Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
tamu menyebalkan


__ADS_3

Akhirnya orang yang di tunggu pun datang, tiga mobil mewah itu masuk ke area pekarangan rumah milik juragan Baron.


Shasha juga ikut turun, karena sekarang dia sudah menjadi wanita dari Broto.


jadi dia harus ikut kemana pun pria itu pergi, ini sudah setelah Maghrib pria itu datang.


"selamat malam," kata Broto yang di sambut oleh juragan Baron dan kedua putranya.


"selamat datang, silahkan masuk, semua orang sudah menunggu," kata juragan Baron mempersilahkan.


Setelah dipersilahkan masuk, akhirnya Broto dan seluruh rombongannya juga masuk, dia terkejut melihat suasana rumah yang begitu mewah tapi juga sangat nyaman.


terlebih semuanya tertata rapi sesuai dengan tempatnya, bahkan ada banyak piagam dan piala yang di gunakan sebagai hiasan.


Sasha terkejut saat melihat dua foto berukuran besar di ruangan itu, yaitu satu foto keluarga dan satu lagi foto pernikahan dari Ryan dan Aina.


Tentu saja kedua foto itu dipajang di ruang tamu, sedang foto pernikahan dari juragan Baron sendiri, dipajang di ruang tengah keluarga.


Mereka semua duduk lesehan di ruang tamu dan terlihat ada warga yang datang bersama rombongan Broto.


Aina dan mama Wulan, dibantu oleh si kembar juga, akhirnya menyuguhkan semua makanan ringan.


Broto tersenyum saat melihat sosok Aina, dan dia tak menyangka jika Aina sudah menikah, itu pun dengan anak dari orang yang sedang menentangnya saat ini.


"Wah tak kusangka ya, temanmu adalah istri dari Anak Juragan Baron," kata Broto pada Shasha tiba-tiba.


"Iya, karena mereka sudah kenal dari kecil, dan itu juga mungkin Cinta Lama" jawab Shasha sekenanya.


"Memang apa masalahnya, apa kami mengusik Anda," Ketus dari Ryan yang mendengar ucapan pria itu.


"Sabar Mas e, Aku hanya bertanya, tapi ya istrimu itu cantik dan masih muda ya," kata juragan Broto.


Mendengar itu ingin rasanya Ryan menghajar pria itu di depan semua orang, tapi Gofar menahannya, "tenang Dek, jaga emosimu, jangan sampai kamu merugikan semua orang,"kata Gofar dengan lirih.

__ADS_1


Ryan pun mengurungkan niatnya, dan memilih duduk kembali di tempatnya, juragan Baron juga tak menyukai hal ini.


"Sudahlah, berhenti untuk membahas masalah keluarga, kami di sini ingin mengajak anda untuk kita berdiskusi tentang masalah yang terjadi,


Karena kami tidak ingin ada masalah di kedepannya," kata juragan Baron.


"alah juragan Baron, anda itu cuma ingin mengambil semua tanah itu sendiri, bukan," kata salah satu warga yang mendukung pembangunan pabrik di wilayah mereka.


"Aku tak setamak, hingga ingin menguasai tanah yang menjadi hak milik warga sekitar, kami hanya ingin membiarkan tanah itu tetap menjadi lahan persawahan, bukan lagi lahan untuk pabrik, karena aku jamin meskipun di sana didirikan pabrik, tentu warga sekitar tidak mungkin akan masuk ke dalam pabrik itu semua sebagai pegawai,"


"itu tidak mungkin karena Pak Broto sudah berjanji untuk mempekerjakan semua warga desa yang membutuhkan pekerjaan, Iya kan pak Broto ," salah satu warga.


"Tentu saja, aku akan memperkerjakan para warga yang memenuhi syarat, tapi aku tidak menjamin jika semua orang bisa masuk ke dalam pabrik itu." kata Broto yang membuat semua orang terkejut.


"Dengarkan, aku mendengarnya sendiri, karena masuk ke pabrik tidak semudah itu, kalian pikir, meskipun kalian memiliki ijazah SMA, tapi tidak memiliki keterampilan, kalian tidak akan diterima di sana." kata Ryan yang membuat semua warga yang awalnya mendukung pun terdiam.


