Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Dimensi Telur


__ADS_3


Sementara itu di bawahnya, Ratu Jinnie menyilangkan kedua tangan sambil mendongak memperhatikan laju terbang Jingga dengan mimik wajah menyebalkan.


Jauh di atas langit, Jingga menghentikan laju terbangnya lalu memindai semua area di bawahnya. 


“Bagaimana, Kak?” tanya Bai Niu.


“Seperti yang aku duga, alam ini merupakan alam buatan. Aku akan mencoba menghancurkan dinding array yang menyelimuti langit,” kata Jingga menjawabnya. 


Jingga lalu mengangkat tangan kanan dengan posisi telapak tangan menghadap langit. Sebuah bola api keluar dari telapak tangan dan langsung membesar dengan sangat cepat.


“Kak, tahan!” pinta Qianmei.


“Ada apa, Memimu?” tanya Jingga yang langsung menghentikan aliran energi.


“I–ini dimensi Telur,” jawab Qianmei yang mengetahuinya melalui peninggalan Dewa Iblis.


“Dimensi Telur, …, maksudnya?”


“Dimensi yang akan semakin kuat jika diserang dengan energi. Baik itu energi Dewa maupun energi Iblis.”


“Lalu, kita harus bagaimana?” 


“Aku sedang mencarinya dari ingatan Dewa Iblis. Sebaiknya, Kakak buatkan perisai pelindung untuk kita.”


Jingga mengangguk memahaminya, ia lalu menciptakan perisai yang menutupi ketiganya di atas langit. 


“Kak, bukankah Dewa Iblis berasal dari semesta yang berbeda? Mengapa bisa tahu dimensi ini?” tanya Bai Niu memikirkannya.


“Entahlah, sebaiknya kita diam dulu. Biarkan, Memimu nanti yang akan menjawabnya,” kata Jingga.


Cukup lama, Qianmei memindai pengetahuan dari ingatan Dewa Iblis. Namun, ia masih belum menemukan cara keluar dari dimensi Telur. Jingga sendiri tengah sibuk memikirkan alasan mengapa Ratu Kalandiva mengasingkannya ke alam Sutera. Begitu pun dengan Bai Niu yang sedari tadi terus memikirkan perihal yang ditanyakannya kepada Jingga.


Ketika sedang fokus-fokusnya ketiga kakak beradik dalam kesibukan pikiran masing-masing. Seberkas energi berkelebat mengitari langit alam Sutera di lapisan terluar dimensi Telur. Jingga menyeringai sambil terus memperhatikannya.


“Sepertinya dewi fortuna ada di pihak kita. Memimu, kamu tidak perlu mencari jalan keluar dari dimensi Telur ini.”


“Kalian berdua, tunggulah di sini! Aku akan berkamuflase mengikutinya,” imbuh Jingga lalu berubah menjadi udara tak kasat mata meninggalkan kedua adiknya.


Ia melesak mengikuti energi yang terus melaju cepat di lapisan terluar yang menjadi sekat pembatas antara Jingga dengan seberkas energi yang diikutinya. Untung tidak dapat ditolak, seberkas energi yang melaju cepat pun berhenti dengan sendirinya lalu menampakkan diri. Kini terlihat oleh Jingga, sosok pria tua yang memiliki janggut panjang berwarna putih tengah berdiri sambil menyipitkan mata memperhatikan alam Sutera di bawahnya.


“Mana mungkin aku salah melihat cahaya merah keemasan yang tercipta dari energi iblis tadi,” gumam pria tua meyakinkan diri dari cahaya yang tidak sengaja dilihatnya.


Tidak lama kemudian, datang dua orang pria berbaju zirah menghampiri pria tua.

__ADS_1


“Dewa Alam Sutera, Anda diminta datang ke istana Langit,” ujar salah satu pria berbaju zirah.


Pria tua itu hanya mengangguk saja tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Ia pun mengikuti kedua pria berbaju zirah yang membawanya terbang sampai tidak terlihat lagi oleh Jingga yang memperhatikannya.


“Sialan! Aku kira akan mendapatkan sesuatu yang berharga untuk keluar dari alam ini,” keluh Jingga sedikit kecewa.


Ia lalu kembali melayang menghampiri kedua adiknya. Bai Niu dan Qianmei yang melihat kedatangan Jingga langsung memahami kekecewaan yang terukir dari raut wajah sang kakak.


“Sudahlah, Kak. Kita cari cara lain saja,” ucap Bai Niu menenangkan hati Jingga.


“Kenapa kita tidak kembali ke Danau Biru? Bukankah portal dimensi ada di sana?” sambung Qianmei mengingatkan.


Jingga dan Bai Niu saling melirik dengan mimik wajah bahagia. Keduanya lalu mengangguk dan tanpa menundanya, mereka pun langsung melesak terbang ke arah pohon besar yang menjadi portal masuk ke dalam hutan.


Tap, tap.


Jingga dan kedua adiknya sampai di depan pohon besar. Namun, belum juga ketiganya akan memasuki portal, puluhan siluman langsung mengepungnya.


“Kalian dilarang membuka portal dimensi!” tegas seorang siluman rubah menyilangkan tombak di depan ketiganya.


DUAR!


Tanpa ampun, Bai Niu langsung menebas kepala siluman rubah dengan pedang Jianshandian yang dikeluarkannya.


