Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
bersumpah atas nama ku


__ADS_3

Aina sedang mencoba baju kebaya yang pernah di gunakan oleh mama Wulan saat menikah dengan juragan Baron.


meski itu kebaya lama, tapi kebaya itu masih sangat bagus dan tak ketinggalan jaman karena mama Wulan sudah merombaknya sedikit demi calon menantunya itu.


"apa masih kebesaran nduk?" tanya mama wulan yang melihat Aina yang begitu cantik dengan setelan kebaya berwarna putih itu.


"tidak apa-apa mama, aku malah takut jika kebayanya terlalu ketat, karena beberapa hari ini bobot ku naik terus karena mas Ryan terus mengajak ku makan enak di malam hari," kata Aina yang membuat Bu pawoh dan di kembar tertawa


"ya karena mbak Aina begitu kurus tapi dia bukit mu bisa besar ya,"kata Raisa.


"hus, itu keturunan," kata Bu pawoh.


"tapi memang kok, mbak Aina sekarang sedikit berisi, lihatlah pipinya yang selama ini begitu tirus, sekarang sedikit tembem," kata Raina yang datang dengan membawa bola-bola pisang isi coklat.


"iya dek iya," kata Aina yang tersipu malu.


"tapi Wulan, seingat ibu kebaya itu kan cuma panjang di area belakang, tapi kenapa sekarang punya ekor panjang begitu dan terlihat semakin mewah," tanya Bu pawoh heran.


"aku merombaknya sedikit Bu, agar tetap terlihat cantik dan tak ketinggalan jaman," jawab mama Wulan."


"nanti kalau aku nikah boleh pakai kan, karena itu kebaya milik mama," kata Raina yang iri.


"tentu saja, karena mama menyimpannya dengan sangat rapi,"


Tiba-tiba Ryan pulang bersama dengan juragan Baron, keduanya bahkan saling bercanda.


"ayah itu sakit," kata Ryan yang sudah di jewer oleh ayahnya itu.


"kamu itu kalau sudah di luar suka lupa jika kamu akan menikah,"


"tentu saja aku di luar demi urusan pekerjaan, bukan untuk main kok yah," kata Ryan dan juragan Baron yang masuk kedalam rumah.


Ryan tak mengedipkan matanya,melihat seorang gadis sedang berdiri sambil memakai baju pengantin berwarna putih.


"itu pengantin pria datang, bagaimana pendapatmu tentang ini?" tanya Bu pawoh.


Ryan pun terpesona hingga tak menjawab pertanyaan dari Mbahnya itu.


"tentu saja cantik,lihat sampai Ryan bengong begitu, tak sia-sia istriku ini mengubah sedikit kebaya lama itu," kata juragan Baron memeluk dan memberi ciuman pada istrinya itu.


"ayah.... Berhenti melakukan itu di depan kami," protes si kembar.


"gak bisa, ha-ha-ha,"


Aina pun segera masuk kedalam kamar dan berganti baju dengan baju biasa.


Dia tak menyangka akan mengenakan baju yang pernah di gunakan mama Wulan.


dia pun ingat jika dia juga mengambil jas milik ayahnya kemarin lalu.


Dia keluar sambil membawa jas itu, "mas Ryan mau mencobanya," tanya Aina memberikan jas yang masih tersimpan di tas khusus yang melindungi jas itu.


"tentu saja," jawab Ryan yang mengambilnya dan mencoba jas itu.


Dan sebelum itu juragan Baron memberikan sebuah jam tangan untuk putranya itu.


Ryan pun membuka jas itu, dan dia kaget melihat jas yang pernah di tunjukkan oleh pak Andika saat dia main ke rumah pria itu.

__ADS_1


Ryan ingat benar, saat itu jad ini baru datang yang di pesan secara khusus untuk di gunakan oleh calon menantunya kelak saat akan menikahi Aina.


"lihatlah Ryan, apa jas ini bagus, aku berharap ini tak akan pernah ketinggalan jaman," kata pak Andika yang menunjukkan jas itu.


