Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Nenek Sashuang Bertingkah


__ADS_3

Qianfan langsung menatap atap bambu. Ia mengingat kembali tentang pengintaiannya berburu informasi seperti yang biasa dilakukannya bersama Jingga.


"Sedikit rumit menceritakannya, tapi pada intinya aku merasa ada bangsa iblis yang terlibat dalam kekacauan yang terjadi di tiga kekaisaran.


Awalnya aku ingin kembali ke kekaisaran Xiao untuk memastikannya, namun ketidakhadiran Kak Jingga membuatku terpaksa menundanya.


Bagaimana kalau kita kembali ke hutan Bambu Merah, mungkin Ayah dan Ibu mengetahuinya" ujar Qianfan sama saja dengan Bai Niu yang minim informasi.


"Bilang saja kau akan meminta restu Ayah dan Ibu untuk pernikahanmu" ucap Jingga mengetahui maksud adiknya.


"Ha ha ha, aku sungguh tidak bisa menyembunyikan apa pun darimu, lalu bagaimana denganmu? Apa kau akan membawa kekasihmu menemui Ayah dan Ibu kita?" Balas Qianfan menanyakannya.


Jingga diam saja tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku ingin bertemu dengan orangtua angkatmu" ucap Xian Hou di dalam batinnya.


Jingga begitu senang mendengar suara istrinya. Ia langsung tersenyum menatap Qianfan karena bisa menjawabnya.


"Ya, aku akan memperkenalkannya kepada Ayah dan Ibu" jawab Jingga begitu yakin.


Keempat adiknya kembali terperangah dengan jawaban kakaknya Jingga. Mereka berempat begitu penasaran dengan reaksi ayah dan ibunya di hutan Bambu Merah.


"Baiklah, kita akan langsung ke hutan bambu Merah sekarang" imbuh Jingga langsung membuat portal dimensi ke hutan bambu Merah.


Kelimanya langsung memasuki portal. Berada di bale bambu hutan Bambu Merah, Jingga tidak melihat keberadaan orangtuanya.


"Kemana Ayah dan Ibu?" Tanya Jingga sambil memindai keberadaan orangtuanya di sekeliling hutan Bambu Merah.


"Kak!" Panggil Bai Niu tidak merasakan aura keberadaan orangtuanya.


"Sepertinya Ayah dan Ibu sedang keluar, kita tunggu saja di sini sembil bernostalgia" ucap Jingga lalu merebahkan badannya.


Tak lama Zhen Lie dan Luo Xiang datang menghampiri anak-anaknya.


"Ayah! Ibu!" Panggil Qianmei dan Bai Niu langsung berlari memeluk kedua orangtuanya.


"Kalian berada di sini, apakah misinya sudah selesai?" Tanya Zhen Lie berbasa-basi.


"Belum, tapi aku punya misi pribadi di sini" jawab Qianfan dengan senyuman yang membuat Luo Xiang langsung melirik seorang gadis cantik yang baru dilihatnya.


"Siapa Nona cantik yang menempel di sampingmu Fan'er?" Tanya Luo Xiang mendelik ke arahnya.


"Dia calon istriku, Bu" jawab Qianfan.

__ADS_1


"Jadi maksud ucapanmu tadi adalah untuk menikahinya" potong Zhen Lie terlihat begitu senang.


"Bukan hanya aku saja yang akan menikah, Kak Jingga juga" timpal Qianfan langsung melirik Jingga yang berpura-pura tidur tidak mendengarnya.


"Anak nakal! Jangan berpura-pura tidak mendengar pembicaraan kami" tegur Luo Xiang langsung menepuk kaki Jingga yang menjulur ke bawah.


Jingga langsung terbangun dengan cengengesan menatap ibunya.


"Ibu terlihat awet muda dan semakin cantik, tapi aku tidak mau menikahi Ibu" celetuknya menggoda ibunya.


"Heh, kurang ajar! Enak saja kau mengatakan itu kepada istriku" ucap Zhen Lie memarahinya.


Semuanya langsung tertawa dengan bercandaan keduanya.


"Sudah! Sudah! Sekarang katakan kepada Ibu, Mei'er atau Niu'er yang akan kau nikahi? Atau jangan-jangan keduanya" potong Luo Xiang langsung ke intinya.


Jingga menggaruk kepalanya merasa aneh ditanya ibunya.


"Ibu, bukan kami yang akan dinikahi Kak Jingga" ucap Bai Niu lalu membisikinya.


"Apa! Bagaimana mungkin Jingga memiliki hubungan dengan seorang Nenek-Nenek?" Kaget Luo Xiang langsung menatap Jingga dengan tajam.


Beberapa saat kemudian, Xian Hou langsung muncul dengan wujud nenek Sashuang.


