
tanpa terasa akhirnya saat ini acara akan berlangsung, di bagian dapur heboh masak untuk prasmanan untuk semua tamu dan kolega dari juragan Baron.
Pagi acara doa, semua bingkisan untuk tamu sudah datang dari pagi. bahkan sekarang sedang ada pengajian yang di isi oleh ustadz terkenal.
Pukul sebelas siang semuanya selesai, dan tinggal menunggu tamu undangan dari teman sekolah SMA dan teman bisnis istrinya.
Dan untuk acara sore adalah acara untuk tamu juragan Baron, memang saat pernikahan tidak ada pesta heboh.
Tapi ini saja sudah melebihi ekspektasi orang biasa, sedang saat tamu sudah pulang.
Para pria mulai menata meja prasmanan, sedang di sisi lain Wulan sedang duduk dengan Ryan dan suaminya.
ya mereka ini mengunakan baju yang sama, bahkan Ryan terus mengusap perut mamanya karena tak sabar untuk melihat kelahiran adiknya.
"memang adiknya mau di kasih nama siapa mas," tanya juragan Baron pada putranya itu.
"aku mau kasih nama depan R juga ya ayah," kata Ryan memohon.
"baiklah, bagaimana kalau Rara, Raina, Raisa, Raline atau Regina?" tanya juragan Baron.
Tanpa terduga Ryan malah berganti tidur di kaki ayahnya sekarang, "tidak tau aku bingung, semuanya bagus," kata bocah itu
"kalau mama maunya Raina, semoga dia bisa menjadi wanita yang cantik dan membawa kehidupan seperti halnya hujan," kata Wulan.
mendengar itu juragan baron ingat jika istrinya hamil itu pun terjadi setelah mereka bermain hujan
"aku setuju sek, Raina Cantika Wijatmiko," kata juragan Baron.
"oke adek Rain," kata Ryan mengusap perut ibunya.
Pukul satu siang Andika dan putrinya datang duluan dan kemudian meng-share lokasi dari rumah keluarga juragan Baron.
Satu persatu teman Wulan datang, dan semuanya kaget saat tau jika suami dari Wulan adalah juragan Baron yang sangat kaya dan terkenal.
Untungnya mereka datang membawa hadiah, dan setelah itu ada sekitar delapan puluh orang datang, terlihat saat Ajeng datang juga semuanya heboh karena wanita itu juga datang bersama suaminya.
Acara di pimpin oleh Andika selaku ketua dari para alumni itu, dan mereka juga melakukan dia untuk ibu dan bayi yang di kandung.
Setelah acara doa di lanjut dengan makan bersama, bahkan semua heran melihat prasmanan yang di sediakan, ada bakso, nasi campur seta es buah.
__ADS_1
semua itu untuk menyambut para tamu, Andika pun melihat Aina sedang duduk bersama Ryan yang tampak begitu mengayomi putrinya itu.
Semua tampak sedang berbincang pemilik pesta, sedang juragan Baron juga duduk di dekat Andika untuk membahas sesuatu.
setelah sekitar tiga jam acara, akhirnya para alumni ini pamit pulang tentu dengan membawa bingkisan dari tuan rumah sebagai kenang-kenangan.
Ya semuanya Seva merah muda sesuai dengan jenis kelamin calon anak yang masih di dalam perut.
Pukul lima sore giliran teman-teman dan semua anak buah juragan Baron yang datang.
Wulan juga sempat menyapa tapi kemudian suaminya itu meminta untuk duduk dan istirahat.
Ryan mengambilkan bakso dan nadi untuk ibunya, dan juga mengambilkan es buah tak lupa.
bahkan saat ini bocah itu sedang menyuapi ibunya dengan sangat telaten, Bu pawoh senang melihatnya
Sedang di area perdapuran beberapa pria tampak membantu bahkan Dewi dan Wawan mdkin dekat karena di bagian dapur dari pagi.
Kini keduanya sedang makan satu cobek berdua, "hadeh sebentar lagi akan ada yang menikah ini," kata pak Dikin melihat pasangan itu.