"menurutku itu tak akdn ketinggalan zaman karena jas pria ya modelnya begitu saja, tinggal mencocokkan dengan dasinya saja," jawab Ryan yang kebetulan sedang main ke rumah itu sambil melihat progres pesanan mesin pakan untuk kolam lele miliknya.


"bisakah kamu menolong ku,bisa coba ini, karena kamu orang muda dan aku ingin lihat,pantas atau tidak," kata pak Andika.


"boleh dong, tapi izinkan aku memanggil mu ayah mertua kalau begitu,"


"terserah saja," kata pak Andika tertawa mendengar permintaan dari Ryan itu


Ryan pun mengusap air matanya saat mengingat hari itu, dan segera keluar untuk menunjukkan penampilannya.


Semua orang kaget melihat Ryan, karena jas itu pas di tubuh Ryan.


"kamu terlihat tampan Ryan, tapi bagaimana bisa kamu punya jas yang sesuai ukuran Ryan nduk," tanya Bu pawoh.


"saya pernah di tunjukkan ayah jas ini,beliau pernah bilang, siapapun yang akan menikahi mu, dia harus mengenakan jas yang ayah sudah siapkan ini, dan mengunakan dasi dan jepit dadi dari ayah mertuanya ini," kata Aina memakaikan dasi di depan semua orang.


"bahkan aku pernah membuat syarat untuk ayah Andika, saat aku di suruh mencoba jas ini, aku akan memanggilnya ayah mertua, dan dia hanya tertawa mendengarnya," kata Ryan yang menghapus air mata Aina yang jatuh.


"ayah...." tangis Aina pecah mendengarnya.


Ryan pun menenangkan gadis tercintanya itu, entahlah itu permintaan atau firasat.


Tapi Ryan memang selalu bercanda dengan pak Andika jika ingin menjadikan Aina istrinya.


Meski pun pak Andika terus membuat pemuda itu kesal karena terus mengatakan jika dia akan membuatnya harus membayar mahar yang mahal.


Tapi dengan santai Ryan akan mengatakan jika uang ayahnya tak akan habis meski dia di minta memberikan mahar milyaran rupiah.


"sebenarnya aku memang pernah bercanda dengan Andika dulu, jika aku punya anak laki-laki, aku ingin dia menikah dengan anaknya kelak, ataupun sebaliknya, tapi dia menertawakan diriku karena aku duda kolot dulu, tapi semua itu berubah saat aku melihat Ryan yang begitu menyukai Aina yang cantik dan menggemaskan saat kecil,bahkan aku ingat saat keduanya tidur sambil bergandengan tangan, setelah lelah bermain saat aku datang untuk memesan mesin untuk di sawah,"


"ya keinginan mas sana dengan keinginan ku," kata mama Wulan yang membuat semua orang tak percaya.


Aina tak menyangka hal itu, bahkan orang tua mereka sudah mempersiapkan segalanya.


setelah semua kesedihan itu, mereka duduk bersama setelah pak Dikin pulang bersama bima dengan membawa kluweh yang sudah tuwa dan blonyok.


"apa ini,kenapa di bawa pulang sih, dasar ini ya kakek sama cucunya suka ngajarin hak yang aneh-aneh," kesal Bu pawoh.


"apa sih sayang ku yang kalau marah makin bikin aku cinta deh," kata pak Dikin.


"tolong lah..." kata si kembar lagi.


"iya cinta..." kata Bima yang menirukan pak Dikin.


"hei bocah kayak tau apa itu cinta," tegur Ryan pada adiknya itu.


"sepelti ayah dan mama, Mbah uti dan Mbah kung, dan mas lyan dan mbak Aina, begitu kan seling menangis belsama, seling teltawa belsama,"


"dasar bocah ini,kamu ngomong R sama L saja belum jelas sudah ngomongin cinta," kata juragan Baron gemas sendiri dengan tingkah putranya itu.


