
Jingga diam mempertimbangkannya, ia lalu melirik Aruna.
"Apa kau akan membiarkan dia ikut bertarung memperebutkanmu?" Tanya Jingga meminta pendapat.
"Tidak usah, dia jelek. Tidak pantas mendapatkanku"
Landak yang mendengarnya menjadi geram, tangannya terkepal erat lalu menghempaskan napasnya menenangkan diri.
"Aruna, aku memang jelek, tapi aku anak saudagar kaya. Kau akan hidup bergelimang harta bersamaku" ucap Landak mencoba menawarkannya.
"Hem! Tapi dengan syarat, kau tidak boleh menyentuhku sampai anak dalam kandunganku lahir. Bagaimana?"
"Baik, kalau syaratnya hanya itu aku setuju" balas Landak menyetujuinya.
Jingga memberikannya golok, keempat pendekar Angin berjalan tergopoh-gopoh dengan tenaga yang tersisa mengambil posisi.
"Aku tidak akan memberikan aturan kepada kalian, kalian bebas menggunakan cara apa pun untuk memenangkan pertarungan. Hanya satu orang dari kalian yang berhasil bertahan hidup yang akan memenangkan pertarungan" ujar Jingga menatap keempatnya yang langsung mengangguk.
"Mulai!" Imbuh Jingga memberikan instruksi.
Keempat pendekar langsung saling menyerang secara acak. Tidak ada yang ingin saling mengalah, keinginan untuk hidup membuat keempatnya mengabaikan stamina yang terkuras habis.
Dengan sisa tenaga yang ada, keempatnya berusaha keras untuk memenangkan pertarungan hidup mati.
Trang! Trang!
Dentuman peraduan logam terus menggema di udara. Berbagai jurus terus ditunjukkan oleh keempat pendekar yang memiliki kecepatan tinggi.
Jingga mengalihkan perhatiannya, bola matanya terus berputar menyapu sekelilingnya.
"Sepertinya ini kesempatanku untuk membantai klan Serigala" gumam Jingga yang memperhatikan semua orang berfokus pada pertarungan.
"Langkah bayangan"
Ia lalu berkelebat meninggalkan area pertarungan menuju ke dalam kediaman dewi Serigala.
Bugh! Bugh!
Beberapa penjaga yang terlihat olehnya langsung dipukulinya sampai mati. Tidak ada kesulitan berarti yang ditemui oleh Jingga di dalam kediaman dewi Serigala.
Lebih dari lima puluh pendekar klan Serigala yang tewas tanpa sempat memberikan perlawanan. Jingga dengan jurus langkah bayangannya terlihat seperti angin hitam yang terus melesat ke arah para pendekar klan Serigala yang notabene merupakan para penjaga kediaman dewi Serigala.
Selesai membantai para pendekar klan Serigala di dalam, Jingga kembali berkelebat ke arah rumah-rumah para pendekar klan Serigala. Satu persatu rumah dihampirinya, Jingga tidak mempedulikan siapa pun orang yang dibunuhnya, baik pria maupun wanita dibantai habis olehnya. Namun Jingga memberi pengecualian pada anak-anak kecil berusia di bawah lima belas tahun.
Hanya dalam hitungan menit Jingga membatai habis semua pendekar di atas bukit Serigala menyisakan tangisan pilu dari anak-anak di dalam rumah. Jingga pun kembali ke area eksekusi melihat hasil pertarungan dari keempat pendekar Angin.
Terlihat olehnya tinggal dua pendekar yang masih berusaha saling bunuh. Keduanya adalah Landak dan Damean yang sudah tidak lagi menggenggam senjata. Keduanya bergulat di tanah saling pukul.
__ADS_1
Dari arah lainnya, dewi Serigala menatap heran Jingga yang baru kembali setelah pergi beberapa menit yang lalu. Ia mencurigainya, namun ia tidak tahu apa yang sudah dilakukan Jingga selama beberapa menit yang lalu itu.
Jingga yang berdiri di area eksesuki memikirkan sebuah ide untuk mengerjai dewi Serigala, ia tersenyum licik lalu berkelebat ke arah keberadaan dewi Serigala.
Wuzz!
Jingga menghampiri dewi Serigala lalu berdiri di sebelahnya.
"Nyonya, berapa jumlah anggota klan Serigala di bukit ini?" Tanya Jingga ingin tahu.
"Apa maksudmu bertanya begitu?" Tanya balik dewi Serigala semakin curiga.
"Tidak apa-apa, aku tadi mengunjungi setiap rumah yang berada di bukit. Tapi aku lupa menghitungnya" jawab Jingga tanpa menolehnya.
Dewi Serigala mengerutkan kening mendengarnya, ia mulai khawatir terjadi sesuatu pada pengikutnya.
"Kau, apa yang kau lakukan pada anak buahku?" Tanya dewi Serigala sambil mencengkram kerah leher Jingga.
"Apa Nyonya mau menciumku?"
"Kurang ajar, kau bocah tengik!"
Jingga tersenyum simpul menanggapi bentakannya, ia lalu meremas dua bongkahan belakang milik dewi Serigala.
Plak!
"Bajingan mesum!" Murka dewi Serigala menamparnya.
Plak! Plak! Plak!
Dewi Serigala menamparnya berkali-kali dengan keras, semua pendekar yang sedang asyik menonton pertarungan langsung teralihkan oleh keributan yang terjadi antara dewi Serigala dengan pemuda yang akan dieksekusinya.