"menang gak boleh ya pak, kami ini sedang santai loh, oh ya kan jarang-jarang begini," kata Wawan.
"iya nunggu pak bos dulu, nanti mau ambil tabungan dan minta di biayain,"
"ih menjengkelkan," kata Dewi tertawa.
Rojak juga tak mau kalah, pria itu juga tampak terus menganggu istrinya.
Akhirnya mereka pun selesai karena nasi masih banyak dan lauk juga baru saja di tambah.
pukul sembilan malam tamu akhirnya selesai dan pesta sehari ini tuntas, pas nasi tidak sisa terlalu banyak, tapi lauknya yang masih banyak.
Bu pawoh tak banyak omong, dia langsung membungkus semuanya dan akan di bagikan pada kru dan juga tim bagian humek di dapur.
Bahkan bakso juga karena Dewi membawa tujuh kilo gram bakso itu sangat banyak karena ukurannya cukup besar untuk ukuran di gunakan prasmanan.
Setelah semuanya beres, rumah sudah bersih dari sore karena Mak tem membersihkan sampai bersih hingga tak ada rasa kinyit-kinyit begitu.
Wulan sudah berganti daster, sedang para pria sedang membantu membongkar tenda karena ada pindahan untuk pernikahan di kampung sebelah.
__ADS_1
tentu saja mereka melakukan bongkar dengan cepat dan efisien.
Wulan sudah istirahat karena kelelahan, pukul dua belas malam, akhir selesai dan malam itu banyak yang menginap di rumah juragan Baron karena besok paginya libur.
Pukul lima pagi Wulan bangun dan melihat banyak para pria masih di teras tidur.
Dan suaminya beserta Ryan tidur di ruang tamu bersama pak Dikin, rojak dan juga bekan.
Dia melihat ada nasi di wadah tremos, jadi dia langsung membuatkan bumbu nasi goreng dan dia ingat di kulkas ada ayam yang sudah di suwir kapan hari.
Dia pun pertama-tama membuat telur ceplok sekitar dua puluh telur, sambil menunggu salah satu orang untuk membantunya masak.
Akhirnya Azizah datang bersama Mak Yem, dan mereka pun langsung memasak nasi goreng dan Mak Yem membuatkan kopi untuk para pria itu .
Satu persatu para pria itu bangun, Bu pawoh juga sudah bangun dan membantu di dapur.
"Monggo kopi panas dan pisang goreng panas," kata Bu pawoh yang menaruh itu di depan.
"wah tapi aku Bai nadi goreng Bu?" tanya juragan Baron.
"masih di masak Baron, tunggu sebentar lagi matang itu nasi gorengnya," kata Bu pawoh yang langsung pamit ke belakang.
Dengan secepat kilat semuanya di nikmati oleh para pria itu dengan lahap
bahkan pisang goreng yang ada dua wadah cukup besar pun habis, saat nasi goreng keluar semuanya langsung menyerbunya juga.
Bahkan para pria itu tak menyangka jika para ibu-ibu ini tetap cepat tanggap untuk masalah permakanan.
juragan Baron masuk dan melihat istrinya juga sedang makan pun merasa senang, "jangan lupa vitamin mu ya sayang,"
"iya mas," jawab Wulan yang selalu di manjakan oleh suaminya itu.
Tiba-tiba di grup sekolah tempat Ryan belajar, ada sebuah pesan yang di tulis oleh wali kelas bocah itu.
ternyata ada beberapa imunisasi yang harus di berikan pada anak sekolah.
"Bu sepertinya Ryan harus imunisasi lusa, apa ibu bisa datang dan memegangi dia?" tanya Wulan yang tau bagaimana hebohnya seorang Ryan saat akan di suntik.
"tidak sanggup aku, biarkan suamimu saja nduk,"
__ADS_1
"ah baiklah semoga mas Baron bisa ya," kata Wulan yang merasa takut jika putranya itu berontak seperti yang terakhir kali.