Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
dua kembar kesayangan


__ADS_3

Setelah pemakaman, semuanya kembali ke rumah, dan duduk bersama di ruang tengah untuk sarapan.


untungnya Aina ingat kesukaan dari setiap keluarga di rumah ini, jadi tak ada yang protes.


dan seperti biasa, Gofar selalu membagi lauk daging miliknya menjadi dua dan memberikannya pada Raisa dan Raina.


"aduh mas, aku kenyang," kata Raina yang protes karena porsi nasinya sangat banyak.


"hus, lanjutkan makannya," tegur Gofar yang membuat Raina mengerucutkan bibirnya.


Tanpa terduga, pria itu mengambil nadi adiknya itu, dan seperti itulah perhatian Gofar.


begitupun dengan Ryan yang menawarkan porsi miliknya pada Raisa yang selalu mengambil sayur dari nasi milik kakaknya itu.


"ini gimana sih kalian berdua, selalu saja memanjakan kembar, mereka itu udah besar," tegur Bu pawoh.


"tapi bagiku mereka tetap di kembar lucu yang masih perlu di lindungi Oma," jawab Gofar.


"betul,setuju dengan mas Gofar,"


"wes sak karep mu, terus kalian berdua sudah daftar sekolah, atau gak mondok saja gimana?" tawar Bu Pawoh.


"tidak boleh, aku tak setuju Oma, aku tau itu demi kebaikan mereka, tapi kebanyakan jika mondok itu, para santri itu sering terkena kutu rambut dan kadang penyakit kulit juga," bantah Ryan.


"ya Allah le, ya mondoknya di tempat yang modern, tapi tidak melupakan semua ajaran agama, kebetulan ayah punya kenalan saat haji kemarin, beliau itu pemilik pondok pesantren yang modern dan bagus juga," kata juragan Baron.


tapi Ryan menunjukkan ketidaksukaannya, karena adik-adiknya itu tak boleh mengalami apa yang pernah dia alami.


"sudah-sudah jangan ribut, Raina dan Raisa juga sudah memilih sekolah mereka sendiri, mereka akan sekolah di madrasah Aliyah unggulan di Tambakrejo, jadi dia akan memilih untuk pulang pergi, betul kan nduk?" kata mama Wulan


"inggeh ma," jawab keduanya uang membuat Gofar mengangguk.


"ya sudah nanti mas antar jemput tak apa-apa,terutama saat musim hujan, karena sekolah cukup jauh dari rumah," kata Gofar yang langsung di sambut tawa senang kedua gadis itu.


saat tengah sarapan, tiba-tiba sebuah telpon masuk kedalam ponsel Aina.


Dia pun undur diri untuk menjawab telpon itu, "assalamualaikum... Ini dia?" tanya gadis itu.


"wa'alaikumussalam... maaf ya Aina, ini aku Ivan, aku menelpon ponsel Ryan tepi tak bisa, aku dengar srmslam dia kecelakaan, bagaimana keadaannya?" tanya pria itu terdengar khawatir.


"aku baik-baik saja, dan dari mana kamu dapat nomor telpon istriku kampret," marah Ryan yang memang tak suka jika teman-temannya itu punya nomor telpon Aina.


"dari istri Kevin, ya habis kamu di telpon tak bisa," marah Ivan dari sebrang telpon


"ponselku hancur, sudahlah main kesini saja,"


"baiklah," jawab pria itu langsung menutup telponnya tanpa mengucapkan salam.


Ryan pun menyimpan ponsel istrinya itu,karena Aina sedang berada di dapur.


Ryan sedang duduk santai di teras dengan Gofar, "jadi rencananya kapan mau melamar Dewi, bukankah mas sangat menyukai gadis itu, dan yang aku dengar dia sudah menolak dua lamaran, jadi tak baik jika menundanya lagi," kata Ryan yang membuat Gofar menoleh.


