
Farid sedang mendesah karena seorang wanita cantik sedang bergerak di atasnya.
Bahkan keduanya begitu intens dalam berhubungan, dan dia semakin semangat saat me dengar suara ******* itu.
"aku keluar!!"
"kamu hebat sayang," puji wanita itu.
Farid memeluk tubuh wanita itu erat dan kembali mencumbunya, tanpa terduga tiba-tiba sesuatu memukul bokongnya.
"ya Tuhan,bangun Farid ini masih sore dan kamu mimpi apa hingga berteriak seperti itu!!" teriak Lina yang kesal memukul pria itu.
"aduh sakit, apa sih mbak ... ganggu orang tidur saja," kata Farid yang bangun karena pukulan kakaknya.
Lina kaget melihat adik kecil dari Farid yang sedang on, "pria gila, ini masih sore, dan jangan melakukan hal aneh,"
Lina pun pergi karena bisa bahaya jika dia terus di dalam sana, karena dia juga rindu belaian suaminya.
Farid pun menutupi adeknya yang sedang dalam keadaan sempurna itu, "aduh... Wanita tadi benar-benar sosok idaman ku," gumamnya.
malam harinya, Farid sudah datang menjemput Ajeng di depan gapura desa.
Dan setelah mereka bertemu mereka pun pergi dengan motor Faris menuju ke sebuah tempat.
Ajeng bingung karena dia tak familiar dengan tempat yang di tuju oleh kekasihnya itu.
__ADS_1
Ternyata mereka menuju ke sebuah saung yang ada di tengah sawah. Dan untungnya tak ada orang di sana karena di sekitarnya adalah tanaman tebu.
"mas mau apa kita ke sini?" tanya Ajeng yang kaget karena di ajak ke tempat sepi begitu.
"kita ngobrol-ngobrol saja dek, dari pada di taman bisa ketahuan ibu mu, lebih baik di sini saja bukan," jawab Farid yang ternyata punya keinginan lain.
"ya mas benar," jawab Ajeng yang melepaskan jaket yang dia kenakan
Melihat itu Farid langsung memberikan ciuman dan mulai memberikan sentuhan pada kekasihnya itu.
Meski Ajeng memiliki kulit yang sedikit gelap, tapi tubuh wanita itu tak kalah seksi.
Dan akhirnya mereka melakukan hubungan suami istri di temani suara hewan maldm di sawah itu.
Farid pun tak bisa menahannya lagi, tapi dalam bayangan pria itu yang mendesah kini tetap saja wanita siang tadi.
"pepaya," jawab bocah itu yang memang sudah lancar membaca meski masih taman kanak-kanak.
"bagus, kalau ini?" tunjuk Wulan pada sebuah gambar ayam.
"ayam bunda," jawab Ryan.
"pintar sekali sih, anaknya siapa," kata Wulan gemas pada putranya sendiri.
"anak bunda dong,"
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Wulan berdering, dan tertera nama juragan Baron di sana.
"assalamualaikum mas, ada apa?"
"wa'alaikumussalam dek, aku merindukan mu, ah rasanya tidak nyaman sekali tak bisa melihat mu dan Ryan," kata pria itu dengan suara yang terdengar begitu lesu.
"siapa bunda, ayah ya?"
"iya mas, Ryan juga merindukan mu, mau bicara dengannya?" tawar Wulan yang mengubah tampilan panggilan itu
Ryan pun langsung tampak begitu semangat saat melihat sosok juragan Baron di layar.
"halo ayah Baron!!"
"halo Ryan, apa sudah merindukan ayah, nanti minta oleh-oleh apa le?"
"apa saja, tapi yang penting ayah pulang dengan selamat itu saja, bunda selalu mendoakan ayah loh setelah kita sholat," adu bocah itu.
"benarkah?" kata juragan Baron yang tak menyangka akan hal itu.
"aduh Ryan ini ember ya, itu kan biar ayah di lindungi karena sedang bekerja, karena bunda akan sulit mencari pria gila yang sudah mencintai bunda dari lama," kata Wulan dengan malu.
"ih bunda mukanya merah," ledek Ryan yang membuat juragan Baron tersenyum sekilas.
"benarkah, aduh... Aku makin tak sabar menikahimu dek, dan menjadikan kalian bagian dari hidup ku," kata juragan Baron yang jujur juga.
__ADS_1
"hentikan mas, aku malu... Sudahlah bicara dengan Hardi, aku mau membuat susu dulu untuk Ryan," kata Wulan yang menyerahkan ponselnya pada putranya.
Karena dia tak bisa jika bicara dengan juragan Baron secara terus menerus karena bisa bahaya jika Ryan mendengarkan gombalan pria itu.