"wah terima kasih pak, ini enak kalau di rebus, awas kalau nanti ada yang mau," kata mama Wulan yang mulai mengambil semua biji dari kluweh itu yang sering di sebut ponge.


"mama biar aku bantu, Raisa tolong ambilkan ember ya dek," kata Aina yang menyuruh gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


"siap mbak,"


Akhirnya mereka sambil berbincang, dan merencanakan semuanya.


Aina dan mama Wulan terlihat begitu akrab bahkan malah terlihat seperti ibu dan anak.


malam hari, Ryan sudah kembali ke rumah Aina yang sedang dalam proses penyelesaian.


karena Ryan tidak membuatkan rumah baru untuk istrinya itu, dia akan mengganti maharnya dengan hal lain.


Tentu saja maskawin itu nantinya bukan barang biasa, bahkan Ryan sedang memilih beberapa surat tanah dan juga menyiapkan perhiasan yang akan di berikan pada Aina.


Dan ada lagi uang juga, dia benar-benar ingin membuat istrinya itu makmur dengan semua tabungan itu.


Karena mahar itu tak sebanding dengan wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya itu kelak.


"gila bos, anda yakin mengelontorkan semua uang itu untuk mahar, bukankah anda tak bisa menggunakannya," kata Loki heran.


"tentu benar, ini bahkan tak sebanding dengan pengorbanan ayahnya yang harus membesarkan gadis secantik itu dan sebaik itu,"


"baiklah aku mengerti, tapi bukankah nanti juga anda yang harus menafkahi istri anda, kenapa tidak di berikan uang secukupnya toh yang lain juga sudah banyak,aku ingat pernikahan Bambang saja hanya dengan mahar seratus ribu," kata Loki heran.


"kamu tau Loki, mahar itu di berikan sebagai bentuk penghargaan kita terhadap istri kita, wanita yang akan hidup bersama kita dan mengabdi seumur hidupnya,bahkan mama ku saja punya mahar lebih banyak dari yang akan aku berikan pada calon istriku,"


"karena ayah anda dulu mampu, dan setahuku mahar itu harus sesuai kemampuan pihak pengantin pria,"


"seratus untuk mu Gani," jawab Ryan.


"ya Tuhan.... Mahar oh mahar ..."


Keesokan harinya, Ryan sudah dapat telpon untuk ke kantor KUA melakukan rapak untuk memastikan semua dokumen pernikahan sudah lengkap.


Ryan menelpon Aina dan siang itu Aina juga kebetulan harus jap tiga jari,jadi sekalian saja jalan bersama.


Dan membeli baju seragam untuk keluarga dan teman-teman mereka yang dkan menjadi pengiring nantinya.


Karena Ryan ingin pernikahannya ini memenuhi pernikahan impian Aina.


Pukul setengah sembilan,ryan menjemput Aina di rumah,dan pertama-tama mereka datang ke KUA untuk mengurus segalanya.


Setelah selesai,Ryan mengantarkan Aina ke sekolah dan terlihat Aina berpelukan dengan beberapa gadis yang seumuran dengan dirinya.


"Aina ini ada undangan untuk mu," kata salah satu gadis.


"ih kok kamu duluan sih, itu pun lusa loh," kaget Aina yang membaca undangan itu.


"ah iya pernikahan dengan seseorang yang penting,jadi harus secepatnya," kata gadis itu dengan suara lirih.


"apa ini perjodohan?"


Gadis itu mengangguk dan Aina hanya bisa memeluknya, dan mereka pun masuk bersama.


Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih masuk kedalam area sekolah, dan menarik gadis itu di depan semua orang.


"kamu kelamaan," bentak pria itu mengejutkan semua orang.


"aku harus antri, karena ini sesuai dengan absensi," jawab teman Aina ketakutan.

__ADS_1


"apa seperti ini anda memperlakukan calon istri anda,"kata Aina yang kaget melihat pria di depannya itu.


"mas Kevin," tambahnya terkejut.


__ADS_2