Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
persiapan


__ADS_3

Seharian itu semua orang benar-benar beristirahat dengan cukup, karena mereka ini kecapekan setelah acara kemarin lalu.


seperti pagi ini, setelah istirahat selama seharian penuh, akhir semuanya kembali untuk melakukan aktifitasnya.


Tak terkecuali dengan putra dari juragan baron dan juga Wulan, ya pagi ini Ryan di jemput oleh pak Yadi.


Wulan tadi sudah bilang jika memang akan ada acara imunisasi di sekolah, dan bocah itu sudah tampak khawatir.


"sudah tak usah takut, ibu yakin kok jika mas ini kuat," kata Wulan pada putranya itu.


"tapi ma, Ryan takut kan sakit," rengek bocah itu


"tapi ini demi kesehatan mas Ryan, apa mau nanti adiknya ikut ketularan sakit saat lahir karena mas Ryan tak mau imunisasi," kata Wulan yang bingung cara membujuk putranya itu.


"baiklah aku mengerti ma, tapi nanti mama ke sana ya, jemput Ryan," mohon bocah itu


"iya nanti mama dan ayah akan datang," kata Wulan yang tak bisa menolak permintaan putranya.


Dia juga sudah izin pada wali kelas Ryan jika agar boleh mengizinkan Ryan pulang setelah melakukan imunisasi.


Dan untungnya wali kelasnya baik jadi bocah itu di izinkan pulang, tak berhenti di sana dia juga akan membawakan apapun kesukaan putranya itu.


"sayang bukankah semua ini berlebihan?" tanya juragan Baron.


"berlebihan ya mas, jika kamu ingat bagaimana Ryan ketakutan karena rasa trauma, ya begitu dia saat kesakitan, dia akan mulai gemetar dan menangis hebat jika perasaan panik menyerangnya," kata Wulan yang membuat juragan Baron diam.


Dia pun seperti mengingat kembali semuanya,jadi dia langsung mengemudikan mobil menuju ke sekolah putranya itu.


Dan untungnya belum bagian dari Ryan yang mendapatkan tindakan, juragan Baron langsung masuk dan memeluk putranya itu.


terlihat pria itu sangat menyayangi putra sambungnya, setelah itu guru dan kepala sekolah mengizinkan Ryan di ajak pulang.


Sebenarnya semua murid akan di pulangkan pagi, tapi karena Ryan ini punya rasa trauma jadi dia di izinkan duluan.


"sekarang kita mau kemana?" tanya juragan Baron pada putranya itu.


"mau jalan-jalan ke tempat yang kemarin mama lihat di Facebook," kata Ryan.


"kita ke sumber biru mas, dia sana ada cafe di atas Sungai, yang dari fotonya dih Bagus banget," kata Wulan.


"siap nyonya," jawab juragan Baron.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun menuju ke tempat itu, dan sesampainya di sana setelah satu jam empat puluh menit perjalanan.


belum lagi jalan yang berkelok-kelok, ya namanya juga pegunungan, di tambah juragan Baron salah bawa mobil.


Ya seharusnya dia bawa Jeep tapi ini malah bawa sedan, tapi untung mobil itu tak mengalami masalah.


Sesampainya di tempat itu mereka langsung menuju ke area yang di maksud restoran di atas sungai.


saat melewati bebatuan pun, juragan Baron sangat menjaga istri dan anaknya karena takut mereka jatuh


"jadi mau pesan apa?" tanya Wulan saat di sodorkan menu oleh pemilik warung.


"aku coklat panas, dan mie pakai dasar dan sayur," kata Ryan.


"tidak boleh makan mie dulu, makan ayam crispy atau ayam goreng saja ya," kata Wulan.


"oke, ayam goreng dengan telur dadar kuah kecap,"


"samain aja dek, tapi aku kopi pahit,"kata juragan Baron.


"mbak pesan itu tapi tolong telur dadar tidak usah di kasih bawang atau cabai, buat kuah saja bawang dan cabainya," kata Wulan.


