
Ryan sudah sibuk, tapi Aina lebih sibuk di bagian dapur bersama Bu pawoh.
Ya Aina benar-benar jadi kesayangan di rumah itu, terlebih Bu pawoh ini sudah menganggapnya seperti putri kecilnya.
terlebih dia dan pak Dikin memang tak memiliki anak setelah menikah karena usianya.
"aduh neng Aiba ini sangat giat ya, dari pagi tak diam loh, terus kesana-kemari bantu-bantu," kata ibu-ibu yang membantu.
"dia nenang gadis yang baik," jawab Bu pawoh yang merasa senang.
Akhirnya setelah semua persiapan selesai dan tertata rapi, Aina di minta mandi dan mengenakan baju seragam keluarga.
Dan saat dia selesai, dia membantu menjaga bima yang terus ingin bersamanya.
Saat mobil yang menjemput mana Wulan dan juragan Baron datang, semua orang berebut untuk menyalami kedua orang itu.
Tapi karena Aina takut bima terluka, jadi dia menunggu agar semua orang selesai dulu, dan setelah semua selesai dia baru maju.
Itu pun di buatkan jalan oleh Ryan yang tau jika Aina begitu menjaga bima, "putra ayah," kata juragan Baron yang mengendong putranya itu.
Sedang nama Wulan yang melihat Aina pun langsung memeluk gadis itu dan memberikan ciuman di seluruh wajahnya.
"mama..." lirih Aina yang tak bisa menahan tangisnya.
"iya nak, ya Allah..."kata mama Wulan yang juga tak bisa menahan air matanya.
Bahkan juragan Baron pun langsung memberikan doa terbaik untuk Aina agar gadis itu bisa bahagia.
Semua orang pun masuk kedalam rumah, dan semua tamu di bagikan hadiah oleh-oleh.
bahkan tamu tak ada putusnya berdatangan ke rumah untuk mengunjungi keduanya.
__ADS_1
dan banyak lagi teman yang datang untuk menjenguk juga, dan juragan Baron terus bercerita bagaimana pengalamannya selama di tanah suci.
Ya bahkan pria itu tampak tak percaya dengan semua yang telah dia lihat.
"apa sudah menemukan untuk jodoh putra mu juga, bukankah di sana doa kalian sangat di ijabah," kata salah satu pria yang datang.
Ya pria itu terus meminta perjodohan dengan Ryan, tapi juragan Baron menolaknya karena ingin putranya itu memilih sendiri jodoh yang di inginkan.
"saya mendoakan, tapi untuk jodoh Ryan,biarkan dia yang memilihnya, toh dia laki-laki jadi untuk buru-buru menikah itu sedikit buru-buru, tunggu dia bertanggung jawab," jawab juragan Baron.
"tapi dia juga sudah punya banyak usaha dan mapan, butuh apa lagi, atau jangan-jangan sudah punya kekasih ya,"
"memang kenapa om, kok kepo sekali, lagi pula target ku menikah di usia tiga puluh tahun jadi sekitar tujuh tahun lagi," jawab Ryan yang membuat juragan baton mengangguk.
"apa? Memang tidak terlalu tua untuk menikah di usia itu,"
"tidak ada kata tua untuk laki-laki," saut pak Dikin yang tak terima.
Lagi pula dia hanya tau pria baik ya Ryan, karena baginya hanya Ryan yang ada di sampingnya saat dia dalam kesedihannya.
Sampai pukul dua dini hari yami nadih banyak, bahkan Aina yang biasanya tidur sore pun ikut begadang karena merasa kasihan jika Bu pawoh sendirian.
pukul empat pagi, dia di bangunkan oleh Ryan yang melihat gadis itu tidur sambil bersandar di samping kulkas.
"hei dek, bangun kamu kenapa tidur disini," tegurnya lembut.
"eh mas Ryan, ya aku tadi sedang mengupas bawang loh kok ilang," kaget Aina yang membuat Ryan tertawa
"aku sudah menyelesaikannya, sudah tidur di kamar ku saja, karena kamar di kembar penuh," perintah Ryan
"aku sudah tidak ngantuk kok, mas mau kemana sudah rapi begitu," tanya Aina yang melihat Ryan
__ADS_1
"mau ke pasar untuk membeli bahan untuk membuat pecel, dan Bali ayam untuk tamu yang datang, karena teman bisnis ayah masih banyak, dan juga beli kue,"
"ikut ya,sebentar aku cuci muka dan ambil jaket," pamit Aina yang mengambil dompet yang di pegang Ryan
"hei..."tuan pun hanya bisa tersenyum saja melihat Aina.
Karena dia tau, jika gadis itu tak mengambil dompetnya, pasti dia akan di tinggal, dan ternyata gadis itu masih mengenakan jilbabnya.
Mereka ke pasar untuk belanja, Ryan sekarang jadi tukang angkat barang karena Aina sudah seperti ibu-ibu kalau nawar sadis.
Bahkan gadis lima belas tahun itu, tak bersikap seusianya, melainkan sangat pandai dalam menawar harga.
"ayam beli berapa kilo mas?" tanya Aina.
"tadi Mbah uti nyuruh beli lima belas, potong dua belas," kata Ryan.
"mas mau ayam lima belas kilo potong dua belas, jeroan juga dua kilo, usus tiga kilo dan geromohan dua kilo ya, nanti kalau mau kasih bonus, minta sayap ya," kata Aina.
"loh kok banyak Aina,"
"ssttss.... Nanti kalau aku masak, awas kalau mas minta ya," kata Aina yang membuat Ryan menangkupkan tangannya.
"jangan nyai, anda kalau masak enak,bisa tidak makan saya, ha-ha-ha,"
"mas bisa saja," kata Aina malu.
"aduh senangnya pengantin baru ya, masih hangat sepertinya," puji pedagang ayam itu.
"Ita mas, makanya nikah, he-he-he," kata Ryan yang tak mau repot menjawab atau pun mendengar pertanyaan menyebalkan.
Ilmi yang mendengar itu pun mengurungkan niatnya untuk menyapa Ryan,karena mendengar pengakuan pria itu.
__ADS_1