
Raisa dan Aina pun berangkat menuju ke toko buku, mereka berdua mengendarai motor milik Raisa.
Tak Butuh waktu lama untuk sampai, sekitar perjalanan tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di toko buku yang di tuju dari awal.
Melihat tumpukan buku sebanyak itu, aina merasa jika itu adalah surga untuknya yang suka membaca terutama Nobel romansa dan juga angst.
Ya memang sedikit nyeleneh kesukaan dari gadis itu, terlebih dia sangat menyukai novel kriminal milik Ryan juga.
Bagaimana tidak, Gadis itu sangat menyukai buku, Bahkan dia punya beberapa koleksi novel yang dia beli sendiri, atau di belikan oleh orang tua angkatnya, saat masih sekolah dulu.
Karena dia tahu, jika dengan membaca buku, kita dapat menjelajahi dunia, itulah selalu yang dipegang oleh Aina.
Sedang di sisi selain, Ryan benar-benar hanya tidur saja, dia tak bisa menahan kantuknya lagi, karena tubuhnya juga sudah sangat lelah.
Saat sedang sibuk memilih-milih buku, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Aina cukup keras.
"loh mbek, kamu kok di sini sedang cari buku juga?"
"Astaghfirullahaladzim, kok aku harus ketemu dengan pria sepertimu di sini juga sih," kata Aina yang melihat teman sekolahnya beny.
"Emang kamu kira aku setan, baru ketemu, udah istighfar saja! aku ke sini kan juga mau cari buku, memang kamu saja yang suka, punya-punya, hobi, membaca buku!" kata Benny kesal.
"ya kan Siapa tahu muka berandalan kayak kamu ini tidak akan menyukai buku, ternyata bisa suka buku juga toh, Oh ya ke sini sendiri, atau bareng tim geng amburadul mu itu?" tanya Aina yang melihat sekeliling Beny.
"Aduh mulutnya sih mbek makin serem aja kalau ngomong, kenapa geng anak baik di bilang amburadul?"
"memang ada yang salah, Bagaimana bisa di sebut bukan geng amburadul, yang satu rambutnya panjang dicat merah, yang satu rambut panjang di cat ijo, Emang kamu itu sekolah, apa mau jadi kue lapis warna warni?" kata Aina yang selalu bisa berbincang santri dengan orang yang benar-benar di kenalnya.
"Itu kan dulu, sekarang kan sudah rapi, Oh ya kamu jadi kuliah di mana? siapa tau bisa ketemu," tahta benny penuh harap.
"Di mana saja terserah aku, memang kenapa, toh aku juga tidak harus memberitahumu kan, memang kamu siapa?" kata Aina kesal.
"Aduh, jahatnya, kan siapa tahu aku bisa bertemu denganmu nanti. kita juga bisa satu kelas mungkin, satu jurusan mungkin. ya, jangan lah sombong seperti itu, Ya siapa tahu aku juga bisa ketularan untuk pintar seperti mu, dan Laila.... Ah sudah deh," kata Benny.
"Nggak mau deh, lagi pula aku tak pernah janji ya," kata Aina dengan tersenyum manis.
Raisa yang melihat kakak iparnya sedang berbicara dengan seorang pria, tiba-tiba dia penasaran, akhirnya dia memilih untuk bertanya.
karena tak baik jika dia membuat prasangka buruk, tanpa tahu kebenarannya.
__ADS_1
"Loh mbak itu siapa? kok kayaknya deket banget dengan mbak aina?" tanya Raisa
"Oh, pria ini Dek, ini teman sekelas mbak, Dia kebetulan juga sedang mencari buku, Oh iya, Perkenalkan ini adik iparku, namanya Raisa, dan ini teman sekelas ku, namanya Benny," kata Aiba ramah seperti biasa
"Loh... Kamu beneran nikah, ku kira itu cuma gosip doang, kan aku saat itu ada di Malang saat itu, tak ku sangka itu fakta," kata Beni yang sedikit terkaget-kaget.
"Lah Iya dong, aku beneran menikah setelah lulus madrasah Aliyah, Memang kenapa nggak boleh?" tanya Ayla dengan sedikit kesal.
"ya, bukannya tidak boleh, cuma ya kok bisa gitu loh, Nggak sangka aja, gadis sepintar kamu memilih menikah muda, kamu udah punya pikiran seperti itu, ya? Untuk Laila tidak, memang kamu itu kocak banget benar-benar di luar Nurul ya," kata Benny.
"Lah si kocak, kamu nggak tahu jika Laila malah lebih dulu menikah daripada aku," kata Aiba yang membuat pria itu terkejut.
"Ah beneran, Wah kalian benar-benar ya, dua Primadona sekolah, menikah mau di usia muda, Terus yang lain gimana, apa yang nggak ngaplo ya," kata Benny menyembunyikan perasaannya.
