak menceritakan apapun, bagaimana Ryan bisa tau.


"karena tadi saat masuk kesini, aku bertemu bocah tadi dan ayahnya, beliau bilang jika ada seseorang yang sedang mengerjai mu, bahkan saat hatimu bergelora, tapi adik mu tak berguna, jadi aku meminta tolong, dan pria itu bilang untuk kaku pakai ini," kata Ryan memberikan sebuah kalung seperti gigi taring seekor hewan.


"terima kasih," kata Kevin tak menyangka temannya itu perhatian.

__ADS_1


"sudah makannya lain kali hati-hati," kata Ryan yang langsung berlari untuk menghampiri istrinya.


Kevin berbalik dan mengucapkan terima kasih dengan menangkupkan tangannya di dada.


__ADS_2