Dewi Serigala yang sangat geram langsung mencekik leher Jingga, namun Jingga masih saja tersenyum nakal menatap dewi Serigala.
"Semakin marah Nyonya terlihat semakin cantik, wajah Nyonya menjadi merona seperti sedang menikmati surgawi denganku" ujar Jingga menggodanya.
Bugh!
Dewi Serigala menghantam pusaka Jingga dengan lututnya. Jingga berpura-pura meringis menahan sakit di bawahnya.
"Apa Nyonya menginginkannya?" Kata Jingga kembali menatapnya dengan nakal.
Panas wajah dewi Serigala mendengarnya, entah apa lagi yang bisa ia lakukan pada pemuda yang terus saja menggodanya.
"Muach"
Jingga mengecup bibir tipis dewi Serigala yang sedang melamun.
__ADS_1
Kesal karena dilecehkan, dewi Serigala menggigit leher Jingga dengan kuat.
"Nyonya, jangan di sini. Lihatlah semua pendekar melihat kita. Apa Nyonya tidak malu dilihat mereka?" Ujar Jingga sambil mengusapi kepala dewi Serigala.
Semua pendekar yang melihat adegan keduanya menjadi terperangah. Hancur sudah wibawa dewi Serigala yang menjadi ketua agung di dunia persilatan khususnya di pulau Emas.
Dewi Serigala menangis tersedu, ia tidak berani menunjukkan wajahnya kepada para pendekar yang menatapnya dengan pandangan merendahkan. Dewi Serigala yang dikenal sebagai sosok yang berwibawa dan menjadi magnet para pendekar pria yang memujanya, sekarang tidak ubahnya seorang wanita rendahan.
Satu persatu para pendekar berbalik pergi meninggalkan bukit Serigala.
Di area pertarungan, Landak yang memenangkan pertarungan akhirnya memilih untuk bunuh diri. Para tetua dari berbagai perguruan silat yang berada di barisan klan Serigala terlihat kecewa lalu semuanya pergi tanpa berpamitan kepada sang dewi.
Suasana yang ramai menjadi sepi, dewi Serigala yang daritadi membenamkan wajahnya di dada Jingga akhirnya bisa melepaskan diri.
"Kau telah menghancurkan semua impianku, aku harus membunuhmu" cecarnya dengan raut wajah yang sangat membenci Jingga.
"Ha ha ha, inilah yang aku inginkan. Kita bisa bertarung dengan puas tanpa adanya drama"
"Tunggu dulu Nyonya! Sebelum bertarung denganmu, aku harus membunuh dua Kakek aneh yang daritadi memperhatikanku" imbuh Jingga lalu berkelebat ke area kosong.
"Keluarlah cecunguk!" Pekik Jingga dengan lantang.
Tap! Tap!
Dua pendekar tua muncul tiba-tiba di depan Jingga, keduanya terkekeh memuji kejelian Jingga yang mengetahui keberadaan keduanya.
Keduanya terlihat mirip, Jingga menyeringai memperhatikan kedua pendekar tua yang berasal dari benua Matahari, keduanya bermata sipit dan berkulit putih kekuningan. Keduanya terlihat seperti seorang kultivator, namun di masa sekarang, keduanya lebih cocok disebut pendekar sihir.
"Kau sangat mengagumkan pendekar muda, aku sampai tidak bisa melihat tingkat lingkar energi Qi dari tubuhmu. Bagaimana kau bisa sehebat itu dalam membunuh semua pendekar klan Serigala?" Puji seorang kakek yang pipinya cekung dan kedua matanya menjorok ke dalam baru menemui pendekar yang tidak bisa diketahui tingkatannya.
"Karena aku spesial, sebaiknya kalian dua kakek keriput yang hidupnya hanya menunggu ajal tidak membuat Nyonya Serigala bosan menungguku" jawab Jingga mulai memprovokasi keduanya.
"Ha ha ha, aku suka lagakmu yang congkak" potong kakek satunya yang memiliki kumis pada ujung bibirnya, persis terlihat seperti ikan lele.
"Kalian mau bertarung atau mengajakku berbincang?" Tanya Jingga.
"Ha ha ha, kau tidak sabaran rupanya. Supaya adil, biar Adikku sendiri yang akan melawanmu. Kau jangan membuatku kecewa, bocah!" Ujar kakek pipi cekung yang langsung menghilang dari hadapan Jingga.
Jingga dan kakek tua berkumis lele saling bertatap dan menyeringai sinis merendahkan.
"Kakek lele, sebelum memulai, aku ingin tahu kau berasal dari kekaisaran mana di benua Matahari?" Tanya Jingga yang penasaran.
"Ha ha, kau tahu juga benua Matahari. Aku berasal dari kota Luyan kekaisaran Xiao" jawab kakek berkumis lele.
"Wah! Apa klan Tang masih ada sampai saat ini?" Sambung tanya Jingga yang berbinar matanya.
Kakek tua berkumis lele terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Apa urusanmu dengan klan keluargaku?" Tanya balik kakek berkumis lele.
"Ha ha ha, aku tidak akan mengatakannya padamu. Yang aku tahu, klan Tang merupakan klan terhormat di kekaisaran Xiao. Kakek busuk sepertimu beraninya mencoreng nama besar klan Tang. Jadi aku akan mengirimmu ke neraka" kekeh Jingga balas menatapnya dengan tajam.