"itu urusan mereka, ya, kenapa harus aku yang repot mengurusi hidup mereka juga," jawab Aina yang sudah menemukan tiga buku.
"Jahatnya mulut kamu Aina setelah lulus, malah Makin Kejam ya kalau ngomong," kata Benny syok.
"Biarkan saja, kan aku memang begini cara ngomongnya, emang kamu keberatan?sudah aku mau mengurus pembayaran dulu, ayo dek," kata Aina dengan santai meninggalkan Benny.
pria itu tampak diam berdiri di tempatnya, dia tak menyangka, gadis yang dia sukai, ternyata sudah menikah secepat ini.
Padahal dulu saat Beni mengajaknya berpacaran, Laila selalu menolaknya.
tapi benny mengira jika itu cuma gurauan, tak sangka akan ternyata itu benar-benar terjadi.
Aina yang mengetahui perasaan temannya itu pun, hanya bisa diam, karena dia tidak bisa melakukan apapun.
Benny, harus sadar diri, jika Laila tidak akan bisa menjadi miliknya.
"Mbak, itu temennya, nggak apa-apa, Kok diam begitu di sana," tanya Raisa melihat benny yang tetap diam di tempat.
"Nggak papa Dek, biarkan dia di sana, karena dia harus sadar, jika orang yang dia cintai sudah menjadi milik orang lain" jawab Aina yang membuat Raisa Kaget.
"Apa Mbak! Kok bisa begitu ya, Padahal dia ganteng loh," kata raisa dengan sedikit tertawa kecil.
"Jangan lihat gantengnya dek, kalau lihat pria itu lihat agamanya, yang agamanya bagus aja belum tentu benar," kata Aina yang tertawa.
Mereka berdua sudah selesai membeli buku, dan memilih untuk membeli minuman di salah satu kedai.
__ADS_1
dan tak hanya itu, mereka juga membeli jajanan di sana, untuk mengganjal perut.
Mereka tak langsung pulang, mereka duduk santai di salah satu halte di dekat rumah sakit, mereka menikmati jajanan yang tadi mereka beli.
"Enak ya Mbak, Santai begini sore-sore," kata Raisa pada kakak iparnya itu.
"iya dek, Kamu benar, kita kan jarang-jarang, ya, bisa begini, terlebih Mbak yang sekarang lebih banyak di rumah." jawab Aina
"Ya, mau bagaimana lagi, Mbak, sudah menikah, tapi seharusnya nggak gitu sih, ya harusnya Mas Ryan itu banyak mengajak Mbak keluar. sekalian refreshing," kata Raisa memberikan argumen.
"Kamu lucu deh, jika mas Ryan selalu mengajakku keluar, bisa-bisa dia tidak bekerja, dan kita mau makan apa," kata aina dengan santai karena argumen adiknya itu.
"Kenapa harus bingung? uang Ayah, itu aja sudah banyak sekali, dan itu tidak akan habis dimakan untuk tujuh turunan tujuh tanjakan, dan tujuh belikan, jadi santai saja." terang Raisa.
"Kamu yakin sekali, memang kamu tau benar?"
"Iya dong, kan ayah sendiri yang bilang padaku, tapi jangan bilang mama ya, Nanti mama marah lagi padaku jika ngomong begitu," Kata Raisa dengan Bersungguh-sungguh.
"Iya deh, iya, mbak akan diam dan Tutup mulut, mengerti, "Ya sudah, sekarang ayo kita pulang, karena ini sudah semakin sore, takutnya Mas Ryan bangun dan mencari kita."
"Ayo Mbak, aku juga sudah lelah, dan ingin istirahat."
Keduanya pun pulang dengan mengendarai motor cukup kencang, beruntungnya Aina memiliki ke lihaian dalam Mengemudi motor.
Saat sampai di rumah, ternyata benar Ryan, sudah duduk manis di teras sambil menunggu Kedua orang itu
"Kukira kalian lupa jalan pulang," ketusnya.
"Ya Allah, Mas, Baru juga telat satu jam, udah ngomel aja, itu, laki-laki apa perempuan,"kata Raisa menggoda kakaknya itu.
"Kamu itu ya, dibilangin jawab mulu, sana masuk dan langsung mandi, dan kamu Aina juga nanti akan dapat hukuman berat dariku, jadi sekarang naduk dan bersih-bersih cepat," kata Ryan pada istrinya itu.
Aina pun bergegas masuk kedalam rumah, tapi sebelum itu dia sempat mengetikan sedikit kecupan di pipi suaminya.
"dasar kamu ini!!" kata Ryan yang langsung lari mengikuti Aina.
Tapi dengan cepat, Aina menutup pintu kamar dan menguncinya.
Ryan yang terkena pintu pun menggedor-gedor pintu kamar tapi tidak di bukakan oleh istrinya.
__ADS_1
"ciye... Di kunciin," ledek Raisa.
"diam!!"