
juragan Baron baru sampai di rumah sudah cukup siang, tapi saat dia masuk dia melihat istrinya sedang bekerja.
Tapi wanita itu sedang sibuk dengan telponnya, "halo sayang," sapa juragan baron pada istrinya itu.
Wulan bangkit dan mengecup bibir suaminya itu, "maaf sebentar ya mas," kata Wulan yang begitu fokus dengan ponselnya.
karena kesal ddn tak mau di nomor duakan, juragan Baron mengambil ponsel istrinya itu
dan langsung menyalakan loud speaker, ternyata itu telpon dari Ryan putra mereka.
"mama... Mas mau pulang..." tangis remaja itu.
"ada apa mas, kenapa menangis seperti itu,bukankah mas sudah nyaman di pondok?" tanya juragan Baron kaget.
"ayah... Barang-barang mas hilang lagi, sekarang semua barang hilang bahkan jaket yang ayah berikan saat mas masuk ke pondok pun, ada yang membakarnya..." tangis remaja itu.
Mendengar itu, juragan Baron langsung marah besar, bagaimana bisa ada yang berani mengusik anaknya seperti ini.
Padahal pondok yang menjadi tempat putranya itu Mondok termasuk dalam jajaran pondok terbaik.
"apa perlu ayah datang," tanya juragan Baron yang tak bisa tahan lagi.
"mas.." kaget Wulan mendengar jawaban suaminya itu.
__ADS_1
"ayah... Mas mau pulang," kata Ryan yang tak bisa tahan lagi.
"ayah akan menjemput mu," kata juragan Baron yang langsung bangkit dan mengambil kunci motor sport miliknya.
"tunggu dulu mas, kalau mas berangkat dalam keadaan marah seperti ini, tidak akan menyelesaikan masalah di sana, mas tadi dengarkan, aku yakin para pengurus di sana pasti sudah menyelesaikannya," kata Wulan membujuk suaminya itu.
"maaf dek, aku tak bisa tenang mendengar suara putra ku yang begitu terluka, jadi maaf dan tolong jangan halangi aku, aku tak keberatan kehilangan uang pendaftarannya, dari pada aku melihat putra ku terluka," kata juragan Baron langsung pergi begitu saja.
Wulan tak bisa menahannya lagi, ya Ryan adalah kesayangan suaminya, jadi meski harus kehilangan ratusan juta tak masalah, asalkan putranya itu baik-baik saja.
Pria itu mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi, bahkan tak lupa dia membawa helm tambahan, dan dalam hitungan jam dia sampai di pondok tempat putranya itu belajar.
Yang harusnya di tempuh setidaknya setengah hati, dan saat turun dari motor ustadz Yusuf langsung menyapa pria itu.
"apa maksudmu,aku mempercayakan putra ku padamu, dan kenapa sampai ini terjadi," kata juragan Baron yang belum mengetahui kondisi putranya.
"maaf mas, ryan tidak ada di kamarnya, dia ada di UKS," kata ustadz Yusuf.
langkah kaki pria itu berhenti, dan membalikkan badannya dengan tatapan penuh amarah.
"kenapa putra ku di klinik!!!" teriaknya dengan keras bahkan memancing semua orang santri yang sedang menafsirkan kitab menoleh.
"karena dia terluka," jawab ustadz Yusuf terkejut dan takut melihat apa yang di tunjukkan pria yang berada di depannya itu.
__ADS_1
"brengsek!!" marah juragan Baron yang langsung lari ke arah klinik milik pondok itu.
bahkan seorang perawat yang ingin menghalangi juragan Baron terkena tendangan pria itu.
Hingga perawat pria itu terpental saking kerasnya tendangan itu, dan semua orang mundur takut melihatnya.
Ternyata tak hanya Ryan, ada beberapa santri baru yang terluka cukup parah.
"mana putra ku!" marah pria itu.
"ayah...." suara panggilan lirih itu membuatnya menuju suara itu.
Langkah pelan, hingga dia melihat pemandangan yang menyayat hati, tubuhnya seakan lemah melihat kondisi putranya itu.
wajah Ryan tampak memar, dan juga ada luka di lengan atas setidaknya ada bekas jahitan cukup panjang.
Juragan Baron langsung lari ke arah putranya itu, "siapa yang melakukan ini pada mu nak?" tanya juragan Baron dengan tangis yang tak bisa terbendung lagi.
Dia tak menyangka jika putranya akan mengalami hal seburuk ini, di tempat yang dia kira aman untuk menuntut ilmu.
"ajak mas pulang ayah, mas sakit ..."
"tidak ada yang bisa melukai putra ku, tak peduli dia anak pimpinan pondok, aku akan membuatnya membayarnya," kata juragan Baron yang langsung membuat semua orang diam.
__ADS_1
Sepertinya kali ini mereka sudah mengira akan menyuap orang tua para santri, tapi mereka lupa siapa juragan Baron yang menitipkan putranya itu.