
Beberapa saat kemudian, Jingga keluar gubuk lalu berputar ke belakang, ia melihat halaman belakang cukup luas dengan banyak pohon bambu di sekitarnya.
Terpikir olehnya sebuah ide untuk membuat bale bambu seperti yang pernah dibuatnya waktu berlatih di hutan Bambu Merah.
"Tempat yang sangat sesuai untuk tidur, he he" gumamnya terkekeh, setelah memperhatikan area di sekitarnya, ia lalu memangkas beberapa batang bambu dan mulai merakitnya membuat bale bambu.
Alam Jiwa
Bai Niu tersadar dari tidurnya, ia begitu kebingungan berada di ruang yang begitu gelap.
"Tempat apa ini?" Tanya gumamnya merasa sedikit takut.
"Kak Jingga!" Teriaknya memanggil kakaknya.
Ketiga orang lainnya yang berada tidak jauh darinya langsung berdiri dan menoleh ke arah suara.
"Niu'er!" Panggil ketiganya berbarengan.
Bai Niu begitu senang, ia langsung berkelebat ke arah suara ketiganya.
"Kalian sejak kapan ada di sini?, Apakah kalian tahu kita berada di mana?" Dua pertanyaan diajukannya.
"Kami tidak tahu sudah berapa lama berada di sini dan kami juga tidak tahu sedang berada di mana" jawab Qianfan.
Mendengar suara obrolan dari para pemuda, membuat Jirex yang sedang bermain-main dengan beberapa beast monster langsung menghampiri keempatnya.
Roarr!
Jirex berderam dengan langkah kakinya yang terdengar menyeramkan.
Qianfan dan ketiga gadis langsung merinding mendengarnya.
"Kak, itu apa?" Tanya Qianmei langsung memeluk kakaknya.
"Sepertinya beast monster" jawab Qianfan mendekap adiknya.
"Jirex!" Panggil Bai Niu yang sudah mengenalnya.
Jirex langsung menundukkan kepalanya lalu mendenguskan napasnya. Matanya yang bersinar kemerahan membuat keempat pemuda begitu gemetar melihatnya.
Jingga yang sedang membuat bale bambu merasakan sesuatu terjadi di alam jiwanya.
"Jirex, jangan mengganggu keempat temanku, pergilah!" Pinta Jingga yang kedua tangannya masih terus sibuk merakit bambu.
Jirex langsung berlalu pergi meninggalkan keempatnya.
"Niu'er, kau mengenal beast monster aneh itu?" Tanya Qianfan.
"Ya, itu Jirex beast monsternya Kak Jingga" jawab Bai Niu.
***
Tampak Jingga telah selesai membuat bale bambu hasil kreasinya.
__ADS_1
"Selesai" ucapnya begitu puas dengan hasilnya.
Jingga langsung duduk di atasnya lalu menarik keluar keempat adiknya.
Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!
Keempat adiknya berjatuhan ke tanah dengan cukup keras.
Jingga terkekeh melihat keempatnya lalu membaringkan diri di bale bambu.
Qianfan yang langsung berdiri membantu ketiga adiknya, lalu keempatnya melangkah ke arah bale bambu di mana ada seorang pemuda yang sedang berbaring di atasnya.
Jingga berpura-pura tertidur tidak melihat keempatnya.
Bai Niu yang begitu kesal langsung menindih Jingga dan mencengkeram wajahnya yang masih berpura-pura tertidur.
"Bangun, Kakak jelek!" Ucap Bai Niu lalu ikut berbaring di samping Jingga.
"Kalian berempat dari mana saja?, Kok aku tidak diajak?" Tanya Jingga yang langsung duduk sambil terkekeh.
Ketiga adiknya hanya menggelengkan kepala menanggapinya lalu duduk di dekatnya.
"Kakak Jelek, kita ada di mana sekarang?" Tanya Bai Niu yang masih berbaring.
"Kerajaan Sheshe" jawab Jingga.
"Suasana di sini seperti berada di rumah Ayah dan Ibu" sambung Qianmei mengingatnya.
Qianfan menganggukinya, sedangkan Du Zhia hanya diam saja tidak memahaminya.
"Fan'er, selamat kau berhasil menerobos ranah Master Emas, di masa depan kau akan menjadi seorang legenda kultivasi alam fana bersama Naninu. Adik cantikku, kau juga hebat sudah berada di ranah Master Perak" puji Jingga kepada dua adiknya, ia lalu beralih menatap Du Zhia.
"Kau juga Zhia'er, selamat karena sudah menerobos ranah Ahli Emas, terus berusaha untuk meningkatkannya lagi" ucap Jingga begitu senang dengan peningkatan ketiga adiknya.
"Terima kasih, Kak Jingga" balas ketiganya.
"Kalau aku bagaimana Kak?" Tanya Bai Niu langsung duduk dari pembaringannya.