"insyaallah lusa, mama dan ayah sudah menghubungi keluarga pak Basuni untuk mengatakan niat keluarga kita, dan keluarga itu mengiyakan," kata Gofar tersenyum sekilas.


tapi yang tidak mereka tau, seseorang merasa sangat sedih mendengar rencana itu, dan memilih pergi.


Ya awalnya dia ingin bergabung dengan kedua pria itu, tapi dia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Raina, mau kemana, tolong antar ini ke rumah bude Sofi ya," kata mama Wulan.


"ya mama, jalanan becek ma, terus aku malas ketemu anak bude Sofi yang tak kenal malu itu," bantah gadis itu kesal.


"hei kamu kenapa, bukankah kamu itu seneng di suruh ke rumah bude Sofi, bukannya kamu dan Daffa itu sahabat dari kecil ya," kata mama Wulan.


"ih mama..." rengek Raina yang membuat wanita itu tertawa.


"sudah ya nduk, antarkan saja, toh tadi Raisa sudah pergi ke rumah bulek Yanti," kata wanita itu lagi membujuk putrinya.


"baiklah," jawab Raina yang tak bisa menolak dan pasrah mengantarkan buah nangka matang.


"na, mau kemana," tanya Ryan.


"mau je rumah bude Sofi antar ini," jawab gadis itu mengambil sepeda listrik yang ada di sana.


"titip rokok sekalian dek, ini uangnya, tau kan rokok mas," kata Gofar menyerahkan uang pecahan seratus ribu itu.


Dan saat Raina mendekat, Gofar kaget melihat kaos yang di kenakan oleh gadis itu.


"tau rokok Marlb*ro biru ya," kata Raina yang tak melihat wajah Gofar


"ganti baju mu," kata Gofar yang membuat Ryan menoleh.


"ada apa sih mas?" kagetnya.


"apa pantas kamu berjilbab tapi kaos yang kamu kenakan begitu ketat, ganti," tegur Gofar lagi.


" mas sok alim!" marah Raina yang mengambil jaket Gofar dan mengenakannya.


Ryan pun tidak mengira jika Gofar seposesif itu pada dua adik perempuannya.


"ya aku tau itu, tapi dia harus bisa terbiasa, ya meskipun aku juga tak sebaik itu," kata Gofar yang memijat kepalanya pusing.


"sudah tak usah begitu, lihat tuh muka makin kusut dan keriput muncul," kata Ryan menggoda kakaknya.


karena kesal, Gofar memukul adiknya itu. Sedangkan Raina sampai di rumah yang di tuju dan memberikan nangka itu dan segera pulang.


dia berhenti di sebuah toko kelontong untuk membeli rokok milik kakaknya itu.


"Bu rokok Marlb*ro biru dua ya, dan mau peyek kedelai itu dong Bu," kata Raina yang kemudian di ambilkan oleh pemilik toko.


Seorang gadis melihat jaket yang di kenakan oleh Raina, "dek itu bukannya jaket mas Gofar ya," tanya Dewi yang melihat jaket yang sering di kenakan pria yang dia sukai.


"memang tak boleh, memang mbak siapa, istri juga bukan sudah mau ngelarang aku yang adiknya pakai baju kakak ku," ketus Raina.


Dewi kaget mendengar jawaban dari Raina, karena dia tak menyangka jika gadis muda itu adalah adik Gofar.


"ya maaf, aku tak lupa jika mas punya adik perempuan, habis kdlian jarang terlihat kegiatan di desa," kata Dewi tersenyum malu.


"mbak aneh ya,orang aku dan saudariku sudah beberapa kali jadi penanggung jawab acara Tarang taruna,mbak saja yang kurang gaul sih, makanya jangan terus mengelilingi pria yang belum sah jadi suami mu dengan pakaian begitu," kata Raina sebelum pergi


Dewi hanya melongo karena mendengar ucapan dari gadis cantik itu.