Tiba-tiba saja, tanah bergetar keras. Para siluman yang mengepung langsung melarikan diri. Jingga bersama Bai Niu dan Qianmei saling mengerutkan kening tidak memahami apa yang terjadi dengan alam Sutera yang tiba-tiba mengalami gempa besar.


“Kak Niu’er, pedangmu,” ucap Qianmei melihat pedang Jianshandian terus mengeluarkan kilatan petir.


Bai Niu mengangkat pedang lalu memperhatikannya dengan saksama. Ia merasa heran dengan pedangnya yang terus mengeluarkan kilatan petir lalu mencoba menarik energi petir agar tidak terus memancarkan kilat pada bagian bilahnya. 


“Kenapa aku tidak bisa mengendalikannya?” Bai Niu mulai panik.


JIngga yang memperhatikannya langsung menarik Bai Niu ke alam jiwa. Benar saja, setelah memasuki alam jiwa, suasana di alam Sutera kembali normal.


“Memimu, apa dimensi Telur ini akan bereaksi dengan pancaran energi?” tanya Jingga ingin mengetahuinya lebih banyak.


“Betul, Kak. Tapi, dari mana Kakak memiliki inisiatif memasukkan kak Niu’er ke alam jiwa untuk menormalkan kembali alam Sutera?” tanya balik Qianmei.


“Ha-ha-ha, kamu ini. Getaran keras mulai terjadi ketika Jianshandian memancarkan energi. Jadi, aku coba saja menarik masuk Naninu agar tidak ada lagi energi yang memancar di sini.”


Qianmei tertunduk merasa malu sendiri mendengarnya, ia tak seharusnya menanyakan hal bodoh seperti itu. 


“Sudahlah, tidak perlu seperti itu. Ini bukan masalah serius. Lebih baik kita cari pembuka portal dimensi pada pohon besar ini,” imbuh Jingga tidak mempermasalahkan.


Belum juga Jingga mulai mencarinya, ia tiba-tiba saja membuat perisai pelindung.

__ADS_1


“Ada apa, Kak?” tanya Qianmei heran.


“Dewa Tua itu kembali datang, dia sedang sibuk mencari keberadaan kita dari atas langit,” jawab Jingga.


“Menakjubkan! Penglihatan Kakak sangat hebat, bisa melihat dari jarak yang begitu jauh.” Qianmei memujinya.


Jingga tersenyum mendengarnya. Namun tidak berlangsung lama, ia semakin serius memperhatikan area langit di atasnya. Terlihat dengan jelas oleh mata kepalanya, ribuan pasukan istana langit terlihat seperti gelombang tsunami yang datang di belakang pria tua.


“Ha-ha-ha! Kita akan dibuat repot olehnya.”


“Apa yang terjadi, Kak?” 


“Dewa Tua itu tidak datang sendiri, dia membawa banyak pasukan istana Langit dalam jumlah yang sangat banyak.”


“Bahaya, Kak. Kita tidak bisa menggunakan energi spiritual untuk melawan mereka semua di alam ini.” Qianmei kembali mengingatkan.


Jingga terkekeh gembira mendengarnya. Maklum saja, selama ini ia kesulitan mendapatkan lawan yang sebanding dengan dirinya. Menurutnya, bertarung tanpa menggunakan energi iblis bukanlah suatu masalah untuknya. Yang penting bisa memuaskan dahaga bertarung, itu sudah lebih dari cukup.


“Kita adalah murid Pendekar Bayangan. Apa kamu sudah lupa?”’


“Betul juga, ha-ha-ha. Ayo, Kak!”


“Santai saja! Aku ingin tahu bagaimana cara mereka memasuki alam ini.”


Di atas langit, Dewa Alam Sutera terlihat mengeluarkan sebuah artefak dari cincin spasialnya. Seberkas cahaya biru memancar dari artefak lalu melapisi lapisan perisai tak kasat mata yang kemudian menciptakan lubang besar yang menjadi jalan memasuki dimensi Telur (Alam Sutera).


“Lihatlah cahaya biru di atas sana, itu jalan mereka memasuki alam ini,” kata Jingga memberi tahu Qianmei sambil menunjuknya.


“Titik biru itu ya, Kak. Aku bisa melihatnya,” balas Qianmei.


“Naninu, bagaimana dengan pedangmu?” tanya Jingga.


“Sudah terkendali, Kak. Ada apa?” jawab Bai Niu dari alam jiwa.


“Keluarlah! Kita akan bersenang-senang.”


Bai Niu pun keluar dari alam jiwa dan langsung menyapu semua tempat untuk mengetahui maksud dari perkataan Jingga.


“Kak, aku tidak melihat ada yang menarik di sekitar sini.” 


“Lihatnya ke atas!” potong Qianmei sambil menunjuk langit.


“Wow, banyak sekali pasukan yang datang!” seru Bai Niu begitu takjub melihat kedatangan pasukan istana Langit yang terlihat memenuhi langit.


Kedatangan pasukan istana Langit membuat suasana Alam Sutera menjadi gelap gulita. Jingga dan kedua adiknya tampak begitu bersemangat menantikan pertarungan yang akan berlangsung tanpa menggunakan energi spiritual.

__ADS_1


__ADS_2