Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
berusaha dulu


__ADS_3

malam ini semua tidur dengan nyaman di ruang tengah, karena masalah klenik sudah beres.


keesokan paginya, Wulan bangun dan merasa jika perutnya sudah tak sakit lagi dan pergerakan bayinya juga normal.


"mas sudah bangun," kata Wulan yang ke dapur melihat suaminya sedang memasak nasi dan menghangatkan beberapa lauk yang masih ada.


"iya sayang, oh ya nanti malam mas ingin melakukan doa bersama dan memanggil beberapa andk yatim dan janda, apa kamu bisa menyediakan uangnya untuk santunan," kata juragan Baron yang mengecup kening istrinya itu sebagai salam selamat pagi.


"iya mas nanti aku siapkan, tapi selain itu mas butuh apalagi?"


"mungkin untuk catering dan kue semuanya aman, dan nanti ustadz Hasan yang membantu mencarikan para anak yatim dan janda,"


"baiklah mas,"


"ya sudah kamu sholat subuh dulu, biar memanggil Ryan yang masih olahraga di luar,"


Wulan pun masuk kedalam kamar, dan setelah selesai ternyata dia putrinya juga sudah bangun.


Ryan sudah membantu mengikat rambut dua adiknya. "mama, lusa kan aku harus ikut liburan ke Jatim Park Lamongan, apa aku boleh minta yang saku sedikit lebih?"


"tentu saja boleh, tapi kakak tak boleh pelit sama temannya ya, nanti mau di ikuti atau tidak?"


"tidak usah, aku sudah dewasa tak perlu mama mengikuti ku,"


"baiklah terserah kakak saja," Jawab Wulan.


Ryan pun segera sarapan bersama ayahnya, dan dua adiknya sudah bersama pengasuh.


Karena juragan Baron tak mau istrinya sudah, jadi kedua putrinya di Carikan pengasuh tentu tak sembarangan.


setelah selesai sarapan, Wulan mengantar suami dan putranya ke depan untuk berangkat.


seseorang memperhatikan gerak gerik Wulan dari atas motornya, dia tau jika Wulan ini tak akan kemana-mana karena dia cuma seorang ibu rumah tangga.


orang itu bergegas masuk kedalam rumah, setelah pak Joko mengizinkannya masuk


"assalamualaikum Bu juragan, ini ada tamu katanya saudara jauh dari juragan Baron,"


"siapa ya,"

__ADS_1


dia keluar dan kaget saat melihat ada sosok Anisa di depan pintu rumahnya.


"mbak Anissa ada apa? Mari silahkan masuk," kata Wulan mempersilahkan wanita itu masuk kedalam rumah.


"aku tak lama, aku hanya minta tolong, jangan buat baton membenci kakeknya, kamu harus tau dia itu cucu laki-laki dari Mbah kyai haji, jadi tolong sadar diri, dan seharusnya dia mendapatkan orang yang lebih baik di banding dirimu," marah Anisa.


"apa anda kesini cuma mau ngomong hal itu, lagi pula jika memang benar suamiku cucu dari pemilik pondok terbesar itu, kenapa dulu dia hidup sudah, saat kakeknya begitu bergelimang harta, pak Joko usir wanita ini keluar dari rumah ini, karena aku tak mau melihat wanita menyebalkan ini," kesal Wulan yang langsung di ikuti oleh penjaga rumah.


Sedang juragan Baron dan pak Sardi masih sibuk bongkar gabah yang semalam datang.


Dan untungnya gabah-gabah itu punya kualitas yang baik dan akan langsung di giling untuk membuka kulit ari.


Ya karena permintaan beras dari semua pelanggannya sudah masuk pagi ini, dan juga ada beberapa restoran juga.


pengilingan beras itu terus beroperasi, dan juragan Wawan memastikan tak ada masalah nantinya.


Rojak, pastikan kamu tak salah membaginya, karena beda tempat beda karung, dan untuk restoran kamu juga harus pasukan semuanya sesuai permintaan,"


"siap juragan," jawab Rojak


Di area persawahan, pak Dikin sedang mengawasi para pekerja yang sedang sibuk panen kacang tanah.