Ucapan Ryan membungkam semua orang, tapi kami tetap setuju untuk melakukan pembangunan pabrik itu karena kami ingin Desa kami maju batas salah satu warga


Hal itu membuat Broto tak mengira Jika dia akan mengalami kesulitan seperti ini, Padahal biasanya, hanya dengan harga yang sedikit lebih mahal dari harga pasaran, akan mempermudah segalanya, tapi tidak dengan pria satu ini, bahkan pria ini tak bergeming sedikit pun.


"Wah, Kukira ini akan sangat mudah, ternyata sangat menyebalkan sekarang, tak ku sangka aku salah mencari lawan," batin Broto.


Pembicaraan itu Terdengar sangat lama dan sangat panas, terlebih Ryan juga memiliki beberapa sawah di sekitar sawah tempat yang akan dibangun pabrik itu, dan dia juga tidak ingin menjualnya, begitupun dengan Gofar.


Ya hampir enam puluh persen sawah di desa itu adalah milik keluarga dari juragan Baron, meskipun sudah dibagi-bagi pada anak-anak dan menantunya.


"Jadi ini keputusannya, kita tidak bisa mendirikan pabrik di desa Ini,"kata Broto dengan kecewa


"Silakan, anda mencari tempat lain, tapi jangan pernah menginjakkan kaki Anda ke desa kami, karena kami tidak akan pernah setuju, atas pembangunan hal ini."


"Kalau begitu, aku ingin uangku kembali, Aku tak ingin membeli sawah itu lagi yang tak berguna, jadi pada lima orang ini, kembalikan Uangnya Dan aku akan mengembalikan sawah mereka," kata Broto dengan marah.


"Kami tidak bisa mengembalikannya, karena uangnya sudah kami pakai," salah satu warga.

__ADS_1


"Aku tidak mau peduli, aku mau uang itu kembali, dan itu akan kuberikan waktu dua hari saja, untuk bisa mengembalikan uang itu. dan kita melakukan pertukaran. jika tidak aku akan bawa masalah ini ke pengadilan," kata Broto.


Mendengar itu membuat para warga yang sudah terlanjur menjual tanah pun terdiam.


"Aku yang akan membereskannya, tak perlu kau mengusik mereka lagi, dan itu menjadi urusanku," kata Ryan dengan tegas.


"Wah wah wah wah... Ternyata kamu juga orang kaya ya, tak ku sangka keluarga ini ternyata kata raya, meskipun terlihat sederhana, Ternyata kalian memiliki kekayaan yang lebih dari yang kubayangkan," kata Broto dengan tersenyum penuh arti.


"Urusanmu hanya soal tanah dan sawah, jangan membahas hal lain, ingat itu," kata Ryan yang tak ingin melihat sosok menyebalkan.


"Tentu saja, jika urusanku selesai, aku pasti akan meninggalkan Desa ini," kata Broto.


Mendengar semua itu Aina hanya bisa terdiam, dia tak menyangka jika pria yang bersama dengan sahabatnya itu Terdengar sangat mengerikan.


Tapi bagaimana bisa Shasha yang terlihat sangat pendiam selama ini, bisa terlibat dengan orang seperti itu.


Akhirnya malam itu Ryan membereskan segalanya, dia membeli lima sawah yang terlanjur dibeli oleh Broto, dengan harga yang cukup tinggi.


Dan untuk menyelesaikan, nanti akan didiskusikan lagi setelah Broto dan rombongannya pergi.


"Sebelum kalian semua meninggalkan rumah ini, kalian dipersilahkan untuk makan terlebih dahulu, karena bagi keluargaku menyambut tamu adalah hal yang utama," kata juragan Baron mempersilahkan


"Tentu saja dengan senang hati, aku bisa mencicipi masakan para wanita di keluarga Ini." kata juragan Broto tersenyum penuh arti.


Aina dan semuanya mengeluarkan nasi dan seluruh lauk pauk, Ryan mundur ke belakang.


Dia menghampiri istrinya, Aina yang tau jika Ryan mengunakan uang tabungan mereka pun hanya tersenyum saja


"tidak apa-apa mas, jangan sedih ya, kita masih punya tabungan ku, jadi mas tolong jangan sedih ya," mohon Aina.


"aku tak mau menggunakan uang mu sayang, aku minta maaf karena itu tabungan yang seharusnya kita gunakan untuk calon anak kita nantinya,"


"tak masalah, toh anaknya juga belum ada," hibur Aina.

__ADS_1


__ADS_2