
Tiga minggu kemudian, keempat pemuda sudah berada di perbatasan kota Luyan ibukota kekaisaran Xiao.
Jingga memperhatikan kota yang terlihat begitu padat dan istana kekaisaran yang begitu besar dan megah.
Kemegahan kota Luyan tidak membuatnya senang, raut wajahnya terlihat begitu kecewa, Jingga duduk di atas batu pada area paling tinggi di suatu bukit yang menjadi batas area perkotaan.
"Kenapa wajahmu terlihat kecewa?" Tanya Qianfan memperhatikannya.
Jingga menoleh ke arahnya lalu memaksakan seutas senyum dari bibirnya.
"Bukan kota ini yang menjadi tujuanku, aku salah menyebutkannya padamu" jawab Jingga sedikit tidak enak hati mengatakannya.
"Lalu, kota apa yang kau maksud?" Tanya Qianfan melanjutkan.
"Kota Lintang, kedua orangtuaku tinggal di sana" jawab Jingga dengan entengnya.
Bai Niu yang mendengarkan percakapan keduanya langsung terkejut mendengar perkataan Jingga.
"Apa?, Sudah sejauh ini Kakak bilang salah tujuan" tanya Bai Niu memotong percakapan keduanya.
"Sudah, tidak apa-apa, kota Lintang tidak begitu jauh dari kota Luyan, hanya membutuhkan waktu seminggu untuk mencapainya" timpal Qianfan tidak ingin keduanya berdebat.
"Kenapa harus seminggu, aku bisa langsung membawa kalian dengan cepat" sambung Jingga lalu membuatkan portal dimensi, namun terhalang oleh sesuatu.
"Sepertinya Ayah dan Ibuku memasang dinding formasi di hutan Bambu Merah" gumam Jingga yang tidak bisa langsung membuka portal ke hutan Bambu Merah.
Jingga membuat lagi portal dimensi ke hutan di luar hutan Bambu Merah.
"Ayo kita masuk" ajak Jingga yang berjalan duluan memasuki portal dimensi diikuti ketiga temannya.
Jingga mengerutkan keningnya memperhatikan hutan yang berubah menjadi area padang rumput yang begitu luas.
"Ternyata rumor itu benar adanya, hutan ini telah dibakar habis oleh sekte Api Abadi" gumamnya lalu menatap gunung Juanmi yang sekarang terlihat begitu indah dari yang dulu pernah dikunjunginya.
"Sebaiknya kita berjalan ke arah gunung di sana" ucap Jingga mengajak ketiga temannya.
Jingga lalu memimpin jalan menaiki area kaki gunung Juanmi.
Siuu!
Siuu!
Dua berkas energi pedang menyambar keempat pemuda yang sedang berjalan menanjak, Jingga melambaikan tangannya menangkis energi pedang yang langsung terlempar ke arah tebing gunung Juanmi.
Dhuar!
Dhuar!
Area tebing gunung langsung berlubang terkena berkas energi.
"Ha ha ha, kau semakin hebat anakku" ucap Zhen Lie melayang turun menghampiri Jingga bersama istrinya Luo Xiang.
"Ayah! Ibu!" Seru Jingga lalu menghampiri kedua orangtuanya.
Keduanya memeluk Jingga dengan erat lalu melepaskan pelukannya setelah melihat ketiga pemuda lain yang berdiri memperhatikannya.
"Siapa ketiga pemuda itu?" Tanya Luo Xiang melirik ketiganya.
"Mereka teman-temanku, Ibu" jawab Jingga lalu meminta ketiga temannya memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Dari kedua nona cantik ini, yang mana kekasihmu Jingga?" Tanya Luo Xiang ingin tahu.
Jingga hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya saja karena tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya.
Zhen Lie yang melihat ketiga temannya Jingga merasa tidak nyaman dengan pertanyaan istrinya Luo Xiang langsung berkata
"Sudahlah, jangan membuat mereka menjadi serba salah dengan pertanyaanmu itu, lebih baik kita menjamunya di rumah".
Zhen Lie lalu membuka segel dinding formasi yang dibuatnya.
Jingga dan ketiga temannya mengikuti kedua orangtua memasuki area hutan yang sepenuhnya ditumbuhi oleh bambu berwarna kuning kemerahan.
Melihat sebuah bale bambu buatannya, Jingga langsung menghampirinya lalu duduk di atasnya.