"Bekan, kamu bisa membawa semua rambak ini,"


"tentu saja," jawab bekan yang kebetulan ada di sekitar sana karena ingin melihat pekerjaan pembuatan saluran air di sekitaran sawah.


juragan Baron masih di tempat penggilingan, saat dia mendapatkan telpon dari istrinya.


Dia langsung keluar agar bisa mendengar apa yang di katakan oleh istri tercintanya itu.


"assalamualaikum sayang..."


"wa'alaikumussalam mas, mas sedang di pengilingan?" tanya Wulan dari sebrang telpon.


"iya sayang, apa ada yang penting, atau kamu merasakan sesuatu?"


"tidak mas, aku hanya mau tanya, sebaiknya nanti sore itu, santunan di kasih berapa, dan ini tadi aku juga sudah mengemas dua pack sembako juga," tanya Wulan yang tak mengurungkan niatnya untuk memberitahu tentang kedatangan Annisa.


"kan mas sudah bilang kamu tak usah lelah, jadi biarkan mas saja yang mengurusnya nanti,"

__ADS_1


" tidak lelah mas, ini juga sudah di bantu oleh Mak Yem dan yang lain juga,dan Azizah yang repot," kata Wulan tersenyum.


"ya sudah kasih seperti biasa saja, tapi uang tunai di rumah cukup kan?"


"cukup mas, kan aku jarang pakai akhir-akhir ini,"


"ya sudah, jangan sampai lelah kamu, dan ingat jaga kondisi tubuh mu,"


"inggeh suamiku," jawab Wulan.


Sedangkan di sekolah, Ryan dan seluruh teman sekelasnya sedang berunding untuk untuk acara lusa hari.


Pasalnya guru yang menjadi wali kelas mereka ini, meminta semua murid mempersiapkan bekal sendiri untuk perjalanan itu.


"nanti kita pesan nasinya di tempat tetangga ku saja, di sana nasinya enak loh, lauknya juga banyak,"usul Nella.


"aku tak setuju, sebaiknya kita pesan di rumah Luna saja, bukankah ibunya juga berjualan nasi kuning bungkus, tapi kita pesannya nasi putih dengan lauk ayam goreng dan sambal," usul Ryan yang memang pernah mencicipi masakan ibu gadis itu.


"tapi rumah Luna ini paling jauh, nanti bisa-bisa tak sampai saat kita akan berangkat," kata Della.


Tyo dan Ivan merasa aneh, toh mereka bertiga ini kan teman, kenapa sekarang malah seperti mengejek Luna.


"kenapa bingung, itu urusan ku yang akan mengambil nasi bungkus, kalian setuju atau tidak, jika tidak setuju silahkan cari tempat lain, yang setuju dengan ku, akan ikut pilihan ku di jamin semuanya beres," kata Ryan yang membuat kelasnya terpecah.


"ibu tak adil," marah Nella


"tunggu dulu, biar ibu yang menyelesaikannya, bagi yang mau ikut pilihan Ryan, silahkan berbaring di belakang Ryan, dan bagi yang mau ikut Nella pesan nasi di tempatnya silahkan baris di belakang Nella," kata ibu wali kelas tujuh A itu.


Akhirnya para siswa lebih banyak yang memilih ke arah belka, dan hanya sekitar delapan belas murid yang ikut Ryan.


"ibu mu bisa kan Luna?" tanya Ryan.


"bisa kok, tapi kamu beneran kan mau bantu ambil jika nanti aku butuh," tanya Luna memastikan.


"iya, jika kamu mau nanti biar anak buah ayah ku yang menjemput kamu dan beserta pesanan nasinya," jawab Ryan.


Akhirnya semua di putuskan, dan para murid yang pesan nasi pada Bella di kenai sepuluh ribu.


Begitupun dengan yang pesan nasi di tempat Luna, tapi Ryan tak pesan cuma delapan belas, melainkan empat puluh bungkus, tapi yang separuh nanti harus di pisah untuk makan setelah mereka puas bermain di pantai

__ADS_1


tentu saja dia mengunakan uang pribadinya, dan dia tak khawatir karena uang sakunya saja cukup untuk itu semuanya.


__ADS_2