"sudah mbak Dewi, itu pasti Raisa yang memang ketus sama orang yang belum dekat, tapi tahi lalat nya di pipi kanan apa Raina ya, tau ah saya bingung karena muka mereka terlalu mirip,"kata ibu pedagang itu.


"iya Bu," jawab Dewi yang merasa tak enak karena tak mengenal calon adik iparnya.

__ADS_1


Ya di bandingkan Aina yang sudah kenal dari kecil, dia ini seperti orang asing yang mungkin akan di anggap merebut kakak mereka.


Sesampainya di rumah, ternyata sudah ada teman-teman dari Ryan, dan terlihat Raisa sudah pulang duluan.


"ini mas, aku tadi beli peyek ini,gak papa kan,ini kembaliannya," kata Raina yang menyerahkan kantung kresek itu.


"kembaliannya ambil buat beli es, terima kasih ya dek," kata Gofar


"iya mas," jawab gadis itu tang kemudian masuk menarik Raisa.


"ganjen... Masuk deh jangan bikin malu," kata Raina yang membuat Raisa kesal.


"ya elah, baru juga melihat mas Ivan bentar na,"


"dasar kamu ini, kamu tak lihat itu mas Gofar yang sudah hampir keluar itu matanya, sudah mending kura buat cilok yuk,aku sedang ingin makan cilok pedas nih," kata Raina.


"lah si kocak, kamu kesambet setan ya, tumben banget, gak ah nanti kamu sakit,aku yang di marahin mama," kata Raisa.


"ayolah sa, aku ingin banget bisa makan kecut pedes seperti kamu, please..."


"ya sudah," pasrah Raisa yang tak bisa menolak keinginan kembarannya itu.


Mereka berdua sibuk di dapur, karena para wanita yang lain sedang pergi untuk belanja barang yang akan di gunakan untuk acara lamaran.


Setelah membuat cilok dan pangsit goreng, mereka pun membuat kuah cilok dengan mengunakan satu genggam cabe.


Setelah itu, ketiganya mulai makan saat matang, terlihat Raisa yang terbiasa menambahkan satu jeruk nipis.


Dan Raina tampak sudah kepedesan karena dia tak bisa makan pedas selama ini.


Tapi akhirnya mereka menghabiskan semua masakan itu.


"lah aku telat latihan silat," kata Raisa panik yang langsung lari pergi.


Raina yang selesai membersihkan barang-barang di dapur.


Setelah itu dengan santai duduk di ruang tengah sambil menonton film


Gofar masuk dengan membawa piring kotor, "loh tamunya sudah pulang mas?"


"iya dek, kamu baru buat apa?" tanya Gofar yang melihat ada beberapa wadah tertutup di meja dapur.


"pangsit goreng, tapi kuah dan sambelnya habis sama Raisa, oh ya tapi mana mas ryan?" tanya gadis itu heran melihat Gofar duduk di sebelahnya.


"dia pergi membawa pickup atas permintaan mama, dan mas di suruh jaga rumah karena kamu sendirian,"kata Gofar yang ikut nonton sambil menikmati peyek yang di beli Raina.


"ya memang aku bocah ya, sampai harus di temani begini," kesalnya.


"ya bukan begitu, lagi pula mas juga tak ada kegiatan, jadi tenang saja," kata Gofar yang memang benar-benar terlihat santai.


Saat Raina ingin makan coklat, tiba-tiba Gofar mengarahkan tangan gadis itu hingga menyuapi dirinya.


"ya mas Gofar!!" teriak gadis itu yang memukuli Gofar.


"apa sih, orang mau nyicip," kata Gofar tertawa karena Raina yang memang selalu pelit kalau menyangkut coklat.


Keduanya ini memang saudara angkat, tapi Gofar sudah menganggap adik-adiknya itu seperti adik kandungnya sendiri.

__ADS_1


terlebih dia gadis yang kini sudah beranjak dewasa, kalau Raisa mungkin bisa menjaga dirinya, tapi Raina sedikit rapuh karena tubuh gadis itu tak sekuat Raisa.


__ADS_2