
Setelah sampai di rumah sakit, saat melakukan pemeriksaan, ternyata kondisi dari Wulan dan bayinya baik.
Dan ternyata calon anak mereka ini perempuan, terlihat juragan Baron dan Ryan sangat senang mengetahui hal itu.
Ya mau bagaimana pun jenis kelamin tak berpengaruh, tapi mereka sangat senang saja saat tau.
"jadi nanti kalau mau nambah anak lagi masih ada dua kesempatan lagi ya Bun, semoga bisa," kata dokter kandungan itu.
"iya dokter," jawab Wulan.
"paling satu lagi saja dokter, karena saya rencananya cuma mau punya tiga, kan sudah ada mas, ini adek nomor dua otw, yang nomor tinggal sepertinya nanti deh ya," kata juragan Baron yang membuat dokter kandungan itu tertawa.
Pasalnya pria itu sudah bilang ingin andk lagi padahal istrinya saja masih hamil anak kedua mereka.
Setelah di berikan resep untuk vitamin, akhirnya mereka pun pulang.
"mas mau mampir ke tempat main dulu atau pulang?" tanya juragan Baron pada putranya itu.
"aku ingin beli jajanan dong ayah, untuk di bagikan ke kelas, kan besok Jum'at," kata bocah itu
"siap deh mas," kata juragan Baron yang langsung mengarahkan mobilnya menuju ke toko kue yang masih buka.
karena toko yang biasa menjadi langganan tutup, terpaksa mereka pun membeli jajanan di swalayan besar di kota.
Wulan turun dan akan ikut melihat harga beberapa barang untuk persiapan tujuh bulanan.
Dia pun mengikuti suami dan putranya yang sudah menuju ke area biskuit dan sejenisnya.
saat melihat beberapa harga dia pun bisa mengira-ngira saja, setelah itu dia pergi ke bagian lain.
"mas,aku pergi ke bagian bumbu kering daa saos ya," kata wanita itu.
"baiklah, nanti aku beli mie ya," pamit juragan Baron.
"baiklah, tapi jangan beli rasa aneh-aneh karena kalian berdua jarang memakannya, beli yang goreng jumbo saja, itu lebih pas untuk anda berdua," kata Wulan sebelum pergi.
"tapi rasanya tak akan seenaknya sedaap ma," kata Ryan protes.
"kalau begitu terserah kalian deh mau beli mie yang apa," kata Wulan yak bisa membantah.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua itu pergi ke bagian mie, sedang Wulan berada di bagian bumbu kering dengan keranjang lain
Saat sedang memilih bumbu, tak sengaja dia di sapa oleh seorang pria.
"apa kamu Wulan?" tanya pria itu yang datang bersama seorang gadis kecil di troli.
Wulan menoleh dan terkejut melihat sosok yang menyapanya, "Andika, kamu sedang di sini juga,"sapanya dengan ramah.
"hai bakul panci, ku kira mataku yang sdlah lihat ternyata ketua sales bakul panci ada di sini," kata pria itu lagi.
"hentikan kamu membuat ku malu, itu hanya julukan ku saat sekolah dulu, kamu kesini sama siapa," tanya Wulan ramah.
"dengan putriku, Aina Salim dulu sama Tante," kata pria itu dengan lembut.
"mama..." panggil bocah itu yang langsung minta gendong pada Wulan.
"Tante sayang bukan mama," kata Andika kaget.
"tidak apa-apa, halo Aina cantik, mama tidak bisa gendong karena di perut mama ada adek kecil juga, jadi Aina duduk di troli sana papa ya," kata Wulan dengan lembut
Sepertinya bocah itu mengerti, sedang Andika tampak diam melihat reaksi putrinya yang memang kurang kasih sayang dari ibunya.
"iya tapi Allah lebih sayang dia, dia meninggal karena kecelakaan saat pulang mengajar, bahkan dia membawa anak di dalam kandungannya juga," kata Andika dengan sedih.
