
Shasha sudah tergletak lemas, dia baru saja melayani Broto dengan sangat kasar.
Bahkan pria itu seperti tak peduli dengan luka yang ada di tubuh gadis cantik itu.
"Ryan boleh aku minta izin pulang selama anda berada di luar kota, aku merindukan orang tua ku," kata Shasha memberanikan diri.
"kenapa, aku ingin membawa mu kesana, jangan bilang kamu mau lati dariku?" tanya Broto lagi.
"tentu saja tidak tuan, saya hanya ingin bertemu nenek, karena beliau yang sudah menjaga ku selama ini, sedang sakit," bohong gadis itu.
"baiklah kamu boleh pulang, tapi sebelum itu, layani aku dengan benar,"
Shasha mengangguk dan langsung naik lagi, dan Broto pun benar-benar di buat sangat hebat.
Aina sedang di dapur sedang membuat camilan, dia ingin membuat pastel isi sayur.
bahkan dia benar-benar niat, pasalnya dia sedang mempersiapkan segalanya, ya itu adalah camilan kesukaan suaminya.
bahkan Aina juga membuat yang ada di simpan didalam freezer.
Dan dia menggoreng beberapa karena adik-adiknya sedang belajar jadi dia membuatnya untuk mereka terlebih dahulu.
"nduk, nanti makan malam tak usah masak, mama sudah memesan dari restoran langganan,"
"inggeh mama," jawab Aina yang tengah mengawasi ketiga adiknya.
siang itu, Dewi datang membawa rantang untuk Gofar sedikit terlambat.
Dewi melihat salah satu pekerja yang ada di sana, "pak Tek, mas Gofarnya ada?" tanya gadis itu.
"ada di kamarnya, baik saja," jawab pria itu.
Dewi pun pamit, semua orang juga sudah tau jika Gofar ini memang membeli paket makanan dari keluarga Kipli.
Dewi sudah ada di depan kamar Gofar, dia mengetuk tapi tak ada jawaban.
Jadi dia masuk kedalam kamar itu, dan mengejutkan Gofar yang baru selesai mandi
"mas aku mengantar makan siang,"kaget Dewi.
"taruh di sana,"jawab Gofar yang memakai kaos miliknya.
Dewi pun mengangguk dan menata setiap makanan itu, tiba-tiba dia merasakan sebuah pelukan dari belakang.
"mas .... ada apa?" tanya Dewi gemetar.
"tenanglah, aku tak akan melakukan hal buruk padamu, aku ingin mengatakan jika aku mencintaimu," kata Gofar yang membisikkan itu di telinga Dewi.
__ADS_1
mendengar ucapan itu,Dewi terkejut bukan main, karena Gofar mengutarakan perasaannya.
Dia berbalik dan melihat Gofar yang menatapnya dengan dalam.
Dewi berjinjit dan langsung mencium bibir Gofar, menerima hal itu, Gofar menahan tengkuk dari Dewi dan memperdalam ciuman mereka.
Dewi memukul dada pria itu karena dia hampir sesak nafas, "kamu berlebihan mas..." kata Dewi terengah-engah.
tanpa terduga, Gofar memeluknya lagi dan keduanya pun saling berciuman, bahkan kini ciuman itu turun ke bawah dan Gofar sedang memangku Dewi dan menikmati buah semangka yang segar.
Itu membuat Dewi tak bisa berpikiran jernih, dia mengigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara.
tok.. Tok.. Tok...
Suara itu menghentikan ulah keduanya yang hampir kebablasan, dan Gofar pun menyandarkan kepalanya pada Dewi.
"ada apa?" teriak Gofar yang mengatur dirinya agar tak ketahuan.
"anu mas, ada tamu di bawah," jawab seseorang di luar
"suruh tunggu di teras biasa," jawab Gofar yang mulai tenang.
Keduanya pun melepaskan diri, dan saat akan pergi turun kebawah, tiba-tiba Gofar memberikan ciuman pada Dewi.