"Ayah, Ibu, untuk apa kalian merubah bale ini?" Tanya Jingga yang melihat ukuran bale bambu semakin lebar.
"Kau tahu setelah kepergianmu, kami setiap harinya menempati bale bambu ini, bahkan tidak jarang kami menempatinya untuk tidur, akan tetapi karena bale bambu buatanmu begitu kecil, kami langsung merubahnya" jawab Zhen Lie menjelaskan.
Qianfan, Qianmei dan Bai Niu terus saja terdiam memperhatikan ketiganya bercengkrama, di hati dan pikiran ketiganya begitu heran dengan kedua orangtua Jingga yang tidak memiliki sedikit pun adanya kemiripan.
Berulang kali ketiganya melirik Jingga dan kedua orangtuanya dengan sangat detail dari atas sampai bawah, namun tetap tidak ditemukan kemiripan apa pun.
"Jangan-jangan, Kakak Jingga terkena kutukan dari apa yang pernah dilakukan oleh orangtuanya" Pikir Bai Niu memperkirakan.
Pemikiran yang sama pun dipikirkan oleh kakak beradik yang memperhatikan ketiganya.
Jingga menyadari apa yang dipikirkan oleh ketiganya.
"Hei, aku tahu apa yang sedang kalian pikirkan tentangku, kalian pasti berpikir kenapa aku berbeda dari kedua orangtuaku" Tegur Jingga kepada ketiganya.
Ketiganya mengangguk lalu tertunduk tidak nyaman diperhatikan oleh kedua orangtua Jingga yang selalu tersenyum kepada ketiganya.
"Kalian tidak perlu merasa heran dengan kami, Jingga adalah murid yang sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri" ujar Luo Xiang menjelaskannya.
"Maafkan kami, Bibi dan Paman" balas Qianfan menjura diikuti oleh Qianmei dan Bai Niu.
Jingga lalu menceritakan kisah perjalanannya sampai bertemu dengan ketiga temannya dan menjelaskan maksud kedatangannya kepada Ayah dan Ibunya.
"Baiklah, kami akan menerima Niu'er menjadi murid kami" ucap Zhen Lie menyetujui permintaan anaknya Jingga.
"Paman dan Bibi, bolehkan aku dan adikku menjadi murid kalian?" Pinta Qianfan.
"Kalian sudah menjadi kultivator, bahkan dirimu sudah berada di ranah Ahli Emas yang sebentar lagi akan menembus ranah Master Perunggu" balas Zhen Lie lalu melirik istrinya Luo Xiang.
"Aku tidak masalah dengan itu, setidaknya kita bisa berbagi pengalaman, meningkatkan kemampuan dan menjadi orangtua kepada keduanya, jadi aku akan menerimanya" ucap Luo Xiang menyetujuinya.
Zhen Lie memahami maksud istrinya lalu mengangguk setuju.
"Baik, kalian bertiga kami terima menjadi murid kami" ucap Zhen Lie setuju menerima keduanya.
"Terima kasih guru" timpal ketiganya lalu bersujud kepada kedua gurunya.
Esok harinya ketiga pemuda mulai menjalankan pelatihannya, sama seperti waktu Jingga berlatih, ketiganya harus merakit bambu dan memanggulnya mengelilingi hutan bambu dari matahari terbit sampai matahari terbenam.
Jingga yang menjadi senior ketiganya begitu santai duduk di bale bambu mengawasi ketiganya.
Namun hanya satu orang yang selalu diperhatikannya, ia adalah Qianmei.
Kedua suami istri yang terus memperhatikan keempat pemuda dari bilik rumahnya terlihat begitu senang.
__ADS_1
"Suamiku, sepertinya gadis bernama Qianmei adalah kekasih Jingga, lihatlah tatapan matanya hanya tertuju pada gadis itu" ucap Luo Xiang.
"Ha ha ha, sepertinya kau benar" balas Zhen Lie yang juga memperhatikannya.
"Suamiku, apakah kau percaya dengan cerita Jingga kemarin?" Sambung Luo Xiang menanyakannya.
"Aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya, aku penasaran energi aneh yang ada di tubuhnya, apakah kau merasakannya juga?" Jawab Zhen Lie balik bertanya.
"Iya, aku merasakannya dengan sangat jelas, tapi aku gagal melihat ranah kultivasinya, sepertinya Jingga berada di jalur berbeda dalam kultivasi, kita masih mengingat Jingga tidak memiliki dentian untuk berkultivasi seperti kita" jawab Luo Xiang mengingatnya.