"baik mbak, berarti nasi ayam telur kuah kecap tiga, coklat panas tiga, air mental dua dan kopi hitam pahit satu," kata pelayan itu.


sambil menunggu pesanan mereka datang, juragan Baron mengajak istri dan anaknya berfoto beberapa kali dan menjadikannya status di WhatsApp miliknya.


Andika yang melihat itu ikut merasa senang, karena Wulan bisa tersenyum lebar lagi setelah terakhir kali mereka bertemu.


Ya dia dulu sempat bertemu Wulan sast masih menjadi istri dari Farhan, bahkan wanita itu tampak kusam, tak mengurus diri dan juga cukup kurus.


Bahkan semua orang bilang jika Wulan sangat buruk setelah menikah dengan suaminya.


Awalnya Andika tak percaya karena saat dia berpapasan Wulan selalu tampak ceria dan bilang jika dia bahagia.


Tapi ternyata dia menyaksikan hal yang tak terduga, yaitu Andika yang berselingkuh dengan wanita lain di belakang istrinya.


Dia memergoki pria itu sendiri, dan saat Andika ingin memastikan pada Wulan, ternyata wanita itu sudah hampir meninggal dunia karena melahirkan anak pertamanya.


"kamu sudah bahagia sekarang, lihat wanita akan cantik saat berada di tangan pria yang tepat," kata Andika bergumam.


Dia pun menutup foto-foto itu, dia tau jika perasaan yang dia miliki pada Wulan tak akan mungkin terbalas, karena wanita itu sudah memiliki tambatan hatinya.

__ADS_1


"pa..."


Suara kecil Aina yang memanggil ayahnya dengan manja, gadis itu tertawa melihat Andika.


Ya dia tak boleh menyerah karena sekarang dua punya anak yang harus dia urus.


ini adalah hadiah terakhir yang di berikan oleh istrinya sebelum meninggal dunia.


"iya anak papa yang cantik, mau apa?" tanya pria itu dengan lembut.


Aina tak bisa bilang tapi dia mengambil bungkus nugget yang ada di dapur, "ni,"


"owh mau beli nugget, ya sudah ayo kita berangkat," kata Andika yang langsung menggendong anaknya itu.


mereka pun menuju ke toko Frozen food Milik Wulan dan di sana Andika membebaskan putrinya mengambil apapun.


Ya dia sekarang cuma hidup berdua dengan Aina, dia sudah tak punya orang tua juga jadi semuanya serba berdua.


Saat sedang memilih beberapa jenis sosis, tak sengaja Ajeng di tabrak oleh bocah kecil itu.


"ah sayang kamu tidak apa-apa," tanya Ajeng ramah.


"maaf Ajeng putri ku selalu semangat kaku kesini, sedang belanja?" tanya Andika ramah.


"Ita nih,sedang belanja buat catering, ya karna di sini harganya miring, dan dapat diskon teman dan saudara lagi," kata Ajeng tertawa.


"maksudnya?"


"ini toko milik Wulan di bangunkan oleh suaminya, jadi bisa sebesar ini, dulu mah boro-boro besar, hanya di depan rumah saja tokonya," kata Ajeng.


"wah memang beda ya juragan baron ini punya banyak uang,sendirian saja?" tanya Andika


"iya nih, suamiku sedang fokus menyelesaikan borongan proyek di desa, dan setelah itu mungkin aku akan pindah ikut suamiku juga," kata Ajeng.


"wah mau ikut pindah kemana nih, sepertinya jauh," tanya Andika penasaran.


"ke desa Sumbergelis," jawab Ajeng.


"lah iya itu desa ku juga, aduh aku lupa jika kamu itu istri Andi ya, ya kita sian jadi tetangga, nanti sekali-kali mampir ya jerunah ku, karena banyak pohon buah," kata Andika menawarkan.


"hak mau ah, kamu duda nanti di kira aku ganjen mau goda duda ini lagi," kata Ajeng tertawa sebelum pergi.

__ADS_1


Andika juga tak tersinggung karena dia memang sudah yang sering di goda para gadis bahkan ibu-ibu, tapi semua itu tak berarti apapun.


__ADS_2