"tolong buatkan minum ya,"
Untungnya dia mengenakan kemeja yang longgar jadi dia tak repot, dan bisa menutupi bekas ulah dari Gofar.
Pria itu turun dan melihat ada Paiman, "ada apa lek?" tanya pria itu dengan santai.
Dewi membuat tiga minuman, karena dari CCTV, ada dua orang di sana.
"ini nger... Aku ingin meminta bantuan mu untuk memberikan pekerja pada Edi, dia ini saudara jauh ku," jawab pria itu.
"kenapa tidak di beri pekerja di kebun saja, disana kan kekurangan orang?" tanya Gofar yang duduk di depan keduanya.
Dewi turun dengan membawa nampan, dia menaruh gelas itu di meja.
Sebenarnya Dewi ini menahan keterkejutannya karena melihat pria yang kapan hari datang melamarnya ada di sana.
"kamu kan tau,di kebun jeruk tidak ada pekerjaan kalau bukan pas panen, dan kebun apel juga sudah banyak yang kerja," jawab pak paiman.
"ya sudah nanti aku tanya Ryan,karena dia yang yang sepertinya punya banyak lowongan," kata Gofar.
Tapi dia melihat Edi yang terus menatap Dewi, dia tak suka dengan itu.
"ada masalah, kenapa terus menatapnya begitu lekat?" tanya Gofar pada pria muda itu.
__ADS_1
"aku tak menyangka dia bekerja di sini, sejujurnya saya sudah melamarnya tapi dia belum menjawabnya," kata Edi yang menunduk takut pada Gofar.
Dewi pun merasa tak enak, "benar Dewi?"
"iya mas," jawab gadis itu singkat.
"kenapa tak di jawab,jangan membuat seorang pria menunggu itu tak baik," tegur Gofar.
"sejujurnya saya ingin mengatakan jika saya punya kekasih, tapi saat ingin menolaknya kemarin, dia tampak tak suka dan membentak mas Kipli," kata Dewi yang terus menunduk.
"Kipli!"
Pria itu langsung datang, dan benar saja Kipli tampak tak suka dengan Edi.
"kenapa dia disini pak bos?"
"dia ingin melamar pekerjaan, jadi sekarang jawab Dewi," kata Gofar
"aku minta maaf Edi, aku menolak lamaran mu, karena aku punya kekasih, dan kami akan menikah bulan depan," kata Dewi dengan yakin.
"aku tau itu, aku sebenarnya sudah menyukaimu dari lama,tapi kalau itu keinginan mu, aku akan menerimanya," kata pria itu yang tampak legowo dan menerima
Akhirnya pak paiman mengajak keponakannya itu pulang, dan menunggu kabar dari Gofar.
Dewi juga pamit pulang setelah membereskan gelas tadi, dan Gofar berjanji akan segera meminangnya.
Dewi pun pulang dengan semangat, dan Gofar datang ke rumah orang tuanya untuk mengajak mereka berdiskusi tentang pernikahan.
Tak lupa, dia juga membawa jagung muda yang baru panen tadi, bahkan dia membawa satu karung.
Ryan sedang berada di salah satu kita di dekat Jombang, dia sedang membahas tentang beberapa bisnis.
Saat Jul dan Seno meminum air suguhan yang di berikan, tentu tidak dengan Ryan.
Pasalnya dia tak suka kopi susu satu, dan yang membuatnya tak nyaman adalah warna dari kopi itu.
"mas Ryan kok gak minum,"
"boleh minta air kemasan saja pak,saya tak bisa minum kopi seperti ini," kata Ryan
"sebentar saya ambilkan," kata pria itu yang bangkit dari kursinya dan menuju ke dapur
Tak lama pria itu keluar dengan botol air minum,pria itu menaruh di meja, Ryan mengambil dengan tangan kiri dan membaca alfatihah di dalam hati.
Setelah membukanya, dia meniupkan udara terlebih dahulu ke minuman itu dan baru meminumnya.
Ya dia harus hati-hati karena juragan Baron mengingatkan Ryan sebelum berangkat tadi.
__ADS_1