
Juragan Baron tak menyangka akan melihat sosok Ilmi yang begitu menyebalkan saat ini.
Dia tak menyangka gadis kecil yang dulu begitu lucu kini memiliki mulut sepedas itu, di tambah berani menghina gadis lain.
"mas masih marah?" tanya mama wulan iada suaminya itu.
"menurut mu sayang, kamu tau demi Allah aku akan marah besar dan memilih mati jika Ryan sampai menikahi Ilmi, karena aku tak sudi punya menantu tak punya adab seperti itu, terlebih mulut jahatnya itu bisa membahayakan keluarga kita," terang juragan Baron.
"aku juga tak setuju, karena aku lebih baik melihat putra ku melajang dari pada harus melihatnya menikahi gadis yang salah," kata mama Wulan juga.
Ya keduanya tak mendoakan yang buruk, tapi jika Ryan menikah dengan gadis yang salah, itu bisa memecah belah keluarga itu.
terlebih Ryan dan ketiga adiknya punya perbedaan besar, jadi jika dia tak menikah dengan wanita yang tepat, itu bisa menyengsarakan ketiga anak kandung juragan Baron.
Dan itu juga yang di takutkan oleh mama Wulan, ya bagaimana pun dia harus mencarikan gadis baik untuk putranya.
Sedang di rumah Aina, acara empat puluh harian itu berjalan lancar, bahkan pak Dikin dan semua orang kepercayaan juragan Baron datang.
Aina sempat menangis saat mendengar Ryan memimpin pembacaan tahlil.
Ya pria muda itu memang sangat pintar dalam segala hal, bahkan agama juga Ryan sangat baik.
pukul sembilan malam, semua sudah beres dan bersih, dan maldm ini Ryan dan Aina akan menginap di rumah itu beserta Bu pawoh yang baru datang bersama bima.
__ADS_1
"aduh adek ganteng mbak Aina, ada apa le," kata Aina yang memangku Bima.
"Bima angen mbak," kata bocah itu.
"baiklah, sekarang sudah sana mbak Aina, bima sudah makan?" tanya Aina dengan lembut.
"dia masih ngambek makan itu nduk, Mbah uti sudah capek membujuknya," kata Bu pawoh.
mendengar itu, Aina langsung bangun dan mengambil makan, dsn langsung menyuapi bima.
"Ayo sekarang makan sama mbak ya,"
Bima pun mengangguk dan menikmati suasana itu, tak di sangka saat rydn lewat, malah pria itu yang menerima suapan dari Aina.
"habis bima cengeng," kata Ryan tertawa sambil membawa karpet masuk
"aduh kalian berdua ini selalu saja berebut Aina, sini Mbah uti juga kangen," kata Bu pawoh yang memangku kepala Ryan yang sedang merebahkan diri karena lelah.
setelah selesai makan, bima juga melakukan hal yang sama, Bu pawoh tak menyangka jika kedua bocah ini sangat mirip satu sama lainnya.
"sehat-sehat ya le," kata bu pawoh.
mereka semua tertidur di ruang tengah rumah itu, pukul dua dini hari Ryan terbangun.
__ADS_1
Dia mendengar ada suara lirih ABG sedang menangis, dia pun melihat semua orang tapi tak menemukan Aina.
Dia bergegas bangun dan mencari gadis itu, dan Ryan kaget melihat di bawah tangga rumah itu, meringkuk sambil menagih lirih sosok Aina.
"ayah..." lirihnya dengan suara putus-putus karena terlalu sedih.
Ryan mengusap rambut Aina lembut, "dek..." panggilnya lirih.
Aina mengangkat wajahnya,dan langsung memeluk Ryan erat, "mas disini, jangan sedih,nanti mas juga ikut sedih," kata Ryan.
"ayah ..."
Akhirnya Ryan memeluk Aina dan membiarkannya menangis sampai lelah, dan malam itu untuk pertama kalinya Ryan tidak sholat malam demi menjaga Aina.
Sedang di rumah,mama Wulan merasa begitu cemas, terlebih dia takut jika Aina akan kenapa-kenapa.
Dan benar saja, saat pulang ke rumah setelah sholat subuh,Aina tak bisa membuka mata karena mata gadis itu bengkak.
"Ryan ini kenapa Aina?" tanya mama wulan memeluk Aina.
"dia semalaman nangis dan setelah capek baru ketiduran, jadi deh mata kayak di antup tawon begitu," kata Ryan yang juga mengantuk parah.
Akhirnya dia memutuskan untuk tidur dan juragan Baron menelpon sekolahan Aina dan meminta izin sakit untuk Aina agar bisa istirahat.
__ADS_1
Sedang mama Wulan terus menantu mengompres mata gadis itu agar segera baikan.