Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
jeweran maut


__ADS_3

Ryan dan Aina keluar dari kamar, Aina langsung ke dapur dan membantu Mama Wulan yang sedang menyiapkan hidangan.


gadis itu tamiak malu-malu dan berusaha dism agar tak menjadi bahan ledekan dari mama Wulan.


Melihat putranya baru keluar kamar, tiba-tiba juragan Baron mendekat, dan langsung menjewer kuping Ryan.


"Bisa-bisanya kamu melakukan hal itu di saat semua orang sibuk, kita akan kedatangan tamu," kata juragan Baron kesal.


"Maaf yah, sepertinya aku memang sudah tidak tahan lagi, saat melihatnya pulang kuliah tadi. jadi bukan salahku, bukan?" kata Ryan mencari kebenaran.


"Terserah kamu saja, kamu memang Putra yang sulit diberitahu, dasar!" kesal juragan Baron yang hampir memukul Ryan dengan kemoceng.


"peace ayah," kata Ryan menyembunyikan kepalanya agar tak kena pukul.


"jangan marah ya, dan Ayah menyerah padaku?" kata Ryan sedikit heran.


Karena dia tak merasakan apapun, dia pun melihat ayahnya.


"ya sudah, sudahlah sekarang bantu Ayah untuk membereskan bagian di depan, karena sepertinya lebih baik menjamu mereka di ruang tamu tanpa ada kursi, dan kita lesehan saja," kata juragan Baron yang berjalan ke ruang tamu.


"Ya itu memang lebih menyenangkan, karena aku juga lebih suka lesehan dibanding harus duduk di kursi, terlebih keluarga kita juga banyak," kata Ryan yang langsung membawa semua sofa itu keluar rumah.


Sedang di peternakan, Gofar sedang menunggu kedatangan dari Mantri, untuk mengecek kondisi beberapa sapi yang terlihat sedikit kurang sehat, dan sudah dipisahkan juga.


Saat tiba-tiba Dewi muncul dengan membawa rantang, dan Gadis itu tampak seperti orang yang mengendap-endap seperti tak ingin di lihat oleh orang lain.


Melihat itu Gofar sedikit penasaran, dia pun menghampiri Dewi, "Kenapa kamu datang ke sini dengan begitu, Apa kamu mau mencuri sesuatu?" tanya Gofar sedikit bercanda


"Yaa aku ke sini untuk mencurimu, Ups ... maksudnya mengantar ini, karena aku sudah salah, jadi aku ingin meminta maaf karena sudah salah sangka pada mas," kata Dewi yang malu-malu sambil menyerahkan rantang kue itu.


"Minta maaf, Kenapa? Apa kamu melakukan kesalahan padaku," tanya Gofar bingung

__ADS_1


"Ya pokoknya minta maaf saja, dan ini sedikit kue untukmu dan tolong dimakan ya, maaf karena sudah melakukan hal yang tidak benar selama ini, terlebih aku selalu cuek padamu setelah dari wisata religi,"


"Jadi, sekarang kamu mau apa? Kenapa? dan kenapa bilang begitu padaku?" pancing Gofar


"Ya Pokoknya aku minta maaf, sudah begitu saja, karena kesalahan kemarin, aku yang selalu sangka padamu, hingga membuatmu kebingungan sendirian, pokoknya itu saja," kata Dewi yang langsung pamit pulang


"Dasar gadis aneh, tapi Terima kasih, kamu telah membuatku yakin jika kamu sebenarnya punya rasa padaku," kata gofar memegangi rantang itu


Kipli keluar dari kamar mandi, dan melihat Gofar sedang memegang sesuatu.


"Wah apa itu Bos Boleh minta?" tanya Kipli yang memang sudah tau permasalahan adiknya itu.


"Tidak boleh, aku harus ke rumah orang tuaku, karena ada tamu jauh datang, Jadi kamu yang nanti urus saat pak mantri datang ya, dan pastikan mereka semua diperiksa, karena aku tidak mau ada hal yang tidak diinginkan, menimpa sapi-sapi yang tengah penggemukan badan, karena sebentar lagi Idul Adha, jadi pastikan itu," kata Gofar mewanti-wanti.


"Siap Pak Bos, serahkan padaku semua pasti lancar," kata Kipli


Gofar pun pergi menuju ke rumah juragan Baron, untuk mau ikut menyambut kedatangan dari tamu yang dimaksudkan.


Dia tadi juga sempat beli es buah pesanan dari mama Wulan dan saat sampai di sana.


"kamu bukan pemuda lemah, masak pindahin sofa segitu protes," kata Gofar dingin.


"kamu gila ya,"


"tutup mulut mu Ryan, dan lanjutkan," perintah juragan Baron.


Ryan memberikan es itu pada Raina, "terima kasih mas, ini es batunya di pisah kan?" tanya gadis itu.


"tentu dek, oh ya itu ada cookies kesukaan mu dan Raisa, jadi nanti bagi berdua ya,"


"terima kasih mas Gofar, mas memang terbaik,"kata gadis cantik yang sudah semakin besar itu

__ADS_1


"hei dasar adik penghianat ya,"


Tanpa bicara, Gofar melewati Ryan dan langsung mengangkat sofa.


bahkan meski tubuh pria itu terlihat tak lebih besar dari Ryan, tapi itu berisi otot bukan lemak.


Bahkan jika kedua pemuda itu menunjukkan tubuh mereka, akan terlihat roti sobek yang sempurna.


Dan untuk Gofar, karena kulitnya yang sawo matang malah membuatnya semakin seksi saat menunjukkan tubuhnya.


Setelah persiapan yang di lakukan, beberapa tamu datang, dan yang tak mengira adalah semua orang desa yang datang.


Ternyata ada pembahasan tentang rencana pendirian pabrik yang akan di lakukan oleh seorang pebisnis dari kota besar.


"juragan Baron tolong kami," mohon para pemilik lahan itu.


"tentu saja pak, aku akan membantu semua orang, itulah kenapa kedua putra ku juga ada di sini," kata pria itu dengan yakin.


Sedang di dapur, semua sudah sibuk,bahkan Aina sedang diam-diam makan kulit ayam goreng bersama bima.


"Aina, nduk itu ayamnya sudah selesai?" tanya mama Wulan yang melihat menantunya itu.


"sudah ma," jawab Aina yang langsung bangkit dari kursinya.


Sedang bima masih menikmati kulit ayam goreng dan sambal mangga muda itu.


"aduh bocah ini, kamu makan sambal nanti sakit perut," tegur mama Wulan.


"ini sambal mbak Aina kok," jawab bima yang membuat mama Wulan menoleh.


"maaf mama, habis aku ngiler lihat sambel mama,"

__ADS_1


"iya nduk, gak papa, ya sudah tolong bawa ayamnya ke meja,dan maha harus memotong semangkanya,"


Wanita itu tersenyum senang, karena sebentar lagi mungkin dia akan mendengar sebuah kabar baik.


__ADS_2