"Kenapa? Tidak boleh memangnya gadis secantikku menikah dengan lelaki tampan pujaanku?" Tanya nenek Sashuang menatap genit Jingga yang menepuk keningnya melihat kelakuan istrinya.


Semua orang terperangah melihat keduanya yang begitu mesra dan menggelikan.


Luo Xiang tidak tahan melihat keduanya lalu menarik tangan suaminya pergi ke arah bilik rumahnya.


"Suamiku, apakah Jingga terkena sihir Nenek tua itu? Bisakah kau memeriksanya?" Pinta Luo Xiang mencurigai nenek Sashuang.


"Aku daritadi sudah mencobanya, tapi kau tahu sendiri, Jingga adalah seorang iblis dengan kemampuan di atas kita. Menurutku mungkin ada kelainan dari diri Jingga yang menyukai wanita tua" jawab Zhen Lie memperkirakannya.


"Itu tidak mungkin, aku tahu Jingga sangat menyukai Mei'er. Bagaimana bisa ia sampai berbelok begitu jauh" kilah Luo Xiang tidak habis pikir.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Zhen Lie merasa geli kalau harus menikahkan anaknya dengan seorang nenek tua.


"Aku akan berbicara dari hati ke hati dengan Jingga" jawab Luo Xiang lalu melangkah kembali ke bale bambu.


Jingga dan nenek Sashuang terlihat sangat mesra duduk berpelukan di bale bambu dengan keempat adiknya yang sama sekali tidak bersuara karena pemandangan menggelikan yang dilihat keempatnya.


"Jingga, bolehkah Ibu berbicara sebentar denganmu?" Tanya Luo Xiang.

__ADS_1


"Tidak boleh tanpa seizin dariku" ketus nenek Sashuang menahan suaminya.


"Sayang, tidak apa-apa, aku akan kembali sebentar lagi" ucap Jingga memintanya.


"Aku ikut" balas nenek Sashuang membuat semua orang yang melihatnya ingin menendangnya ke langit.


Bai Niu bahkan langsung membenturkan kepalanya ke batang bambu, ia merasa Jingga sudah menjadi gila.


"Niu'er, tenanglah" ucap Zhen Lie berusaha menenangkannya.


Bai Niu langsung meluruh memeluk ayahnya lalu menangis seketika.


Jingga dan Luo Xiang berjalan ke arah luar hutan bambu merah diikuti oleh nenek Sashuang yang terus melingkarkan tangannya di lengan Jingga.


"Nenek, bisakah kita bicara berdua?" Tanya Luo Xiang mengalihkan niatnya.


"Katakan saja, tapi aku tidak mau jauh dengan suamiku" jawab nenek Sashuang begitu ketus.


"Ya sudah kalau begitu, kita sebagai sesama wanita tentu tahu dengan perasaan kita. Tidakkah Nenek tahu kedua gadis itu begitu mencintainya? aku tidak melarang kalian berhubungan, tapi kita tidak boleh egois menyakiti hati orang lain." Ujar Luo Xiang menyampaikan maksudnya.


"Aku mengerti, kau pasti akan menikahkan suamiku dengan kedua gadis itu. Maaf saja aku tidak menerimanya" balas nenek Sashuang.


Luo Xiang langsung menghela napas mendengarnya. Ia lalu menggelengkan kepala dan berbalik pergi meninggalkan keduanya.


"Sayang, kenapa kau bicara seperti itu? Lihatlah, Ibuku begitu kecewa denganku" ucap Jingga menanyakannya.


"Karena aku tidak bisa diduakan" jawab nenek Sashuang menatap tajam suaminya.


Jingga langsung memeluknya dan meminta maaf kepadanya.


"Ya sudah, sekarang bisakah kau kembali ke wujud aslimu, keluargaku pasti akan menerima dirimu" ujar Jingga memintanya.


"Baiklah, tapi nanti setelah aku berada bersama keluargamu" balas nenek Sashuang.


Jingga langsung berjalan menarik tangan istrinya, namun nenek Sashuang tidak beranjak dari tempatnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Jingga melirik istrinya.


"Pangku aku sayang, aku pegal harus membungkuk terus" ucap nenek Sashuang begitu manja.


Jingga langsung memangku tubuhnya dan membawanya kembali ke bale bambu.


Semua keluarganya langsung menunduk tidak ingin melihat keduanya yang terlihat begitu menggelikan.

__ADS_1


"Kenapa kalian menundukkan wajah kalian? Apakah karena istriku tidak cantik? Sepertinya ada yang salah dengan penglihatan kalian" seloroh Jingga menanyakannya.


"Maaf Jingga, tapi sejujurnya kami merasa geli melihat-" ucap Zhen Lie terputus.


__ADS_2