Jingga menyipitkan matanya melihat Bai Niu.
"Menyedihkan" jawab Jingga sambil menggelengkan kepalanya merasa iba.
"Nyebelin!" Timpal Bai Niu lalu menjambak rambut kakaknya.
Dari arah lainnya, Nenek Sashuang dengan tongkatnya menghampiri kelima pemuda yang sedang bercanda di bale bambu.
Dug! Dug! Dug!
"Siapa yang menyuruhmu membuat bale bambu jelek ini?" Bentaknya sambil memukuli Jingga.
"Nenek peot, kenapa Nenek memukuli Kakakku?" Geram Bai Niu memprotesnya lalu menahan tongkat si nenek.
"Siapa kau gadis jelek?" Tanya nenek Sashuang langsung menarik tongkatnya yang ditahan oleh Bai Niu, ia kemudian memukuli Bai Niu yang terus menangkisnya.
__ADS_1
"Aduh, sakit!" Jerit Bai Niu merasa kesakitan.
Jingga mengedipkan sebelah matanya ke arah Bai Niu yang terus menangkis pukulan si nenek.
Nenek Sashuang terlihat begitu puas memukuli kedua pemuda itu.
Ketiga pemuda lainnya terperangah dengan aksi si nenek yang terus memukuli keduanya tanpa bisa melakukan apa pun.
"Huh! Pemuda kurang ajar!" Dengus nenek Sashuang langsung berbalik pergi meninggalkan kelimanya.
"Dasar nenek gila!" Rutuk Bai Niu langsung mengalirkan energi spiritualnya meredakan rasa sakit di tangannya.
Nenek Sashuang langsung berbalik menghampirinya.
"Ucapkan sekali lagi" pinta nenek Sashuang sambil memutar tongkatnya bersiap untuk memukuli Bai Niu.
Jingga langsung mendekap Bai Niu untuk melindunginya.
"Nenek gadis tercantik di kerajaan Sheshe" ucap Jingga merayunya.
Nenek Sashuang tersenyum mendengarnya lalu mengedipkan sebelah matanya dan mengerutkan bibirnya mengecup Jingga. Setelahnya ia berbalik kembali memasuki gubuknya.
Jingga dan keempatnya langsung menghempaskan napas lega.
"Kenapa Kakak diam saja dipukuli Nenek gila itu?" Tanya Bai Niu masih merasa kesal.
"Stt! Jangan memanggilnya seperti itu, aku tidak melawannya karena tidak meminta izinnya membuat bale bambu ini" jawab Jingga begitu pelan sambil menyentuh bibir adiknya dengan jari manisnya.
"Kalian anak gila, kemarilah!" Teriak nenek Sashuang dari dalam rumahnya.
"Ayo" ajak Jingga langsung berjalan ke arah gubuk diikuti keempat adiknya.
Tampak terlihat banyak hidangan makanan yang begitu menggugah selera telah dihidangkan oleh nenek Sashuang.
"Silakan dimakan" pinta nenek Sashuang langsung berbalik ke kamarnya mengambil sesuatu.
Keempat pemuda langsung duduk mengambil makanan, Jingga masih berdiri tidak ikut duduk bersama keempat adiknya.
"Pemuda jelek" panggil si nenek langsung melemparkan arak ke arah Jingga yang dengan sigap menangkapnya.
"Itu arak Zuishen yang legendaris, hanya ada satu di semesta ini, isinya tidak akan pernah habis" ucap nenek Sashuang langsung berbalik ke arah dapur.
"Terima kasih, Nek" timpal Jingga langsung menenggaknya.
"Ah, arak yang sangat enak" ucapnya begitu senang.
Setelah keempatnya selesai makan, Jingga mengajak keempatnya kembali ke bale bambu.
Ia langsung menceritakan kisahnya tentang pertarungan sengit bersama adiknya Bai Niu sampai akhirnya ia memutuskan pergi ke kerajaan Sheshe.
"Kak Jingga, apa rencana kita selanjutnya?" Tanya Qianfan setelah Jingga menyelesaikan ceritanya.
"Aku mendengar sedikit informasi tentang kerajaan Emolian yang menjadi pemimpin aliansi Bintang Selatan. Sebelum kita menuju ke sana, aku merasa kerajaan Sheshe menyimpan banyak rahasia yang harus kita ungkap, beberapa hari ini kita akan mencari informasinya" jawab Jingga menyampaikan rencananya.
__ADS_1
"Aku pernah mendengar dari pejabat di kerajaanku, kerajaan Sheshe merupakan kerajaan para penyihir, sebaiknya kita berhati-hati" timpal Qianfan mengingatkannya.
Jingga kembali membuka petanya, ia bersama Qianfan mendiskusikan rencana selanjutnya dalam misinya memporak-porandakan aliansi Bintang Selatan.