"Ya, tapi energi dalam tubuhnya menjawab dirinya sebagai seorang kultivator, tapi aku takut mengungkapkan kebenarannya" imbuh Zhen Lie.
"Apa maksudmu suamiku?" Tanya kembali Luo Xiang.
"Selama ini aku mencari jawaban soal aura yang ada di tubuh Jingga sewaktu masih berlatih, awalnya aku berpikir dia merupakan seorang dewa, tapi jawaban yang aku temukan adalah dia seorang iblis" jawab Zhen Lie.
Luo Xiang menggelengkan kepala tidak mempercayai ucapan suaminya.
"Aku tidak peduli siapa pun dia sebenarnya, aku hanya tahu Jingga adalah putraku" imbuh Luo Xiang pada keyakinannya.
"Aku pun begitu" timpal Zhen Lie menyetujui ucapan istrinya.
Senja hari ketiga pemuda telah selesai menjalankan pelatihan dasar. Terlihat Bai Niu yang paling menderita karena ia masih belum berkultivasi.
Luo Xiang membimbing langsung Bai Niu dalam berkultivasi, sedangkan Zhen Lie yang menjadi mentor pelatihan Qianfan dan Qianmei.
Sebulan kemudian, ketiga pemuda terlihat menunjukkan peningkatan yang sudah semakin baik dalam pelatihannya.
"Ayah, apakah sama sepertiku yang harus membutuhkan waktu setahun dalam pelatihan?" Tanya Jingga.
"Ayah rasa, ketiganya lebih cepat dari pada dirimu beberapa tahun silam, tapi untuk Niu'er mungkin membutuhkan waktu sedikit lebih lama, tingkat kultivasinya masih sangat rendah" jawab Zhen Lie setelah sebulan melihat perkembangan ketiga muridnya.
"Kenapa kau menanyakan itu?" Tanya Zhen Lie melanjutkan.
"Aku akan keluar melanjutkan pengembaraanku, aku titipkan ketiganya kepada Ayah dan Ibu" jawab Jingga menyampaikan maksudnya.
"Baiklah, ayah kira tidak kurang dari tiga tahun ketiganya akan menjadi pendekar yang sesuai harapan ayah, kau bisa kembali ke sini untuk menjemputnya" balas Zhen Lie menerimanya.
"Terima kasih, Ayah" timpal Jingga.
Jingga lalu mengeluarkan banyak sumberdaya untuk ketiga temannya dalam berlatih, ia langsung memberikannya kepada ayahnya Zhen Lie.
"Banyak sekali sumberdaya yang kau miliki, apakah kau tidak memerlukannya?" Tanya Zhen Lie setelah menerima sumberdaya yang diberikan Jingga kepadanya.
Jingga menggelengkan kepalanya tidak memberikan alasannya.
"Sebelum kau pergi, ada yang ingin ayah tanyakan kepadamu, selama ini ayah mencari kebenaran soal jati dirimu yang sebenarnya, tetapi jawaban yang ayah dapatkan membuat ayah begitu takut pada kebenarannya, tapi apa pun dirimu sebenarnya. Ayah dan ibu akan selalu menjadi orangtua yang menyayangimu" ucap Zhen Lie mengemukakan maksudnya.
Jingga menghembuskan napas, mengetahui maksud perkataan ayahnya.
"Terima kasih Ayah, aku akan jujur kepada Ayah dan Ibu, aku seorang iblis" ucap jingga yang membuat ayah dan ibunya tersentak karena apa yang menjadi jawabannya memang benar adanya.
"Ayah dan Ibu tidak perlu takut, aku berbeda dengan bangsa iblis lainnya, aku hanya akan memakan jiwa kultivator jahat, tentunya ayah dan ibu bisa mempercayaiku" ujar Jingga menjelaskan.
Zhen Lie dan Luo Xiang merasa lega dengan apa uang dikatakan Jingga kepadanya.
"Baiklah, sekarang aku pamit kepada kalian, titip Qianmei untukku" sambung Jingga.
Zhen Lie dan Luo Xiang langsung mengerutkan kening mendengar perkataan Jingga yang hanya menyebutkan Qianmei saja.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Niu'er dan Qianfan?" Tanya Luo Xiang.
"He he, mereka juga" jawab Jingga terkekeh. Tak lama, Jingga langsung menghilang dari keduanya.