
sore hari, semua sedang santai di teras, bahkan Ryan tampak tiduran dengan mengunakan paha sang ayah sebagai bantal.
Sedang di kembar sedang bermain kejar-kejaran dengan pak Dikin dan Bu pawoh.
Keduanya tampak begitu senang, Wulan keluar membawa minuman dingin karena cuaca cukup panas meski sudah jam tiga sore.
"ayo minum dulu, dan kakak Ryan nanti mau sekolah di mana? Apa mau di tempat yang sama dengan Ivan dan Tyo lagi?" tawar Wulan yang duduk di samping putranya itu.
"tapi aku belum mengurus surat pindah ma," kata Ryan yang bangkit dan menerima air minum itu.
"tentu saja tenang nak, itu urusan ayah jadi jangan bingung, atau kamu mau cari sekolah unggulan lain?" tanya juragan Baron yang selalu ingin yang terbaik untuk putranya itu.
Ya meski ini di pertengahan semester, tapi setidaknya Ryan sudah pasti bisa mengikuti semua pelajaran di sekolah umum.
"baiklah nanti aku sekolah di tempat Ivan dan Tyo, toh mereka berada di satu sekolah kan,"
"baiklah nanti mama yang atur," jawab Wulan dengan senang hati
Mereka pun bercanda tawa bersama, dan tentu juragan Baron tak ingin berhubungan lagi dengan orang-orang menyebalkan itu.
__ADS_1
Annisa bingung karena sang kakek sakit sebab yang terjadi terakhir kali, di tambah lagi dengan yang terakhir kali terjadi.
"apa dia mau datang?" tanya Annisa pada ustadz Yusuf yang menemaninya di rumah sakit.
"nomor ponsel ku sudah di blokir, dan juga untuk nomor telpon istri mas Baron juga tak bisa di hubungi," jawab pria itu.
Mendengar itu Annisa tak menyangka juragan Baron akan sekejam ini, ya meski dulu kakeknya melakukan kesalahan-kesalahan itu, tapi sekarang pria itu sudah meminta maaf.
Akhirnya pilihan terakhir Annisa adalah menelpon pak Dikin selaku ayah mertua dari juragan Baron.
Tapi ternyata nomor ponsel itu juga tak aktif, dia takut kondisi kakeknya semakin memburuk.
"jika sampai kakek kenapa-kenapa dan kamu tak ada, ku anggap kamu yang bertanggung jawab," lirih Annisa.
Karena dia hanya ingin melihat kebersamaan, dan sekarang keluarga itu pilah-pilah saat ingin membantu warga desa
terlebih setelah fitnah yang terjadi dan banyak orang yang merasakan akibatnya saat ini.
malam hari tak ada yang aneh, pak Dikin pun hanya merasa aneh saat ada banyak telpon dari pria yang menjadi pengawas Ryan selama mondok kemarin
__ADS_1
"assalamualaikum ... kenapa menelpon ku?" tanya pak Dikin yang masih di rumah juragan Baron.
"wa'alaikumussalam pak, saya hanya ingin minta tolong, untuk memberitahu pada mas Baron jika Mbah kyai masuk ICU, setidaknya dia mau menjenguknya sebentar saja," kata ustadz Yusuf.
"jangan banyak harap, sekarang dia ingin jadi kakek yang sayang cucunya, kemana saja selama ini, saat aku menjadi yatim piatu di usia ku yang sangat muda, dia kemana, jadi sekarang aku anggap kita tak ada hubungan, dan nanti kalau beliau mati, baru bilang dan kami akan melayat untuk itu, jadi sekarang tolong perlakukan aku seperti dulu saja," saut juragan Baron.
"sudah dengar, maaf aku tutup dulu telponnya," kata pak Dikin yang langsung menutup telponnya itu.
"kenapa dia begitu sombong, hanya punya sedikit harta saja dia bisa sesombong itu," kata Annisa marah.
Dia benar-benar bersumpah jika sesuatu sampai terjadi dan juragan Baron tak datang, dia akan membalaskan dendam.
🍁🍁🍁🍁🍁
Halo semuanya
salam hangat dari ku...
karena ini bulan agustus,dan saya masuk dalam tim kepanitiaan, jadi sibuk dan belum bisa crazy up, mohon maaf sebelumnya.
__ADS_1
Dan tolong terus dukung karya author ya, dan sebentar lagi akan ada karya baru, semoga kalian tak bosan..