
Ryan berdiri di depan cermin dan memastikan dandanannya tak norak kali ini.
Karena dia tak punya orang untuk mengurus bajunya, ya mau bagaimana lagi, biasanya ada Aina yang selalu protes jika Ryan mengunakan baju yang kusut.
"mas mau pinjam laptop boleh," suara Raisa masuk kedalam kamar.
"ambil dan jangan di buat mendownload hal aneh-aneh," kata Ryan yang sedang melipat lengan kemeja yang dia pakai.
"itu akan membuat kusut," kesal Raisa yang langsung membantu kakaknya itu.
"mas tau, mbak Aina bilang jika kita harus selalu melipatnya dengan sama, agar rapi dan tak kusut, dan jam tangan hitam ini akan membuat penampilan mas sempurna," kata Raisa yang membuat Ryan tersenyum.
"enaknya punya adik perempuan pengertian begini," kata Ryan.
"karena mas itu ganteng, jadi pakai apa saja bangus, sudah aku pinjam laptopnya dulu, karena Raina sudah bawa punya ayah," kata gadis itu yang bergegas pergi.
"kamu tak di sini, tapi Nama mu selalu ada di sekitar ku," lirihnya dengan senyum.
Ryan pun keluar sambil membawa tas kecil dan berpamitan pada orang tuanya.
"mau kemana kok sudah rapi, bukankah ini hari libur,"
"aku ada acara reuni bareng anak-anak ma, dan mungkin pulang sore, dan aku harus menjemput Ivan," kata Ryan yang mencium tangan mama Wulan dan tak lupa memberikan pelukan.
"hati-hati, kamu itu sering menjadi incaran para teman wanita ku, dan itu bisa menyulitkan jika kamu membuat hal aneh-aneh lagi,"
"tenang ayah, aku sekarang bisa menjaga diri kok," jawab Ryan yang pamit berangkat.
bahkan tak lupa dia sempat menganggu dua adiknya yang sedang fokus mengerjakan tugas sekolah
"mas..." tegur mama Wulan.
Ryan hanya tertawa saja dan langsung pergi menuju ke mobil miliknya.
__ADS_1
Dia pun segera menuju ke rumah Ivan, dan ternyata pria itu juga mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru.
"tunggu dulu, kenapa kita seperti ekskutif muda nyasar gini,"
"sebenarnya aku ingin menggunakan celana longgar, tapi tak pantas di g kalau mau ketemu guru,"
"ya kamu benar, sudah ayo berangkat," ajak Ivan.
"oke," jawab Ryan yang langsung masuk kedalam mobil lagi dan mulai mengemudi untuk menuju ke tempat reuni
Kali ini ini tempat reuni di pilih di sekolah, ya mereka mengunakan aula sekolah, sekaligus untuk nostalgia.
Saat mobil milik Ryan datang, semua orang langsung tau jika itu adalah Ryan putra juragan Baron karena mobilnya kinclong sendiri.
Bahkan di deret yang bawa mobil pun, semua bisa melihat meski hanya sekilas jika itu mobil mahal terlebih merek mobil sedan itu Mercedes-Benz.
"gila mobil mu kinclong sendiri bung," kata Tyo yang menyambut keduanya.
"mobil hadiah ini," jawab Ryan santai.
Bagaimana tidak, Ryan memiliki beberapa mobil, usaha hingga tabungan yang entah jumlah totalnya berapa.
"boleh kura masuk," tanya Ivan yang kesal pada Tyo.
"tentu, dan lihat siapa yang baru datang juga, Kevin dan Edo," kata Tyo yang melihat mobil jenis Avanza itu parkir.
"dasar kalian ini," kesal Edo.
"sudah tak usah marah, ayo masuk kedalam," ajak Ryan yang tak mau terlalu lama di luar ruangan karena panas.
Kelima pria itu masuk dan terdengar suara teriakan para gadis, ya mereka ini terkenal sebagai para pria tamian sekolah dulu.
"sayang .." kata Luna mengandeng lengan Tyo.
__ADS_1
"iya maaf, aku menjemput mereka tadi," kata pria itu drngdn manja
Sedang Ivan tampak masih terpaku dengan mantan kekasihnya itu, ya mau bagaimana lagi mereka dulu menjalin hubungan dari bangku SMP.
"sudah lupakan saja, toh dia juga sudah menikah," kata Ryan yan menarik temannya itu.
Mereka pun menuju ke Ayla dan terlihat banyak orang sudah sampai di sana.
Ryan pertama-tama menghampiri para mantan guru yang dulu mengajarnya.
Setelah bertegur sapa, kini Ryan menyapa yang lain, dan akhirnya kegiatan di pagi itu di mulai.
Terlihat para pria sedang berkumpul, dan tentu sambil menikmati rokoknya.
" jadi bagaimana, apa menyenangkan?"
"apa yang kamu maksud menyenangkan?"
"iya, menjadi pria yang belum menikah, bukankah begitu," saut pria itu lagi.
"kamu mengajukan pertanyaan ini untuk siapa, kamu tau di sini bukan hanya aku yang belum nikah, tapi hampir separuh orang di ruangan ini juga belum nikah," ketus Ryan.
"ya tapi semua orang mengatakan jika kamu pasti akan menikah duluan,"
"itu hanya tebakan, karena bagiku mencari istri itu harus menemukan pasangan yang sempurna,"
Tak lama, seorang wanita mendekat, "apa aku bisa mengajak mu ngobrol sebentar Ryan,"
"jika kamu perlu, ngomong di sini karena aku tak menyukai keintiman dengan wanita berpakaian bahan kurang dan juga bukan mahram ku," jawab Ryan tegas.
"apa kamu yakin, padahal aku ingin meminta mu untuk mempertimbangkan diriku, karena aku seorang wanita cantik, dan punya usaha, dan yang pasti masih singel,"
"tidak usah, lebih baik fokus pada usaha mu dan jangan membuat orang kesal lagi," kata Ryan ketus.
__ADS_1
Semua pun perlahan mikir dua kali sebelum di permalukan oleh pria itu, tak lama pria itu pun memilih duduk santai sambil merokok.
terlihat seorang guru datang dengan mengajak seorang gadis, dan itu adalah guru matematikanya dulu beserta Ilmi yang terlihat sangat baik dan cantik.