"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un... Aku tak tau, maafkan aku ya Dika, aku turut berduka cita, tempat terbaik untuknya ya," kata Wulan.
"terima kasih, aku sudah kuat demi Aina, tapi kamu di sini sendirian, dan yang aku dengar kamu baru menikah lagi ya, ya padahal jika belum aku mau daftar tuh, kan bisa asing bakul panci sama tukang bolos main," kata Andika tertawa
"kamu aneh ya kali, aku kesini sama suami dan anak pertama ku, mereka sedang di bagian mie sepertinya," jawab Wulan yang kembali ingat mengambil beberapa bumbu.
sedang di sisi lain, ada juragan Baron yang masih berdebat dengan putranya itu untuk beli yang mana.
akhirnya karena kesal dia beli dua kardus, yang ind*mie jumbo dan mie sed**p goreng spesial.
Saat akan menghampiri istrinya, dia melihat Wulan sedang berbincang dengan seorang pria sambil tersenyum.
Bahkan dia langsung panas saat melihat istrinya itu begitu ramah pada gadis kecil yang duduk di troli.
"mama!" panggil Ryan dengan suaranya yang cukup keras.
__ADS_1
"iya mas ada apa, dan mana ayah mu?" tanya wulan yang langsung menghampiri putranya itu dan Ryan memeluk ibunya seperti tak boleh jika wanita itu di rebut.
"haha putra mu lucu ya, mas ganteng siapa namanya," tanya Andika ramah.
"maaf anda siapa ya, kenapa begitu akrab dengan istri saya," kata juragan Baron yang datang dengan mendorong troli.
"mas kamu belanja apa saja?" kaget wanita itu melihat keranjang suaminya.
"oh tidak banyak kok, hanya sesuai tulisan mu, dan beberapa jajanan milik Ryan masih di ambilkan, jangan menganggu, kamu siapa?" tanya juragan Baron pada Andika.
"dia itu ..." tanpa di duga juragan Baron menghentikan istrinya itu
"aku tak bertanya pada mu dek, aku bertanya padanya, apa dia tak bisa menjawab," tegas juragan Baron.
Wulan pun terdiam dan Andika tak mengira jika suami temannya itu begitu keras dan kaku.
"iya maaf aku tak segera memperkenalkan diri, pemilik bengkel Andika jaya, Andika Saktiawan, saya adalah teman baik istri anda saat di sekolah menengah atas dulu," kata pria itu mengulurkan tangannya.
"salam kenal, Baron Wijatmiko, " kata juragan baton dengan tegas.
Andika yang mendengar nama itu merasa tak asing, "itu namanya sama seperti juragan Baron ya,"
"memang ayah juragan Baron," kata Ryan menyahut.
Mendengar itu Andika tak percaya jika temannya itu istri dari pria yang sangat berpengaruh itu, dan juga di ketahui semua orang jika pria itu adalah pencemburu berat.
"maaf saya tak mengenali anda, saya tadi hanya menyapa Wulan yang lama tak saya temui, karena dia jarang ikut reuni," kata Andika menjelaskan.
"kenapa?" tanya juragan Baron menoleh ke arah istrinya itu.
"itu reuni seperti tempat pamer harta, mulai dari punya mobil berapa, penghasilan sebulan dan uang gaji, belum lagi ydng perempuan akan pamer perhiasan, skincare, dan lain-lain," katanya menjawab pertanyaan itu.
"kamu bisa melakukannya, memang kapan acara itu berlangsung lagi?" tanya juragan Baron.
"tidak mau mas," panik wanita itu
"sepertinya enam bulan dari sekarang," kata Andika yang selalu jadi ketua yang mengurus segalanya.
"begini saja, Minggu depan aku undang ke acara tujuh bulanan di rumah kami, ajak semua teman mu dan istriku saat SMA, ini kartu nama ku, kamu bisa menghubungi nanti," kata juragan Baron.
__ADS_1
"baik juragan," jawab pria itu senang.